PUTRI
Peta Kalimantan BaratBERBICARA mengenai politik di Kalimantan Barat nyaris 
selalu terkait dengan tiga suku bangsa besar, Melayu, Dayak, dan Tionghoa. 
Bahkan, ada singkatan kata yang dikenal di sebagian masyarakat Kalbar, yakni 
"sambas". Sebutan itu bukan mengacu pada nama salah satu kabupaten di provinsi 
ini, melainkan merupakan gabungan dari kata "sam" yang dalam terminologi bahasa 
Tionghoa berarti tiga dan "bas" yang artinya bangsa. Istilah ini tak lain 
merujuk pada tiga etnik tersebut di atas.

"Intinya, etnik-etnik itu adalah tiga tungku dalam kehidupan masyarakat 
Kalimantan Barat," ujar Ketua Asosiasi Ilmu Politik Kalimantan Barat Gusti 
Suryansyah.

Kelompok etnik Melayu, yang merunut sejarahnya berasal dari Malaysia dan 
Sumatera Timur, umumnya mendiami kawasan perairan Kalimantan Barat. Menurut 
sensus penduduk yang terakhir dilakukan Badan Pusat Statistik, tahun 2000 
proporsi penduduk Melayu Sambas dan Melayu Pontianak mencapai 19 persen.

Untuk membedakan kalangan mereka biasanya didasarkan pada daerah tempat 
tinggal. Misalnya, Melayu yang tinggal di Kabupaten Landak disebut Melayu 
Landak. Mata pencarian utama suku bangsa ini adalah petani dan nelayan meski 
sekarang tidak sedikit juga yang menjadi pegawai negeri, swasta, atau pedagang.

Kelompok etnik Dayak umumnya mendiami daerah pedalaman Kalimantan Barat dan 
terbagi dalam banyak subetnik. Dalam buku Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan 
Bahasa Dayak di Kalimantan Barat terbitan Institut Dayakologi (2008) disebutkan 
bahwa suku Dayak terbagi hingga sebanyak 151 subetnik. Proporsi penduduk dari 
tiga subetnik dominan dari suku bangsa Dayak di Kalbar, yakni Kendayan, Darat, 
dan Pesaguan, mencapai 20 persen.

Sementara itu, etnik Tionghoa juga terbagi dalam sejumlah subetnik. Namun, 
paling tidak ada dua etnik besar yang mendiami Kalbar, yaitu Hakka (Khek) dan 
Tewciu atau Hoklo. Orang Hakka banyak berada di pedalaman, bekerja sebagai 
penambang emas di Montoredo (wilayah Kabupaten Landak), dan sebagian lainnya 
bertani. Sementara orang Tewcu biasanya bekerja sebagai pedagang dan banyak 
mendiami kawasan perkotaan di Kalbar, misalnya di Kota Pontianak dan Kabupaten 
Pontianak. Proporsi penduduk etnik Tionghoa di Kalbar mencapai 9,4 persen.

Pembagian tiga etnik besar tersebut masih hidup sampai sekarang. Paling tidak 
pengaruh kewilayahan budaya ini terbukti berpengaruh pada pertarungan politik 
di Kalbar ketika berlangsung ajang pemilihan kepala daerah.

Partai Golkar dan PDI-P, yang mendominasi perolehan suara dalam pemilu 
legislatif, tak selalu berhasil mengegolkan calon yang diusung dalam kancah 
pilkada. Tanpa berkoalisi, Partai Golkar hanya memenangkan calonnya di 
Kabupaten Kapuas Hulu, Ketapang, dan Sanggau. Sementara PDI-P hanya berhasil 
mengegolkan calonnya di Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak. Dalam 
pemilihan gubernur, pasangan calon dari PDI-P, Cornelis-Cristiandy Sanjaya, 
kombinasi Dayak dan Tionghoa, banyak mendapatkan dukungan dari Kabupaten 
Bengkayang, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, dan Kota 
Singkawang.

Dalam skala politik lokal, kesadaran dari tiap-tiap etnik untuk memunculkan 
eksistensinya masih kental. Itu sebabnya asal-usul seorang calon kepala daerah 
menjadi pertimbangan penting bagi pemilih. Di kalangan etnik Tionghoa juga 
muncul kesadaran eksistensi etnik. Di Kota Singkawang, yang sebagian besar 
penduduknya adalah Tionghoa, terpilih wali kota dari etnik itu.

Syarief Ibrahim Al Qadrie, sosiolog Universitas Tanjungpura, mengungkapkan 
bahwa di Kalbar etnis lebih dominan dalam memengaruhi peta kekuatan politik 
daripada agama. "Di Kalimantan Barat, masyarakat cenderung melihat sosok dari 
sisi etnis ketimbang agama. Latar belakang agama seorang calon agaknya tidak 
terlalu menjadi pertimbangan pemilih," ujarnya. (Bima Baskara)

Sumber : 
http://indonesiamemilih.kompas.com/index.php/read/xml/2009/02/16/13463691/Tiga.Tungku.di.Borneo.Barat

<<1346319p.JPG>>

Kirim email ke