Iwan Hanya Koordinator Lampion SINGKAWANG-Ketua Majelis Tao Indonesia Resort Singkawang mengatakan, pihaknya tidak pernah menerima sepeser pun dari donatur atau pun dari APBD Kota Singkawang. "Apa yang harus mau dipertanggungjawabkan ke publik, bila kita tidak mengelola uang dari donatur dan daerah. Kita hanya mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan dari hasil pelelangan di depan umat MTI saja. Sebab, pembeli hasil lelang kita umat MTI," kata Chai Ket Khiong kepada Pontianak Post, kemarin.
Dia menanggapi pernyataan Iwan Gunawan yang juga salah satu pengusaha dan panitia Imlek dan Cap Go Meh 2009. Menurut Akiong, uang yang diperoleh tatung dari masyarakat luas yang kata Iwan Gunawan harus dipertanggungjawabkan sangatlah aneh dan dinilai terlalu kerawak. "Iwan itu tak mengerti dan mau komentar. Uang yang diperoleh tatung dari masyarakat luas itu diperuntukkan mereka menggelar ritual. Saya tidak pernah mengambil uang itu. Mereka langsung mengelolanya seberapa besar uang yang diperoleh dari sumbangan masyarakat. Memang benar kita yang mengeluarkan buku. Setelah mereka memperoleh sumbangan mereka gunakan untuk kebutuhan mereka sendiri," kata Akiong jengkel. Diakui Akiong, Iwan mengatasnamakan pengusaha, dan menyoroti masalah kehadiran pengacara ketika digelar pertemuan. "Heran, mengaku pengusaha, tapi bisa menyoroti kehadiran pengacara dalam gawe cap go meh. Pengacara memang sudah dikontrak, berarti sepenuhnya dia bisa bertindak terhadap kliennya," kata Akiong berang. Kata Akiong, kehadirannya membawa pengacara karena panitia terlalu memaksakan kehendak. Bahkan, sore hari menjelang pelaksanaan Cap Go Meh keesokan harinya, panitia masih mempertahankan untuk membangun satu altar. "Ketika muspida yang dipimpin Kapolres sudah setuju dengan tiga altar dan meninjau lapangan. Ada panitia yang ngotot agar lelang dilakukan satu altar. Ada apa sebenarnya mengenai pelelangan ini," kata Akiong tak habis pikir. Akiong juga mempertanyakan mengapa Iwan yang berkoar-koar."Iwan itu hanya koordinator lampion. Dia bukan panitia inti. Ketua dan sekretaris umum tak berkomentar. Apakah Iwan jadi orang suruhan untuk berkoar-koar tak tahu jalan ceritanya," kata Akiong.Iwan juga mempertanyakan, mengapa sebelum dilakukan lelang sudah mengungkapkan bahwa ada defisit anggaran panitia sebesar Rp500 juta."Lelang belum dilakukan tiba-tiba itu terungkap. Apakah ini hanya trik saja. Kalau demikian, harusnya transparan. Dana rakyat dan donatur dari Jakarta harus bisa dipublikasikan, termasuk penerimaan dari sponsor," kata Akiong.Akiong menambahkan, alangkah baiknya Iwan mempertanggungjawabkan organisasinya yang tergabung dalam assosiasi pengusaha walet (APW) yang sampai saat ini tidak pernah ada masuk ke kas daerah. "Apakah APW selama ini telah memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan daerah. Sampai saat ini, kita belum tahu berapa jumlahnya. Padahal, hampir seluruh wilayah kota ini sudah berdiri rumah walet. Jangan sampai anggota assosiasi ada menyampaikan dana kemudian itu tidak diterima oleh pemerintah," kata Akiong. (zrf) Sumber : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=14908
