Kompas. Nusantara. Senin, 4 September 2000

Sidang Tanpa Rasa Dengki dan Benci

ABAH Anom memasukkan ikatan padi pertama ke dalam
leuit atau lumbung komunal warga Kampung Ciptarasa.
Sekitar 50 orang lain yang berada di dalam arena
upacara, semua duduk atau berlutut dalam deretan yang
rapi. Semua menunjukkan roman muka takzim. Suasana
hening. Suara yang terdengar cuma dentingan kecapi dan
tembang Sunda mendayu-dayu, berisi puja-puji pada Nyi
Pohaci alias Dewi Sri, sang Dewi Padi. Aroma asap
bakaran dupa tercium ke mana-mana.

Demikianlah puncak upacara Seren Taun di Kampung
Ciptarasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan Cisolok,
Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat). Setelah Abah Anom,
semua ikatan padi lain juga dimasukkan ke dalam
lumbung tersebut. Ikatan-ikatan padi itu merupakan
hasil panen sumbangan setiap warga kasepuhan
Ciptarasa. Dalam upacara tahunan (pernah tertunda
tahun 1999 gara-gara pemilu) setiap warga wajib
menyetor dua gedeng atau dua ikat padi, kepada
pimpinan kasepuhan untuk disimpan sebagai persediaan
padi bersama.

Sesuai kebiasaan lama, selain tiap warga menyumbangkan
dua ikat padi, warga Kasepuhan juga diwajibkan
menyumbangkan uang logam. Nilai uang itu dulu Rp 10,
namun belakangan ini menggunakan juga uang logam
bernilai Rp 100. Dari jumlah keping uang logam ini,
masing-masing sesepuh lembur atau sesepuh kampung atau
juga kokolot kampung, dapat menghitung dan mengetahui
seluruh populasi warga Kasepuhan yang mencapai lebih
dari 25.000 jiwa.

"Tradisi menyetor uang logam itu, dulunya setiap
sesepuh lembur menyetor sebatang lidi. Acara Seren
Taun ini sudah kesekian kalinya kami hadiri, untuk
mengikuti perkembangan warga Kasepuhan dan melihat
perkembangan yang terjadi," ujar Adang Afandi dari
Forum Ki Sunda, kelompok peduli masyarakat adat di
Jawa Barat. 

"Salah satu inti acara ini, sebenarnya acara pertemuan
seluruh sesepuh lembur, sekaligus laporan tahunan dari
Abah Anom sendiri. Tetapi, sudah beberapa tahun ini,
Seren Taun lebih dikenal dengan acara hiburannya
saja," katanya lagi.

Menurut kisah lama, kelompok masyarakat yang setahun
hanya sekali menanam padi lokal, sebagian dari mereka
masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Ngahuma atau
berladang, merupakan akitivitas utama masyarakat
Kasepuhan. Mereka memiliki tata cara ritual untuk
ladangnya. 

Dari kisah lisan, warga Kasepuhan sudah ada di Bogor
sejak tahun 612. Sejak itu mereka sudah mengenal
pimpinan. "Abah Anom sendiri baru menjabat sebagai
pemuka masyarakat, sejak masih muda, mungkin baru
berumur 16 tahunan," tutur Adang asal Bandung yang
mengenal pimpinan Kasepuhan, mulai masa kepemimpinan
Abah Ajo, ayahnya Abah Anom.
***
SEREN Taun di Kampung Ciptarasa yang digelar setahun
sekali seusai masa panen, selalu sekalian dipakai
warga kasepuhan untuk menyelenggarakan sidang tahunan
melalui pimpinan kampung masing-masing. Abah Anom
sebagai sesepuh Kasepuhan, meski masih muda menyebut
warganya itu dengan sebutan incu putu anak pibudakeun.
Sebutan yang bermakna sebagai bapak yang melindungi
dan mengasihi anak cucunya. 

Usai upacara Seren Taun yang berlangsung di pelataran
di depan lumbung adat, Abah Anom berpidato di hadapan
puluhan sesepuh lembur. Dalam kesempatan itu Abah Anom
menyampaikan semacam laporan, mengenai berbagai
kegiatan dan peristiwa penting yang terjadi dalam
setahun terakhir, di wilayah Kasepuhan Ciptarasa.
Antara lain tentang pembangunan jalan selebar enam
meter dan panjangnya 14 kilometer, antara Sirnaresmi
dan Cicemet. Juga pembangunan jalan selebar lima meter
yang panjangnya tiga kilometer, antara Lebaklarang dan
Cicarucub. 

Dalam kesempatan sama, Abah Anom melaporkan pula telah
selesainya pembangunan jembatan kayu, sepanjang 18
meter dan lebar 1,5 meter, yang menghubungkan Cisarua
dan Sirnarasa, dua kampung tetangga Sirnarasa dan
sebagian penghuninya juga warga Kasepuhan.
Abah Anom mengumumkan pula, warganya telah membangun
kembali 60 buah bangunan yang hancur di makan api,
dalam musibah kebakaran yang terjadi di Kampung
Cicemet beberapa bulan lalu. Dalam kebakaran itu 53
keluarga telah kehilangan tempat berteduh, serta
sejumlah harta benda pun musnah.

Para sesepuh lembur semua berbusana adat, berupa jas
Sunda warna putih, berkain dan destar batik khas
Kasepuhan. Mereka duduk bersila, berderet rapi di bale
bambu besar yang khusus diperuntukkan baginya.
Sementara itu Abah Anom duduk di bale lain di
hadapannya, bersama para pejabat pemerintah yang
diundang, seperti mulai dari Wakil Camat Cisolok,
Kapolsek, Komandan Rayon Militer, sampai Kepala Kantor
Pariwisata dan Seni Kabupaten Sukabumi. Di saatnya
berpidato, bapak (abah) yang muda (anom) ini, duduk di
atas bale kecil yang khusus disediakan sebagai mimbar.

***
DALAM sidang tahunan Majelis Adat Pancer Pangawinan,
Abah Anom bukan cuma menyampaikan laporan. Kepada para
sesepuh kampung yang disebut baris sepuh dan baris
olot ia juga memberi arahan, petuah. Ia, misalnya,
mengingatkan, dalam melakoni hidup kaum kasepuhan tak
boleh mengabaikan faktor rasa. "Boga rasa, rumasa,
ngarasa. Ulah rek paluhur-luhur tangtungan,
pagirang-girang tampian. Kudu sareundeuk sigeul,
sabobot sapiharean..." (Memiliki rasa, sadar, merasa.
Jangan mengadu tinggi tempat berdiri, jangan mengadu
kegembiraan...")

Selain itu Abah Anom mengingatkan juga tentang makna
leuweng titipan (hutan titipan), leuweng tutupan
(hutan tutupan), dan leuweng garapan (hutan garapan).
"Hutan titipan adalah hutan yang dititipkan oleh
leluhur kita. Tak boleh dibuka sebelum ada wangsit,"
katanya, tanpa latah menyebut kalimat populer "gitu
aja kok diurusin".
Tak seperti beberapa anggota Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) yang terhormat, arena gedung MPR/DPR
Senayan kini mirip menjadi pangkalan politisi bawel,
rewel dan tukang "towel". Wakil "pilihan" rakyat dan
masyarakat kelas legislatif ini, beberapa orang sudah
terkenal sebagai tokoh kebelinger, asal ngablak dan
mengganggu sidang. 

Sebagian lagi ada yang begitu rewel, suka menyebar isu
protes ini-itu demi nama dan kepentingan kelompoknya,
tanpa mau tahu urusan rakyat banyak. Bahkan ada
beberapa warga terhormat itu, katanya memang tukang
"towel" alias usil mengusik seseorang lain.
Di podium sederhana Ciptarasa, tokoh kasepuhan yang
statusnya "wakil" warga, boro-boro ngacungin telunjuk
dan teriak hiteris interupsi, semuanya menerima dengan
khusuk isi laporan atau "pidato" Abah Anom. Acara
"pertanggungjawaban" ini lancar mengalir, tanpa ada
suara miring interupsi, kalimat lisan protes, atau
kasak-kusuk menyebar rasa dengki dan sirik.
Di gelanggang perhelatan masyarakat adat Kasepuhan
itu, terasa sesama sesepuh sepertinya tahu kalau
sesama manusia itu, pasti memiliki perbedaan sifat
satu sama lainnya. Makanya mereka berusaha saling
menghargai dan mengakui, serta menjauhi sifat buruk
yang sedapat mungkin dihindari, yakni perasaan dengki
dan benci, sirik pidik iren pinastren.

Lagi pula di saat berharga Seren Taun yang setahun
sekali, kayaknya dimanfaatkan betul sebagai tempat
temu jumpa sesama warga Kasepuhan, serta tamu undangan
lainnya. Makanya tidaklah aneh, kalau pendatang yang
tidak mengenakan destar batik khas Kasepuhan, akan
ditegur sapa baik-baik dan sopan, serta ditanyakan
apakah sudah makan-minum dan di mana bermalamnya. 
Yang menonjol di sini justru sikap dan perilaku
hangat, sesuai ungkapan ka lembur loba batur ka kota
loba baraya, ke kampung banyak kawan ke kota banyak
saudara. 
Itulah perbedaannya ST "Majelis Kasepuhan" Ciptarasa
dengan ST MPRI di Senayan. Yang satu di kampung,
lainnya di kota. Tetapi, jangan lupa, yang kampung
tidaklah mesti kampungan. Lha yang kotaan, apakah
tidak bisa kampungan? Lha iya aja lagi! (muk/jpe/bd) 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke