Daer Ardian.
Apa kabar . . . ? 1 tahun ya sdh berlalu . . . 
Saat kita sama2 menyaksikan CGM di singkawang . . .
Kesan anda . . . sama dengan kesan saya . . . saat melihat yang gigit anjing 
tsb . . .
Yang . . . mohon maaf . . . sangat2 memuakan dan menjijikan.

Perayaan CGM di Pontianak tidak dilarang . . .
Namun memang sengaja tidak dilaksanakan . . .
Sikap pemda tk I dan toleransi pemkot Pontianak sangat2 dihargai . . .
Hal ini semua untuk lebih memfokuskan perayaan CGM di Singkawang.
Dengan demikian wisatawan akan terfokus pada satu daerah kunjungan di 
singkawang . . .
Untuk melihat dan menyaksikan perayaan CGM tsb.

Salam hormat untuk keluarga.


Pa' Dhe.
Yogyakarta.




________________________________
Dari: ardian_c <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 12 Februari, 2009 13:00:14
Topik: [Singkawang] Re: Makan Binatang


sorry neh, aye bukan org Singkawang tapi mau cerita satu kejadian
waktu aye ke Singkawang taon kemaren ngeliat capgome disana.

Waktu itu saya sama bbrp temen khusus meliat Capgome disana, dan waktu
parade pertama ada org Dayak kalu gak salah yg lagi gigit anjing di
depan panggung.
kebetulan, waktu itu saya sama Ronnie Pinsler (org bule )deket
panggung itu, nah itu org Dayak (?) yg katanya namanya Panglima Samson
lagi asik gigit binatang, ngeliat temen saya itu bisa berteriak:HI
BROTHER bla bla bla ngobrol pake bahasa Inggris malah sebut2 Holywood
segala macem, dipoto beraksi segala.

Dari ngeliat gini sih rasanya bukan lagi kondisi trance.
Bisa jadi itu tjoema sekedar atraksi doang.
Sorry kalu keliatannya ikut campur urusan Capgome di Singkawang ini.

Sebenernya aye mau tanya satu hal aja, apa bener di Pontianak itu
Imlek dilarang lagi ? kalu boleh, ada yg bisa kasih photonya gak ?
Trims berat.

--- In singkaw...@yahoogro ups.com, eugenia wu <eugeni...@. ..> wrote:
>
> Dear Edhylius_Sean,
> 
> Salam Persatuan dan Kedamaian ya….
> Langsung ke topik aja ya,
> Iya Pak tanpa mengurangi rasa hormat saya, kita langsung masuk topik
aja :)
>  
> Kita bicara soal keunikan Cap Gomeh, otomatis 'sense of the event'
adalah hal-hal yang menyangkut apa adanya dari event itu. Banyaknya
intervense (atas dasar apa saja), dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan
keunikannya perayaannya. Maksud saya, itu adalah turunan nenok moyang
kita, sudah diakui pemerintah (maksudnya=sudah lolos sensor), dan
sudah dijadikan event pariwisata, biarkanlah berlangsung apa adanya.
> >>
> Sebenarnya yang Bapak Edhylius maksudkan lolos sensor adalah
perayaan Cgm tersebut, tetapi bukan atraksi makan binatang hidupnya
tersebut, buktinya pada tahun kemarin masih ada himbauan untuk tidak
melakukan aksi memakan binatang hidup lagi didepan umum, dan karena
himbauan tersebut maka Alhamdullilah, Puji Tuhan, Kan Hsie Fo Cu aksi
tersebut menjadi berkurang, dari situ kita bisa mengambil suatu
kesimpulan bahwa aksi memakan binatang hidup tersebut sebenarnya bisa
dihindari dan para Roh2 pun bersedia mendengarkan (saya tidak tahu
apakah Roh-nya atau Manusia yg tubuhnya dirasuki tsb yg mendengar
sehingga aksi tersebut menjadi berkurang. 
> Dan seingat saya, sewaktu kecil disaat menyaksikan atraksi Tatung,
saya tidak melihat atraksi tersebut, ntah kapan dimulainya saya lupa,
akhirnya atraksi memakan binatang hidup tersebut mulai ada, dan
tradisi itu menjadi ngetrend sampai sekarang (sungguh tidak ingin
memakai kata ngetrend untuk hal ini). 
> Kembali ke pembicaraan Dewa atau Roh, saya yakin seyakin yakinnya,
bahwa apabila itu adalah Roh Dewa Dewi yang benar (sesuai dg Agama dan
Kepercayaan) , maka mereka tidak akan melakukan hal tersebut. 
> 
> Toh, selama perayaan, cuma beberapa yg terkorbankan dan setahun sekali.
> >> 
> apapun itu dan berapapun jumlahnya tetap saja disebut korban yang
tentunya tdk seirama dgn konteks roh atau dewa yg berhati baik kalau
roh / dewa meminta korban apa itu bener2 roh / dewa yg masuk ketubuhnya?
> Nah bagaimana dg kejadian 2 tahun yang lalu, disaat ada bbrp Tatung
yang terluka, mengapa banyak yang protes kenapa panitia tidak
memberikan perhatiannya? Nah apakah kita boleh berkata, "toh hanya
bbrp saja yg terluka dan hanya setahun sekali"? itukan untuk
kepentingan Cgm juga kan?
> Kita sama-sama adalah mahkluk hidup yang bernyawa, yang punya
perasaan takut saat akan dilukai apalagi dibunuh dengan cara yang
begitu sadis. Jadi yang sedang kita usahakan dan perjuangkan adalah
kesuksesan Cgm yang tanpa menjatuhkan korban-korban apapun dan
siapapun dan berapapun jumlahnya. Karena tujuan awal dari perayaan Cgm
(Dewa Dewi) adalah untuk mendatangkan kesehatan, kebahagian,
kedamaian, dan hal-hal baik lainnya kepada manusia, jadi apabila
Dewa/Roh yang bersangkutan sudah sampai meminta korban, maka perlu
kita pertanyakan Identitas peminta korban tersebut.
> Akan lebih bijaksana kalau Tatung yang memakan binatang / meminta
korban itu tidak di ijinkan oleh pihak Panitia CGM untuk melakukan
pawai dijalan2. Anggap aja itu sanksi yang harus mereka terima :)
> 
>  Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau
anak manusia sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan
sesuatu yang tidak relevan sebagai perbandingan. Juga jgn
membandingkannya dengan memakan binatang tiap bulan supaya ada acara
menarik. Mohon simak kembali, apakah perbandingan yg anda sampaikan
cukup mengena dengan kasus ini?
> >>
> Iya Pak, makanya yg pantas kita pertanyakan kenapa Nenek Moyang kita
tidak menggunakan anak macan, anak koala, anak panda ataupun anak
manusia? Karena binatang2 tersebut adalah binatang2 yang dilindungi,
termasuk manusia, karena ada HAM.. Jadi itu bertanda mereka hanya
berani sama yang lemah dan tidak berdaya. Dan mereka bisa memilih yang
lemah, jadi itu tandanya semua itu bisa diatur oleh manusia, karena
seandainya itu kemauannya roh maka peduli amat dia dengan hukum yang
dibuat oleh manusia. 
> Memang sih saya juga mendengar bhw ada kepercayaan bahwa darah
anjing hitam bisa untuk mengusir hal-hal yg tidak baik atau roh2
jahat, tetapi semua itu dilakukan dengan menyemburkan atau
menyemprotkan darah tersebut kesuatu tempat, tetapi bukan untuk
diminum atau dimakan. Jadi untuk hal ini sudah melenceng, keluar dari
aturan mainnya.
> Mengapa saya mengatakan supaya mengadakan acara memangsa binatang
hidup di Singkawang, semua ini berawal dari kalimat Bpk yang berbunyi
: Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang,
dimana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga? Nah jadi itu
terkesan bahwa sebenarnya aksi senjata tajam dan makan binatangnya
itulah yang bisa menarik wisatawan. Jadi mengapa harus cape2 menunggu
setahun sekali, ya lakukan saja aksi senjata tajam dan makan
binatangnya tiap bulan biar Singkawang dibanjiri wisatawan sepanjang
tahun. Yang diperlukan kan bukan Atraksi tatung yang lain, hanya aksi
makan binatang dan senjata tajamnya saja kan? Ya sesuai dengan saran
Bapak saya sudah menyimak kembali perkataan saya dengan
sebaik-baiknya, dan ternyata hasilnya ya tetap menuju kepada
kesimpulan tersebut.
>  
> Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau
sampai terjadi 'pembantaian binatang'. Hati nurani sayapun sebetulnya
menolak adanya prosesi demikian, namun saya takut terlalu mengikuti
egonya saya (kita), sampai harus menolak sesuatu tatanan yg sudah ada
selama ratusan tahun.
> >>
> Pak Edhylius, seandainya kita tidak bisa menerima aksi yang sadis
tersebut maka sebaiknya kita berusaha menghentikannya sebelum aksi
tersebut menjadi semakin besar dan susah untuk dikendalikan. Seperti
dengan suatu Organisasi yang tidak baik, maka sebelum organisasi
tersebut menjadi besar dan susah dikendalikan maka seharusnya sejak
dia mulai berdiri dan masih kecil maka harus dibubarkan, Dan seperti
anak kecil juga, saat dia masih kecil maka sudah harus dididik kejalan
yg benar, tunggu udah gede dan udah jadi brandalan udah susah, ya
ibaratnya api, masih kecil harus dipadamkan, tunggu udah gede ya repot
deh, gitu loh Pak Edhylius…
> Jadi sebagai bagian dari akulturasi kebudayaan yang berjalan seiring
bergulirnya jaman, mungkin kebiasaan memakan binatang ini harus
dikikis, salah satunya yach mungkin dgn pembatasan2 yang mungkin harus
dibatasi sesuai dgn kaidah dan budaya yang berlaku skrg, mungkin pada
jaman dahulu budaya memakan binatang dianggao sebagai sesuatu yang
lumrah, namun tidak untuk jaman skr ini.
> Lagian apabila kita mau melakukan survey, maka saya percaya akan
lebih banyak orang yg tidak menyukai atraksi tersebut daripada yg
menyukainya. 
>  
> Salam
> Eugenia
> 
> 
> 
> 
> ____________ _________ _________ __
> From: edhylius_sean <edhylius_sean@ ...>
> To: singkaw...@yahoogro ups.com
> Sent: Wednesday, February 11, 2009 5:56:56 PM
> Subject: [Singkawang] Re: Makan Binatang
> 
> Dear. Eugenia Wu
> Salam sukses,
> Langsung ke topik aja ya, kita bicara soal keunikan Cap Gomeh,
> otomatis 'sense of the event' adalah hal-hal yang menyangkut apa
> adanya dari event itu. Banyaknya intervense (atas dasar apa saja),
> dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan keunikannya perayaannya. Maksud
> saya, itu adalah turunan nenok moyang kita, sudah diakui pemerintah
> (maksudnya=sudah lolos sensor), dan sudah dijadikan event pariwisata,
> biarkanlah berlangsung apa adanya. Toh, selama perayaan, cuma beberapa
> yg terkorbankan dan setahun sekali.
> Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau anak
> manusia sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan sesuatu
> yang tidak relevan sebagai perbandingan. Juga jgn membandingkannya
> dengan memakan binatang tiap bulan supaya ada acara menarik. Mohon
> simak kembali, apakah perbandingan yg anda sampaikan cukup mengena
> dengan kasus ini?
> Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau sampai
> terjadi 'pembantaian binatang'.
> Hati nurani sayapun sebetulnya menolak adanya prosesi demikian, namun
> saya takut terlalu mengikuti egonya saya (kita), sampai harus menolak
> sesuatu tatanan yg sudah ada selama ratusan tahun.
> Salam, Edhylius.
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In singkaw...@yahoogro ups.com, eugenia wu <eugeniawu@> wrote:
> >
> > Dear Sdr. Edhylius_sean ,
> >  
> > Bagaimana kalau si Puppy Hitam dan SiKukuruyuk diganti dengan Anak
> Macan Sumatera, Anak Komodo, Anak Koala, Anak Panda dan atau Bayi
> manusia yang dimakan hidup-hidup oleh para Tatung ? 
> > Apakah masih akan ada kalimat dibawah ini :
> > Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
> > kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan.
> > Biasanya masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari
> prosesi
> > ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
> > Bukankah:
> > harus ada pengecualian untuk
> > sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
> > 
> > Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
> > mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?
> > Jadi apabila keunikan CGM Singkawang hanyalah acara makan-makan
> binatang hidupnya saja yang dapat menarik wisatawan, maka mendingan
> setiap bulan di Singkawang diadakan acara makan binatang hidup saja,
> biar wisatawan lebih banyak lagi yg datang, kalau menunggu setahun
> sekali (CGM) kayaknya kelamaan deh..... Lumayan kan kalau setiap bulan
> ada rombongan wisatawan yang datang, dan Singkawang akan cepat
> terkenal sampai keseluruh penjuru Dunia atas kehebatannya memakan
> binatang secara hidup2.
> >  
> > Salam 
> >  
> > Eugenia
>


   


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke