Dear Bapak Edhylius,
Saya sudah menangkap dengan jelas maksud yang anda sampaikan. Sudut
pandang kita berada pada 2 kutub yang berbeda sehingga tidak perlu
dilanjutkan lagi perdebatannya.
Aduh Pak, saya tidak pernah menganggap kita sedang berdebat, tetapi mungkin
lebih cocok apabila dikatakan bahwa kita sedang berdiskusi, setuju?
Anda berada di pihak yang menginginkan tidak adanya kekerasan
terhadap binatang, walaupun anda cukup toleran terhadap penggunaan
senjata tajam. Sekedar informasi, senjata tajam ini juga sering
melukai pelakunya sendiri (moga2 tidak akan terjadi pada orang
lain), bisa menjadi tendensi buruk oleh anak-anak yang belum
mengerti akan hal ini. (moga2 anda juga toleran akan hal ini).
Begini Pak, sebelumnya saya mengatakan bahwa Tatung membawa senjata tajam dalam
perayaan Cgm ataupun pada ritual2 lainnya menurut saya ok ok saja, asal senjata
tersebut tidak pergunakan untuk melukai orang atau makhluk lain (tidak termasuk
melukai tubuh Tatung sendiri).
Nah mengapa saya mengatakan begitu?
Karena sesuai info yg saya dapat mengenai atraksi tatung yg memakai senjata
tajam atau kadang terluka oleh senjata tajam tersebut, nah mereka mengatakan
bahwa sebenarnya untuk ritual tersebut sebenarnya Tatung tersebut harus
mengeluarkan darah (tidak perlu banyak, sedikit juga udah cukup hehe), nah
dengan darahnya tersebutlah maka bisa mengusir roh jahat. Dan saya juga
berpikir, selagi mereka tidak melukai orang atau makhluk lain, dan mereka mau
berbuat kebaikan dengan mengorbankan diri sendiri, ya itu ok ok dan sah sah
saja, karena Tuhan Yesus pun mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan
umat manusia (dan dalam ajaran Agama apapun juga, sepertinya tidak ada kisah
bahwa Sang Nabi mengorbankan seseorang atau makhluk lain dalam menyelematkan
dirinya sendiri ataupun Umat-Nya, Mereka selalu mengorbankan diri sendiri, maaf
kalau salah tolong dikoreksi ). Jadi selagi mereka mau berbuat baik tanpa
mengorbankan makhluk lain atau sesamanya itu adalah
perbuatan yang pantas dihormati . Tetapi apabila mereka sampai melukai atau
mengorbankan makhluk lain, maka saya pasti akan menentangnya.
Sedangkan saya agak (lumayan) konservatif dengan mengharapkan CGM
bisa bertahan seiring zaman dengan harapan tidak akan menimbulkan
masalah bagi pihak pencinta binatang dan pihak anti kekerasan
senjata tajam.
Saya jadi berpikir terus bagaimana dengan MATADOR!!! Kenapa ramai
ditonton turis? Kenapa tombaknya tidak diganti saja dengan jarum
suntik? Apakah karena banteng bukan anjing? (banteng memang bukan
anjing atau ayam sih). Apakah MATADOR masih MATADOR kalau bantengnya
bukan ditombak tapi dielus-elus? Apa yang menarik dari MATADOR?
(kayaknya sih kekerasannya pada sang banteng). Apa Bu Mega ga
marah2? (sory nih, kayaknya ga nyambung ya).
Amit-amit, saya sendiri ga berani nonton cuplikan MATADOR di TV
karena ngeri menyaksikan kekerasan terhadap sang Banteng dan luka
sang MATADOR. Saya juga ga berani melihat orang menyembelih
binatang. Entahlah, mungkin saatnya nanti saya juga akan protes
keras terhadap atraksi sang MAK TADOR.
Berbicara tentang Matador, sampai detik ini saya belum pernah menonton acara
tersebut, karena membayangkan saja saya sudah takut hehe. Dan OOT dikit, nah
saya sering nemenin anak saya (anak Doggie) nonton chanel Animal Planet, nah
pas adegan misalnya macan lagi ngejar2 rusa dan selanjutnya bisa dibayangkan
apa yg akan terjadi, nah saya pasti lsg pindah chanel. Karena hati kita pasti
tidak akan tahan melihat adegan tersebut.
Jadi jgnkan melihat orang menyembelih binatang, nonton acara Tv nya aja saya
udah ga berani
Ok Pak Edhylius, salam terus terus dan terus deh...
Eugenia
> Dear Bapak Edhylius,
>
> Dari semula saya sudah mengatakan saya bukan pihak yg menyetujui
> adanya prosesi makan hewan, hanya saja saya khawatirkan, tentangan
> keras anda akan mereferensi kepada hal yg lebih jauh.
> Semua orang akan setuju dgn yg anda sampaikan karena memang tidak
> sesuai dgn adat timur dan prike'hewan'an.
> Iya Pak, pada awalnya Bapak memang mengatakan tidak setuju dengan
> aksi makan binatang hidup tersebut, tetapi dalam kalimat Bapak
sepertinya
> tidaklah terlalu tidak setuju karena masih ada pengecualian, gitu
loh.
> Soalnya kalau menurut saya pribadi, apabila tidak setuju ya tidak
setuju
> gitu, dan kalau tidak setuju maka kita tidak akan mengiyakan, jadi
> mungkin kalimat Bapak yang membuat kesalahpahaman sehingga
> saya menganggap Bapak setuju .
> Â
> Kadang2 egonya kita karena merasa kita pintar dan punya jaringan
yg
> luas harus mengorbankan apa yg sudah ada selama ratusan tahun.
> Wah mungkin "kita" yang Bapak maksudkan disini tidak termasuk
saya,
> mungkin Bapak masih ingat Bapak Jusuf Djamaluddin
pernah mengatakan bahwa
> "IQ saya (eugenia)Jongkok" , dan saya juga tidak memiliki
jaringan-
jaringan
> seperti yang Bapak maksudkan, karena saya hanya memiliki jaringan
> Telephone dan Internet. Ingin sih memiliki jaringan-jaringan lain
> seperti yang Bapak maksudkan, kan lumayan kalau bisa membantu
> pembangunan di Singkawang, tapi sayang sekali saya tidak
memilikinya.
> Â
> Kalau bicara soal CGM di sini menurut etika dan norma, sebenarnya
> tidak ada satu hal pun yg pantas dipertontonkan (ekspos makan
> binatang dan kekerasan). Perkiraan saya, anda pasti setuju kalau
CGM
> tanpa menggunakan senjata tajam, karena saya yakin anda adalah
pihak
> yang anti kekerasan apalagi dipertontonkan di depan umum.
> Begini Pak....
> Saya memang tidak suka dengan kekerasan, tetapi pandangan saya
> pribadi, untuk perayaan Cgm dengan membawa senjata tajam itu
> Ok ok saja selagi senjata tajam itu tidak dipergunakan untuk
> melukai orang atau makhluk lain.
> Â
> Salam
> Eugenia