Dear Edhylius_Sean,

Salam Persatuan dan Kedamaian ya….
Langsung ke topik aja ya,
Iya Pak tanpa mengurangi rasa hormat saya, kita langsung masuk topik aja :)
 
Kita bicara soal keunikan Cap Gomeh, otomatis 'sense of the event' adalah 
hal-hal yang menyangkut apa adanya dari event itu. Banyaknya intervense (atas 
dasar apa saja), dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan keunikannya perayaannya. 
Maksud saya, itu adalah turunan nenok moyang kita, sudah diakui pemerintah 
(maksudnya=sudah lolos sensor), dan sudah dijadikan event pariwisata, 
biarkanlah berlangsung apa adanya.
>>
Sebenarnya yang Bapak Edhylius maksudkan lolos sensor adalah perayaan Cgm 
tersebut, tetapi bukan atraksi makan binatang hidupnya tersebut, buktinya pada 
tahun kemarin masih ada himbauan untuk tidak melakukan aksi memakan binatang 
hidup lagi didepan umum, dan karena himbauan tersebut maka Alhamdullilah, Puji 
Tuhan, Kan Hsie Fo Cu aksi tersebut menjadi berkurang, dari situ kita bisa 
mengambil suatu kesimpulan bahwa aksi memakan binatang hidup tersebut 
sebenarnya bisa dihindari dan para Roh2 pun bersedia mendengarkan (saya tidak 
tahu apakah Roh-nya atau Manusia yg tubuhnya dirasuki tsb yg mendengar sehingga 
aksi tersebut menjadi berkurang. 
Dan seingat saya, sewaktu kecil disaat menyaksikan atraksi Tatung, saya tidak 
melihat atraksi tersebut, ntah kapan dimulainya saya lupa, akhirnya atraksi 
memakan binatang hidup tersebut mulai ada, dan tradisi itu menjadi ngetrend 
sampai sekarang (sungguh tidak ingin memakai kata ngetrend untuk hal ini). 
Kembali ke pembicaraan Dewa atau Roh, saya yakin seyakin yakinnya, bahwa 
apabila itu adalah Roh Dewa Dewi yang benar (sesuai dg Agama dan Kepercayaan), 
maka mereka tidak akan melakukan hal tersebut. 

Toh, selama perayaan, cuma beberapa yg terkorbankan dan setahun sekali.
>> 
apapun itu dan berapapun jumlahnya tetap saja disebut korban yang tentunya tdk 
seirama dgn konteks roh atau dewa yg berhati baik kalau roh / dewa meminta 
korban apa itu bener2 roh / dewa yg masuk ketubuhnya?
Nah bagaimana dg kejadian 2 tahun yang lalu, disaat ada bbrp Tatung yang 
terluka, mengapa banyak yang protes kenapa panitia tidak memberikan 
perhatiannya? Nah apakah kita boleh berkata, “toh hanya bbrp saja yg terluka 
dan hanya setahun sekali”? itukan untuk kepentingan Cgm juga kan?
Kita sama-sama adalah mahkluk hidup yang bernyawa, yang punya perasaan takut 
saat akan dilukai apalagi dibunuh dengan cara yang begitu sadis. Jadi yang 
sedang kita usahakan dan perjuangkan adalah kesuksesan Cgm yang tanpa 
menjatuhkan korban-korban apapun dan siapapun dan berapapun jumlahnya. Karena 
tujuan awal dari perayaan Cgm (Dewa Dewi) adalah untuk mendatangkan kesehatan, 
kebahagian, kedamaian, dan hal-hal baik lainnya kepada manusia, jadi apabila 
Dewa/Roh yang bersangkutan sudah sampai meminta korban, maka perlu kita 
pertanyakan Identitas peminta korban tersebut.
Akan lebih bijaksana kalau Tatung yang memakan binatang / meminta korban itu 
tidak di ijinkan oleh pihak Panitia CGM untuk melakukan pawai dijalan2. Anggap 
aja itu sanksi yang harus mereka terima :)

 Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau anak manusia 
sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan sesuatu yang tidak 
relevan sebagai perbandingan. Juga jgn membandingkannya dengan memakan binatang 
tiap bulan supaya ada acara menarik. Mohon simak kembali, apakah perbandingan 
yg anda sampaikan cukup mengena dengan kasus ini?
>>
Iya Pak, makanya yg pantas kita pertanyakan kenapa Nenek Moyang kita tidak 
menggunakan anak macan, anak koala, anak panda ataupun anak manusia? Karena 
binatang2 tersebut adalah binatang2 yang dilindungi, termasuk manusia, karena 
ada HAM.. Jadi itu bertanda mereka hanya berani sama yang lemah dan tidak 
berdaya. Dan mereka bisa memilih yang lemah, jadi itu tandanya semua itu bisa 
diatur oleh manusia, karena seandainya itu kemauannya roh maka peduli amat dia 
dengan hukum yang dibuat oleh manusia. 
Memang sih saya juga mendengar bhw ada kepercayaan bahwa darah anjing hitam 
bisa untuk mengusir hal-hal yg tidak baik atau roh2 jahat, tetapi semua itu 
dilakukan dengan menyemburkan atau menyemprotkan darah tersebut kesuatu tempat, 
tetapi bukan untuk diminum atau dimakan. Jadi untuk hal ini sudah melenceng, 
keluar dari aturan mainnya.
Mengapa saya mengatakan supaya mengadakan acara memangsa binatang hidup di 
Singkawang, semua ini berawal dari kalimat Bpk yang berbunyi : Kalo mau lihat 
Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, dimana-mana juga ada, ga 
perlu ke singkawang, tul ga? Nah jadi itu terkesan bahwa sebenarnya aksi 
senjata tajam dan makan binatangnya itulah yang bisa menarik wisatawan. Jadi 
mengapa harus cape2 menunggu setahun sekali, ya lakukan saja aksi senjata tajam 
dan makan binatangnya tiap bulan biar Singkawang dibanjiri wisatawan sepanjang 
tahun. Yang diperlukan kan bukan Atraksi tatung yang lain, hanya aksi makan 
binatang dan senjata tajamnya saja kan? Ya sesuai dengan saran Bapak saya sudah 
menyimak kembali perkataan saya dengan sebaik-baiknya, dan ternyata hasilnya ya 
tetap menuju kepada kesimpulan tersebut.
 
Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau sampai terjadi 
'pembantaian binatang'. Hati nurani sayapun sebetulnya menolak adanya prosesi 
demikian, namun saya takut terlalu mengikuti egonya saya (kita), sampai harus 
menolak sesuatu tatanan yg sudah ada selama ratusan tahun.
>>
Pak Edhylius, seandainya kita tidak bisa menerima aksi yang sadis tersebut maka 
sebaiknya kita berusaha menghentikannya sebelum aksi tersebut menjadi semakin 
besar dan susah untuk dikendalikan. Seperti dengan suatu Organisasi yang tidak 
baik, maka sebelum organisasi tersebut menjadi besar dan susah dikendalikan 
maka seharusnya sejak dia mulai berdiri dan masih kecil maka harus dibubarkan, 
Dan seperti anak kecil juga, saat dia masih kecil maka sudah harus dididik 
kejalan yg benar, tunggu udah gede dan udah jadi brandalan udah susah, ya 
ibaratnya api, masih kecil harus dipadamkan, tunggu udah gede ya repot deh, 
gitu loh Pak Edhylius…
Jadi sebagai bagian dari akulturasi kebudayaan yang berjalan seiring 
bergulirnya jaman, mungkin kebiasaan memakan binatang ini harus dikikis, salah 
satunya yach mungkin dgn pembatasan2 yang mungkin harus dibatasi sesuai dgn 
kaidah dan budaya yang berlaku skrg, mungkin pada jaman dahulu budaya memakan 
binatang dianggao sebagai sesuatu yang lumrah, namun tidak untuk jaman skr ini.
Lagian apabila kita mau melakukan survey, maka saya percaya akan lebih banyak 
orang yg tidak menyukai atraksi tersebut daripada yg menyukainya. 
 
Salam
Eugenia




________________________________
From: edhylius_sean <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, February 11, 2009 5:56:56 PM
Subject: [Singkawang] Re: Makan Binatang

Dear. Eugenia Wu
Salam sukses,
Langsung ke topik aja ya, kita bicara soal keunikan Cap Gomeh,
otomatis 'sense of the event' adalah hal-hal yang menyangkut apa
adanya dari event itu. Banyaknya intervense (atas dasar apa saja),
dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan keunikannya perayaannya. Maksud
saya, itu adalah turunan nenok moyang kita, sudah diakui pemerintah
(maksudnya=sudah lolos sensor), dan sudah dijadikan event pariwisata,
biarkanlah berlangsung apa adanya. Toh, selama perayaan, cuma beberapa
yg terkorbankan dan setahun sekali.
Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau anak
manusia sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan sesuatu
yang tidak relevan sebagai perbandingan. Juga jgn membandingkannya
dengan memakan binatang tiap bulan supaya ada acara menarik. Mohon
simak kembali, apakah perbandingan yg anda sampaikan cukup mengena
dengan kasus ini?
Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau sampai
terjadi 'pembantaian binatang'.
Hati nurani sayapun sebetulnya menolak adanya prosesi demikian, namun
saya takut terlalu mengikuti egonya saya (kita), sampai harus menolak
sesuatu tatanan yg sudah ada selama ratusan tahun.
Salam, Edhylius.





--- In [email protected], eugenia wu <eugeni...@...> wrote:
>
> Dear Sdr. Edhylius_sean ,
>  
> Bagaimana kalau si Puppy Hitam dan SiKukuruyuk diganti dengan Anak
Macan Sumatera, Anak Komodo, Anak Koala, Anak Panda dan atau Bayi
manusia yang dimakan hidup-hidup oleh para Tatung ? 
> Apakah masih akan ada kalimat dibawah ini :
> Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
> kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan.
> Biasanya masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari
prosesi
> ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
> Bukankah:
> harus ada pengecualian untuk
> sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
> 
> Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
> mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?
> Jadi apabila keunikan CGM Singkawang hanyalah acara makan-makan
binatang hidupnya saja yang dapat menarik wisatawan, maka mendingan
setiap bulan di Singkawang diadakan acara makan binatang hidup saja,
biar wisatawan lebih banyak lagi yg datang, kalau menunggu setahun
sekali (CGM) kayaknya kelamaan deh..... Lumayan kan kalau setiap bulan
ada rombongan wisatawan yang datang, dan Singkawang akan cepat
terkenal sampai keseluruh penjuru Dunia atas kehebatannya memakan
binatang secara hidup2.
>  
> Salam 
>  
> Eugenia



      

Kirim email ke