ieu aya sababaraha artikel perkara kampung ciptagelar.
mudah-mudahan aya manfaatna.
salam,
mh
--- Gunawan Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ua Sas sareng wargi Kusnet aya nu terang, kaayaan,
> adat istiadat, budaya, sajarah Kampung Adat
> Ciptagelar Cisolok Sukabmi? Mangga diantos
pedaranana
=================
Kompas. Nusantara. Senin, 4 September 2000
Abah Anom Itu Bukan Dukun
LELAKI itu berbisik, memberitakan kalau Abah Anom
sedang semedi, menjelang acara Seren Taun hari Minggu
(6/8) lalu. Orang dekat sesepuh Ciptarasa itu, cuma
bilang Abah Anom berpesan untuk mengatur pertemuan
lain waktu saja, karena ada hal penting akan
diutarakannya. Sementara beberapa puluh tamu yang
khusus datang ke sana, mau jumpa dan konsultasi dengan
Abah Anom Encup Sucipta (33), terpaksa bermalam dan
menanti lagi, sampai sang abah selesai menyelesaikan
tata cara adat istiadat warganya. "Sekelarnya Seren
Taun, masih dilanjutkan lagi acara sampai malam hari.
Kalau mau tunggu silakan saja," katanya.
Abah Anom sebagai pimpinan masyarakat adat ini,
diangkat menjadi pemuka masyarakat Ciptarasa sejak
umurnya baru 16 tahun. Kampung Ciptarasa sendiri,
sebetulnya kampung "baru", karena baru didirikan tahun
1984. Menurut kisah lama, Kampung Kasepuhan ini selama
1.382 tahun, sudah pindah lokasi 10 kali. Tiap
kepindahannya, tergantung wangsit yang diterima
sesepuhnya. Biasanya, kepindahan itu, berhubungan
dengan menyusut dan berkurangnya sumber air dan
kesuburan tanah.
Abah Anom dalam tuturannya, menegaskan pedoman hidup
warganya Kasepuhan, "agar hati-hati berbicara".
Kompas/johnny tg
Juga hendaknya jujur dan tulus, hingga "ngahutang kudu
mayar, nginjem kudu mulangkeun, leungit kudu daek
ngaganti" atau "utang harus bayar, meminjam harus
kembalikan, hilang harus mengganti". Begitu ditegaskan
Kusnaka Adimihardja (Sejarah Perkembangan Masyarakat
di Sekitar Gunung Salak, Gunung Gede-Pangrango, dan
Gunung Halimun, 1997)
Dalam prinsip kehidupannya, warga Kasepuhan juga
berusaha hidup tolong menolong sesuai ungkapan nulung
ka nu butuh, nalang ku nu susah, nganteur ku nu sieun,
mere ku nu daek atau "menolong yang butuh dan susah,
mengantar yang takut dan memberi kepada yang mau".
Makanya bagi mereka yang bermalam di Ciptarasa, pasti
mendapat suguhan makanan karena warga Kasepuhan
pantang menjual beras.
***
KAMPUNG Ciptarasa yang di pucuk perbukitan lereng
Gunung Halimun, dipilih sesuai wangsit, juga agar
warganya dapat leluasa menjalankan tatali paranti
karuhun atau adat istiadat leluhurnya, serta jauh agak
terpisah dengan masyarakat luar. Namun, Abah yang muda
usia ini, kata-katanya dianggap bertuah. Akibatnya
hampir setiap hari, belasan sampai puluhan tamu
berdatangan ke rumahnya, meski harus berpayah-payah
jalan kaki, atau menumpang ojek naik turun jalan curam
berbatu.
Meski warga Kasepuhan lebih dari 25.000 jiwa, menurut
beberapa sumber jumlah incu putu luar, atau warga di
luar Kasepuhan yang tidak mengikuti tradisi Kasepuhan,
namun meminta bantuan spiritual Kasepuhan, jumlahnya
diperkirakan lebih dari lima juta orang, terdiri
antara lain dari pengusaha, pedagang, pegawai negeri,
pejabat, politisi sampai artis.
Abah Anom yang selalu menegaskan dirinya bukan dukun
atau peramal, namun karena kata-katanya yang sering
mengutip tatali paranti karuhun-nya dianggap jernih
dan sejuk, membuat banyak warga non-Kasepuhan
menganggap kata-kata itu bertuah, pantas disimak dan
dijadikan pedoman bertindak.
Untuk itulah, setiap ada acara dan upacara adat
Kasepuhan, kampung terpencil yang biasanya tenang
ditaburi halimun, menjadi kampung sesak diramaikan
pertemuan rutin antarwarga Kasepuhan, juga ajang
pertemuan antartamu non-Kasepuhan. Kampung di ujung
batas hutan itu, dari jauh sudah terdengar suara dan
bunyi paduan lantunan ritual, berikut denting kecapi
sulingnya.
Padahal beberapa saat sebelum acara mulai, kampung itu
hiruk pikuk dengan suara pesinden wayang golek,
bercampur dentang ketipung dan detak kendang, dentuman
gong dan canang, serta gemerosok bunyi pengeras suara
meneruskan suara nyaring penyanyi jipeng, jaipong,
calung dan seni hiburan populer masyarakat di salah
satu pojokan pedesaan, antara Pelabuhanratu dan
Cisolok di Jawa Barat.
Seren Taun memang acara ritual warga Kasepuhan,
sekaligus juga acara pesta rakyat buat warga lain di
sekitarnya, termasuk tamu dan undangan dari kota lain
yang tidak memiliki acara Seren Taun. (jpe/muk/bd)
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/