On Fri, Apr 21, 2006 at 05:26:02PM -0000, m.c. ptrwn wrote:
> iya ini peninggalan budaya feodalnya PH. Tapi yang curigaan itu
> sebenarnya sedikit,gak banyak.

curiga maksudnya selain melihat orang lain sebagai tidak bisa dipercaya
(maling, ngibul) juga tidak percaya pada kemampuannya. misalnya keyakinan
keblinger bahwa walaupun dengan standar yang sama, seorang BSc bisa
dianggap lebih qualified (digaji lebih besar) dibanding PhD. tapi
kata 'curiga' itu multidimensi, jadi, saya nyerah kalau itu diartikan
di luar saya ingin mengartikannya. kasus seperti yang di alami Pak Budi
itu sedikit (artinya yang curigaan sedikit, anda betul), tapi itu 100%
dari kasus yang pernah ada. piye :-)

itu yang saya lihat _dulu_ (bbrp thn yang lalu). jaman selalu berkembang.
kalau sekarang sudah menjadi lebih baik, ya sukurlah kalau gitu. saya kurang
tahu yang sekarang. dulu selain harga konsultan asing juga lebih besar
(30 jt vs 1,5 - 3 jt), potongan konsultan kandang juga lebih besar. dan itu
_diatur_ lho. itu kan contoh kecil, lah kalau untuk urusan-urusan yang
lebih besar dan bisa mempengaruhi aspek yang lebih besar lagi gimana tuh.

pada dasarnya (sorry) prinsip kapitalisme berlaku, yang penting itu 'brand',
bukan kualifikasi atau standard. meskipun ecek-ecek, kalau menggunakan bendera
vendor terkemuka, _otomatis_ dianggap baik. walaupun bagus, tapi modal dengkul
indonesia, langsung dibuang ke tempat sampah. itu yang ada di sini.

analogi lain, sebagian detailer obat itu kan orang yang justru ndak ngerti
dengan produknya, mereka itu sekedar sekumpulan orang yang dicekokin dgn
kursus bbrp minggu/bulan saja. nah sasarannya kan dokter yang, mestinya,
jauh lebih ngerti. itu satu sisi. ok lah dokternya lebih ngerti, tapi
detailernya bawa senjata piknik gratis ke antartika atau 5 ban mobil,
dokternya langsung bertekuk lutut, tidak perduli lagi kalau pilihannya
itu menaikkan beban/ongkos kesehatan. itu sisi yang lain :-)

kalau ada standardisasi, semua itu tidak berlaku, dampak kapitalisme tidak
terlalu terasa. walaupun jadi masalah lagi, misalnya karena e-gov kalau
pakai software gratis tidak bisa mendatangkan insentif baik bagi pemerintah
maupun vendor secara signifikan, akhirnya semua pada mundur teratur.
kalau ada standardisasi, mungkin import appliances yang tidak perlu bisa
dikurangi.  jatuh-jatuhnya bisnis dianggap macet, tidak ada aktifitas ekonomi
dst..dst..  kan gitu ta'iye.

> satu contoh, 70% orang indonesia yg mungkin masih bermoral mengatakan
> buka paha dan dada di televisi adalah teror moral dari barat, 30%
> mengatakan keindahan.

kalau masalah ini, kalau masih berharap, mudah-mudahan bisa bertemu di lain
kisah saja he..he.. anyway istilah terror moral itu terlalu bombastis :P
itu kan krn kaum agamis dan moralis kurang pede saja, terus jadi kalap
karena ke-tidak-pede-annya dan takut ndak laku hi..hi.. malah rasa
tidak pede ini begitu besar sampai-sampai memaklumi tindakan-tindakan
anarkis yang amat sangat mencederai nilai-nilai yang mau diperjuangkan
itu sendiri (ironis bukan?) :-) diskusinya jangan lari ke sini ah.

> Wah , nyaris no comments , di negara barat saja mungkin gak seribet ini
> :-))

tidak ada yang ribet. yang ada itu tidak mau menyelesaikan.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Kirim email ke