Kompas. Nusantara. Senin, 4 September 2000
Undangan dari "Kasepuhan" Gunung Halimun
MASUK sepucuk uleman dari kawan lama, melalui kiriman
faksimile. Undangan berbentuk kertas dinas resmi
berkop "Kesatuan Adat Banten Kidul Sesepuh Ciptarasa",
menggunakan bahasa Sunda luhur yang halus pisan.
Isinya menantikan kedatangan tamunya, dalam acara
tahunan seren taun, hari Sabtu-Minggu (5-6 Agustus),
di Kampung Ciptarasa, Desa Sirnarasa, Kecamatan
Cisolok, Kabupaten Sukabumi
(Jawa Barat).Undangan in ditutup dengan tulisan Hormat
Abah, ... (tanda tangan) ... E Sucipta S. Abah Anom
alias Encup Sucipta (33), pucuk pimpinan warga
Kasepuhan Pancer Pangawinan yang mengaku keturunan
Prabu Siliwangi. Untuk daya pikat undangannya, Abah
Anom secara lisan berpesan ke satu rekan. "Bawa
teman-teman pers lainnya, supaya sebelum meliput
Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang
bakalan ramai, mendingan ke sini dulu baru esok
harinya tugas lagi di Senayan," begitu pesan
titipannya.
Daripada cuma tergoda uleman itu, lebih baik satronin
saja kampungnya sang Abah. Kampung Ciptarasa yang
sejuk di pucuk bukit berketinggian 800 meter di atas
permukaan laut, berlokasi di salah satu punggung
Gunung Halimun, sekitar 100 kilometer dari Sukabumi
atau 40-an kilometer dari Pelabuhan Ratu. Letaknya
berbatasan dengan tapal batas kawasan Taman Nasional
Gunung Halimun (TNGH), di sudut perbukitan paling udik
di sisi selatan TNGH.
Dari pelataran parkir di ujung jalan aspal terakhir,
kampung Abah Anom ini masih harus didatangi, melalui
jalan setapak naik turun selama 90 menit. Selama dua
hari nanti, tergelarlah upacara Seren Taun, berikut
tontonan seni pertunjukan kesenian, sambil mengudap
sajian kue khas warga kasepuhan yang gurih dan nikmat.
Yang lebih penting lagi, di kampungnya Abah Anom yang
di sana itu, semoga masih tetap ada "barang langka"
yang bernama damai dan tenteram, di tengah kerumunan
pesta masyarakat adat itu.
***
RUPANYA sejak hari Jumat (4/8), dua hari sebelum
puncak upacara Seren Taun, Kampung Ciptarasa yang baru
"dibuka" sekitar 15 tahun lalu, sudah menerima
kedatangan barisan tamu dan undangan. Iring-iringan
itu sepertinya tidak putus, mengalir menuju Ciptarasa.
Mereka tidak hanya datang dari kampung-kampung sekitar
Ciptarasa, namun banyak yang khusus datang dari Bayah,
Cisungsang, Citorek, dan tempat-tempat jauh lainnya
yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lebak dan Bogor.
Sebagian besar tamu merupakan kaum kerabat warga
Ciptarasa, kampung inti dan utama dari kaum Kasepuhan
Pancer Pangawinan yang menurut kisah lama, masih
keturunan Prabu Siliwangi yang melegendaris di Jawa
Barat.
Selain warga Kasepuhan di Ciptarasa, kaum Kasepuhan
lainnya yang tersebar tinggal di 565 kampung di
wilayah Kabupaten Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Mereka
yang dari jauh itu, datang dengan kendaraan umum atau
truk cateran sampai di Pangguyangan, kampung terakhir
yang masih punya jalan aspal. Dari sana sisa jarak
yang sekitar empat kilometer dilakoni dengan menumpang
ojek atau berjalan kaki, naik-turun bukit, melewati
jalan berbatu yang makin lama makin sempit.
Kecuali memenuhi undangan Abah Anom untuk menyaksikan
upacara Seren Taun, mereka mau bersusah payah datang
ke Ciptarasa, untuk bertemu dengan sesama warga Pancer
Pangawinan, demi keeratan ikatan tali silaturahmi.
Rata-rata datang tanpa tangan kosong. Sesuai tata
krama, mereka memikul buah tangan berupa beras,
sayur-mayur, kelapa tua, sampai ayam hidup-hidup.
Kalau dibanding-bandingkan, Seren Taun itu mirip
upacara ucapan terima kasih pada nenek moyang atas
keberhasilan panen yang lalu. Prinsipnya sama dengan
berbagai upacara adat Indonesia lainnya di berbagai
tempat. Malah ada sumber menyebutkan Seren Taun itu,
berprinsip sama dengan thanks giving day yang dikenal
dalam masyarakat Barat.
Sedangkan Seren Taun di Ciptarasa, merupakan
kesinambungan tradisi dan warisan masyarakat agraris
Sunda purba, dalam memuliakan leluhur dan Dewi Sri.
Upacara ramai ini di Ciptarasa ini, rupanya upacara
penutup dan terbesar, dari rangkaian upacara serupa
yang sudah dilangsungkan sebelumnya, di sejumlah
kampung Kasepuhan lain di Banten Kidul atau Banten
Selatan. Hal ini menunjukkan posisi Ciptarasa sebagai
kampung Kasepuhan atau kampung adat paling penting di
Banten Selatan.
Dalam bahasa Sunda, kata kasepuhan mengacu pada
golongan masyarakat yang masih hidup dan
bertingkah-laku sesuai dengan aturan adat istiadat
lama. Masyarakat Kampung Ciptarasa menyebut diri
sebagai kaum Kasepuhan Pancer Pangawinan, serta merasa
kelompoknya sebagai keturunan Prabu Siliwangi.
Perihal nama Pacer Pangawinan, berasal dari kata
pancer yang bearti asal-usul atau sumber. Sementara
kata pangawinan berasal dari kata ngawin, yang artinya
"membawa tombak saat upacara perkawinan". Tetapi, kata
"pangawinan" dalam konteks ini, mungkin bersangkut
paut dengan "bareusan pangawinan", barisan tombak,
pasukan khusus Kerajaan Sunda yang bersenjata tombak.
(Kusnaka Adimihardja, Kasepuhan, yang Tumbuh di atas
yang Luruh, 1992).
Kampung Kasepuhan Ciptarasa itu, kini dipimpin Encup
Sucipta yang meski umurnya masih relatif muda, 33
tahun, biasa disebut sebagai abah. Karena itu pula
sebutan lengkap sang pemimpin adat itu adalah Abah
Anom, si "bapak muda".
***
PADA hari-hari biasa suasana Kampung Ciptarasa, boleh
dikata selalu sunyi sepi. Juga aman, nyaman, dan
damai. Kampung seluas 10 hektar itu, memiliki bangunan
masjid dan sekolah dasar, hanya ditinggali 70-an
kepala keluarga atau sekitar 350 jiwa. Warga kampung
yang rumahnya beratap rumbia dan ijuk, memang pantang
bergenteng tanah karena rumah itu bukan "kuburan" yang
tertimbun tanah, sehari-hari berlakon sebagai petani
yang sibuk menggarap sawah atau ladangnya yang subur.
Kalau pun ada kehebohan dan mendadak ramai,
paling-paling karena sesekali kedatangan tamu dari
Jakarta, Bogor, Sukabumi, dan lainnya, yang sengaja
datang ke sana untuk bertemu Abah Anom, sambil meminta
pandangan dan petuahnya yang konon dianggap bertuah
dan "sakti".
Akan tetapi, hari Sabtu-Minggu (6 Agustus), Kampung
Ciptarasa tiba-tiba dijejali ribuan pendatang dan
tamunya Abah Anom. Jalan setapak berundak yang
biasanya sepi, kini menjadi semacam, lorong antrean
panjang sesak dan padat. Tepian jalan batu yang
pas-pasan dilalui mobil kijang dan jip Abah Anom,
hampir seluruhnya diapit dan jejali tenda pedagang
kaki lima aneka barang.
Pedagang dari luar Kasepuhan, menggelar dan menjajakan
1001 macam barang dan makanan. Mulai kaus oblong,
celana jins, dompet, ikat pinggang, tas punggung,
pakaian pria dan wanita, termasuk pernik-pernik mainan
anak-anak, sampai aneka rupa makanan dan jajanan,
termasuk mi baso.
Tempat tinggal Abah Anom, rumah terbesar yang terletak
di bagian tengah kampung, tak pernah sepi. Tamu dan
undangan datang bergantian. Di sana hidangan berat dan
ringan selalu tersaji, sebagai jaminan sang tamu tidak
bakalan haus dan kelaparan. Sebaliknya "para tetamu"
pun dibuat repot dengan ajakan minum teh kopi serta
mengudap makanan kecil, atau diminta antre mengambil
hidangan nasi hangat beserta lauk pauk sedapnya.
Semua tamu Abah Anom berharap dapat bertemu langsung
dengan tokoh adat itu. Sekalian minta bantuan
doa-restu, agar cita-cita dan tujuan sedang diburu
bisa segera jadi kenyataan. Maklum, walau masih muda
belia dan suka main badminton, Encup Sucipta atau Abah
Anom diyakini banyak orang sebagai laki-laki yang
punya daya linuwih. Ramalannya jarang meleset,
doa-doanya juga manjur. Maklumlah Abah Anom itu,
katanya, memang pimpinan masyarakat yang tatali
piranti karuhun, pengawal adat istiadat nenek
moyangnya.
Berada dan bergaul selama Seren Taun di Kampung
Ciptarasa, memang masih sesuai namanya. Kampung
Ciptarasa masih menciptakan rasa damai dan tenteram.
Padahal sekitar 200-an kilometer dari kampung adem
ini, ada Kota Jakarta yang tidak menciptarasakan damai
dan tenteram, tetapi cuma men-ciptakan rasa takut dan
rasa tidak nyaman. (Mulyawan Karim/Johnny TG/Rudy
Badil)
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/