PR. Artikel. Sabtu, 27 Desember 2003
Ciptarasa Setelah Ditinggal Abah Anom
Menjadi Objek Wisata yang Bisa Banyak Menarik Turis
Mancanegara
HARI menjelang siang ketika tiba di depan gapura
Kampung Ciptarasa Desa Sirnarasa Kecamatan Cikakak
Kabupaten Sukabumi. Matahari tidak terlalu memancarkan
sinarnya, terhalang awan berkabut. Udara terasa sejuk
menyegarkan. Taman Nasional (TN) Gunung Halimun yang
membentang tampak hijau, rimbun dengan pepohonan.
Di kiri kanan jalan hamparan sawah, berundak-undak
mengikuti bentuk alam yang berbukit-bukit. Beberapa
warga, perempuan dan laki-laki, tampak sedang
menaburkan pupuk pada tanaman padi yang baru berusia
sebulan lebih. Ada pula yang tengah membetulkan
saluran air. Satu dua anak tampak sedang bermain-main
di pinggir sawah.
Jalan desa yang masih berbatu terus menanjak dan
berkelok-kelok. Tukang ojek sangat hati-hati sekali
menjalankan motornya. Ceroboh sedikit akibatnya bisa
fatal, jatuh di bebatuan dan tidak mustahil sampai
terguling-guling ke dasar jurang. "Tetapi, seingat
saya, tak pernah ada kecelakaan seperti itu," ujar
tukang ojek.
Sesekali terlihat aliran Sungai Cimaja, menuruni
lembah di antara perbukitan yang menjulang tinggi.
Airnya sangat jernih. Di antara bebatuan, buihnya
terlihat seperti mutiara berkeliauan. "Di dekat
hulunya, air Cimaja bisa langsung diminum," ujar
Pendi, asal Cianjur yang beberapa bulan tinggal di
Ciptarasa.
Rumah-rumah di Ciptarasa tetap seperti ketika
Ciptarasa masih menjadi pusat ada kasepuhan; berbentuk
panggung dan beratap ijuk. Ada satu dua rumah yang
sudah berjoglo, mengikuti tren rumah di luar
Ciptarasa. "Dulu rumah di sini tidak pakai joglo,
semuanya sama," ujar Kokon, salah seorang Ketua RT di
Ciptarasa.
Leuit (lumbung padi) di beberapa tempat, termasuk di
halaman bekas imah gede (rumah kediaman ketua adat)
berjejer rapi sekali. Saung lisung (bangunan tempat
menumbuk padi) bersembulan di antara rumah penduduk.
Dari sebuah saung lisung, dekat mesjid, terdengar
bertalu-talu suara tumbukan alu, menimbulkan irama
tersendiri.
Menurut Kokon, walaupun tidak lagi menjadi pusat adat
kasepuhan, kehidupan di Kampung Ciptarasa yang
berpenduduk 240 jiwa (60 KK) ini nyaris tidak berubah.
"Ketentuan adat harus tetap diindahkan. Misalnya tidak
boleh membuat rumah dari tembok, harus menanam pare
gede (padi yang dipanen setahun sekali)," katanya.
Upacara-upacara adat yang bertalian dengan pertanian
atau bercocok tanaman masih tetap berjalan. Misalnya
ngaseuk (menanam padi di ladang), mipit atau nyalin
(upacara pendahuluan sebelum panen), seren taun
(upacara adat setelah panen, yang biasanya
dilaksanakan bulan Agustus), nganyaran (makan nasi
pertama dari hasil panen), dan sebagainya.
Koko menyebutkan masarakat tetap menganggap dirinya
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kasepuhan yang
kini tidak lagi berada di Ciptarasa. "Kami tidak ingin
ikatan dengan pusat adat kasepuhan menjadi lemah,
apalagi lepas sama sekali," katanya. Masarakat,
demikian Kokon, menginginkan Ciptarasa jadi pilar
utama Kasepuhan.
Hal yang sama diutarakan oleh generasi muda Ciptarasa.
"Kami sama sekali tidak punya niat untuk melepaskan
diri dari ikatan Kasepuhan," kata Eneng (16).
Menurutnya bolehlah kaum mudanya mengikuti
perkembangan zaman, tetapi tetap dalam karidor adat
Kasepuhan Kidul. "Kami harus menjungjung tinggi budaya
kami sendiri," ujarnya.
Eneng menyebutkan ketika pusat adat Kasepuhan
dipindahkan dari Ciptarasa ke Ciptagelar, bulan Juli
2001 silam, memang terasa ada sesuatu yang hilang di
Ciptarasa. "Misalnya kami jarang lagi ketemu Abah Anom
(ketua adat Kasepuhan - red.). Kami pun kehilangan
para sesepuh yang senantiasa siap sedia jika diminta
bantuan warga," ujar Eneng.
Eneng dan masyarakat Ciptarasa tidak bisa mencegah
kepindahan Abah Anom dan baris kolot (para pembantu
Abah Anom). "Abah Anom sendiri tidak bisa menolak
wangsit (pesan leluhur), apalagi kami," ujar Eneng.
Oleh karena itu, Eneng dan juga warga lainnya hanya
bisa berupaya agar hubungan Ciptarasa dengan pusat
adat Kasepuhan tetap terjaga.
Keinginan masyarakat Kampung Ciptarasa tersebut sesuai
dengan rencana Abah Anom. "Ciptarasa akan dijadikan
pekarangan atau etalase Kasepuhan Ciptagelar,"
katanya.
Lebih dari itu, bagi Abah Anom, Ciptarasa memiliki
arti tersendiri yang tidak mungkin dilupakan sepanjang
hayatnya.
Keinginan Abah Anom semakin kuat setelah melihat hasil
revitalisasi Kampung Ciptarasa yang didanai Departemen
Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Jakarta.
Jalan dan gang di Ciptarasa diperlebar serta dibatu.
Juga dibangun home stay, panggung terbuka, fasilitas
umum, saung parangreureuhan (tempat istirahat) di
beberapa tempat, dan ruang pamer.
Bekas imah gede (rumah tinggal Abah Anom) pun yang
terletak di atas perumahan penduduk diperbaiki dan
dipercantik. Demikian pula pekarangannya yang cukup
luas, bahkan kini ada kolam segala, di depan home
stay. "Saya sendiri pangling melihatnya," ujar Abah
Anom. Ciptarasa sekarang, katanya lagi, jauh lebih
baik dan tertata rapi.
Menurutnya sewaktu masih tinggal di Ciptarasa tidak
bisa berbuat apa-apa untuk memoles perkampungannya.
Apalagi membuat fasilitas umum. "Kami teu boga duit
(saya tidak punya uang - red.)," katanya merendah.
Malah waktu ditinggalkan dua tahun yang lalu, kata
Abah Anom, Ciptarasa acak-acakan. "Ada beberapa rumah
yang harus dibongkar, dipindahkan ke Ciptagelar,"
ujarnya.
Melihat keadaannya yang kini bertambah memikat, Abah
Anom merencanakan selain jadi etalase Ciptagelar,
Ciptarasa juga akan dijadikan tempat wisata.
"Ciptarasa, menurutnya, bisa dijual; alamnya,
adat-istiadatnya, dan seni budayanya. "Mata
pencaharian penduduknya pun bisa dijadikan daya tarik
sendiri," ujar Abah Anom.
Dicontohkan, cara menyadap (menampung air nira di
pohon aren), cara memasak air nira, membajak sawah,
merupakan atraksi wisata yang memikat. Demikian pula
upacara-upacara adat. "Kami pun bisa menampilkan seni
tradisional, seperti genjring, penca silat, dog-dog
lojor, topeng, jipeng, angklung, dan banyak lagi,"
kata Abah Anom.
Oleh karena itu, Abah Anom optimistis, Ciptarasa akan
menjadi tempat wisata budaya yang memikat terutama
untuk turis mancanegara. "Tentu saja harus
dipromosikan dengan baik, membuat brosur, dan kerja
sama dengan biro-biro wisata, baik yang di luar negeri
maupun yang ada di negara kita," katanya.
Ciptarasa, menurut Abah Anom, akan melengkapi aset
wisata di Kabupaten Sukabumi yang ibu kotanya baru
dipindahkan ke Palabuhanratu. "Kabupaten Sukabumi
sudah punya wisata alam yang telah terkenal,
Palabuhanratu. Nah Ciptarasa merupakan tempat wisata
budaya," katanya.
Untuk menjaga dan memelihara adat, Abah Anom,
mengemukakan bahwa wisata budaya yang dikembangkan
adalah wisata yang terkontrol. "Pengaruh dari luar
yang bisa merusak tatanan adat bisa dihindari,"
katanya. Kalau pengaruh dari luar memorak-porandakan
adat, menurut Abah Anom, Ciptarasa tidak lagi memiliki
dari tarik, tidak berbeda dengan perkampungan yang
lain.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi sendiri yang
telah merencanakan Ciptarasa jadi tempat wisata budaya
mengharapkan Ciptarasa tetap terjaga seperti ketika
masih jadi pusat adat kasepuhan. "Karena, itulah daya
tariknya," kata H. Maman Sulaeman Bupati Sukabumi.
(Nanang S./"Galura")***
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/