On Fri, Apr 21, 2006 at 11:42:44AM +0700, Budi Rahardjo wrote: > Saya pernah ngomel (atau lebih tepatnya, ngamuk he he he) soal > hal ini, karena di sebuah pekerjaan ada expat yang dibayar lebih > tinggi dari saya (berlipat) hanya karena dia warga negara asing. > (Standar Bapenas ngaco!)
aneh ya .. Budi Rahardjo sebenarnya tidak memonopoli opini di atas sendirian. ribuan orang justru men-share opini yang sama. tapi ya itu, mekanisme feedback macet di negara ini. kayaknya sih memang dibuat macet. dan ini sudah berjalan puluhan tahun ... lihat saja istilah-istilahnya masih pakai istilah-istilah feodal: lurah, bupati, menteri. mestinya kita tidak pakai istilah presiden, tapi raja :-) justru itu yang yang saya maksud, katanya rakyat berdaulat, tapi kedaulatan itu dikebiri oleh sistem yang secara artifisial dibuat seperti itu. ini PR kita. bentuk-bentuk alternatif aturan main maupun sistem pemerintahan itu next step. pertanyaan simple saja: apa ada yang mendengar omelan Budi Rahardjo? Apa iya, Budi Rahardjo bisa mengaspirasikan keberatan-keberatannya. ternyata jawabannya juga simpel, dalam bahasa latin: nuwun sewu, mboten wonten mas. berikut ini dagelan: "Pak, saya berharap omelan di atas itu tidak akan membuahkan hasil, tidak akan menimbulkan perubahan apa pun di tanah air kita tercinta ini. Karena konsekuensinya jelas, anda akan menjadi bukan apa-apa kalau usaha anda mulai berhasil" :-) boleh sebut saya narrow minded, boleh sebut saya berpikiran nasionalisme sempit, tapi kondisi di atas itu artifisial! dibuat dan didikte! mbok digeledah! :-) Salam, P.Y. Adi Prasaja
