PR. Artikel. Sabtu, 27 Desember 2003
Semula Bernama Kampung Sukamulya

Ciptagelar, Perkampungan Cantik di Kaki G. Halimun
BAGI Encup Sucipta, demikian nama lengkap Abah Anom,
ketua adat Kasepuhan, Ciptagelar Ciptarasa memiliki
arti tersendiri. Di Ciptarasa lah dia diangkat jadi
sesepuh girang (ketua adat) menggantikan ayahnya, Abah
Arjo. Abah Anom jadi sesepuh girang dalam usia yang
masih sangat muda, 17 tahun. Oleh karena itulah, dia
dipanggil Abah Anom (bahasa Indonesia: muda)

Meski Kampung Ciptarasa mengandung arti tersendiri,
Abah Anom tak kuasa menolak wangsit (perintah leluhur)
yang memerintahkan dirinya pindah ke Ciptagelar. Oleh
karena itu, Juli 2001, Abah Anom bersama belasan baris
kolot (pembantu sesepuh girang) menjalankan wangsit
tersebut. Beberapa rumah baris kolot beserta seluruh
isinya ikut dibawa pindah.

Lokasi baru tempat tinggal Abah Anom beserta baris
kolot-nya bukan daerah yang baru dibuka. Apalagi,
tadinya hutan belantara. Abah Anom pindah ke tempat
yang telah ada penduduknya dan kampungnya bernama
Sukamulya. Oleh Abah Anom kemudian diganti menjadi
Ciptagelar. "Ciptagelar masih termasuk Desa
Sirnarasa," kata Abah Anom.

Ciptagelar yang dari Ciptarasa jaraknya sekira 14
kilometer berada di ketinggian 1,050 meter di atas
permukaan laut (dpl). Berudara dingin dan sering kali
diselimuti kabut. Ciptagelar merupakan daerah
cekungan, dikelilingi Gunung Surandil, Gunung
Karancang, dan Gunung Kendeng. Di Ciptagelar terdapat
sekira 80 kepala keluarga (KK) termasuk Abah Anom dan
baris kolot.
Untuk menuju ke Ciptagelar, ada tiga jalur pilihan;
dari jalan utama Sukabumi-Cisolok belok di Sukawayana
dilanjutkan sampai Pangguyangan. Dari Pangguyangan
kendaraan yang bisa melintas jalan ini hanya kendaraan
besar atau jip bergarda dua dan hanya sampai
Ciptarasa. Untuk ke Ciptagelar bisa naik ojek atau
jalan kaki, menempuh jarak 14 kilometer melewati hutan
lebat. 
Pilihan kedua, tidak melalui Ciptarasa, tetapi melalui
Desa Sirnaresmi yang masuknya sama dari Sukawayana.
Lewat jalan ini kendaraan bisa sampai ke Ciptagelar,
tetapi kendaraannya minimal jip. "Saya sendiri hanya
berani membawa jip," kata Abah Anom yang memiliki dua
mobil, jip Feroza dan Escudo. Mobil Escudonya disimpan
di Ciptarasa.

Jalur yang sudah dilalui kendaraan umum adalah melalui
Desa Maja. Dari Pelabuhanratu naik angkutan umum yang
menuju Cisolok, berhenti di Desa Maja. Perjalanan
dilanjutkan dengan naik angkutan umum jurusan Cikotok
dan berhenti di Kantor Kepala Desa Sirnaresmi.
Seterusnya bisa jalan kaki bisa juga naik ojek. "Kalau
naik ojek siap-siap sport jantung," kata Gangga, warga
Jakarta yang pernah ke Ciptagelar.

Baik memakai kendaraan, jalan kaki, atau naik ojek
sama-sama melelahkan. Jalan yang dilalui, selain
dipenuhi oleh tanjakan curam, juga jalannya masih
berbatuan yang semuanya membuat jantung deg-degan.
"Bagi pencinta alam memang enak jalan kaki, paling
tidak dari Ciptarasa atau dari Kantor Desa
Sirnaresmi," kata Gangga lagi. 

Kelelahan yang dirasakan ketika menempuh perjalanan,
sampai di Ciptagelar mendadak sirna. Udara yang sejuk
serta pemandangan alam yang hijau dan pesawahan yang
berundak-undak membuat badan segar kembali. Apalagi,
ketika sudah masuk ke imah gede (rumah sesepuh girang)
dan mendapat kehangatan sambutan tuan rumah. 

"Abah dan keluarganya sangat ramah," kata Ir. Syarif
H. Marsono, konsultan dari Jakarta yang beberapa kali
berkunjung ke Ciptagelar. Di imah gede yang tungku-nya
tak pernah padam selalu tersedia nasi, lauk-pauk,
bahkan kopi dan susu. "Kita bebas makan apa saja
karena khusus disediakan untuk tamu dan untuk warga
yang memerlukan makanan," kata Ir. Syarif.

Imah gede sendiri cukup besar, melebihi imah gede yang
ada di Ciptarasa, mampu menampung puluhan orang. Tamu
yang berkunjung ke sana tidak perluh khawatir tidak
bisa mendapatkan tempat untuk tidur. Penerangan di
Ciptagelar sudah mempergunakan listrik, bersumber dari
pembangkit listrik tenaga air mikro (kecil) yang
dibuat oleh Abah Anom, seperti halnya di Ciptarasa.

Imah gede di Ciptagelar dan rumah-rumah penduduk yang
lainya, termasuk rumah baris kolot, tidak berbeda
dengan yang ada di Ciptarasa; panggung, dan beratap
injuk. 

"Ketentuan itu tetap berlaku karena ketentuan adat,
bukan ketentuan yang ada di suatu tempat," kata Abah
Anom yang memiliki telepon satelit dan radio
komunikasi.

Abah Anom tidak bisa memerkirakan kapan wangsit yang
memerintahkan dirinya pindah turun lagi. "Kami teu
nyaho (saya tidak tahu)," katanya. Kalau pun harus
pindah lagi, menurut Abah Anom, tidak mungkin balik ke
tempat yang pernah didiami oleh dirinya dan
leluhurnya. "Itu tak mungkin terjadi, kami pindah ke
tempat baru," katanya. 

Menurut Abah Anom, Kasepuhan yang dipimpinnya suatu
saat tidak akan berpindah-pindah lagi, yakni jika
telah ditemukan tempat yang benar-benar baik menurut
adat.
"Tetapi, saya tidak tahu kapan saya punya tempat
tinggal tetap, saya pun tidak di mana tempat tinggal
tetap saya, itu semua bergantung pada wangsit,"
katanya. (Nanang S./"Galura")***





                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke