----- Original Message -----
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: 07 Nopember 2003 8:30
Subject: [yonsatu] Re: Pemaksaan berjilban (Re: Re: Sekularisme)

> "Hanya" seorang wisudawati, bandingkan .... pada tahun 84
> (saja) lebih dari 100 orang siswi SMA di Tasik (saja) dipaksa
> menanggalkan jilbab atau pindah sekolah!

He he he, iya dong 'Doeng, yang cerita sih tentu ya hanya seorang, mosok
berbondong-bondong mahasiswi cerita sama saya, emangnya saya ketua komisi-6
DPR...
Itu pun juga yang seorang itu menyampaikan ceritanya dalam situasi casual,
bukan sebagai delegasi demo.

Tetapi seorang pencerita itu kan mewakili sekian orang.
Hanya saja saya tidak tanya dia menceritakan tentang berapa orang karena
yang disampaikannya bukan kasus statistik tetapi kasus fenomena.

Sama juga, 100 orang siswi Tasik kan nggak seratus-seratusnya menghadap
Doedoeng, lalu menceritakan kasus mereka. Emangnya Doedoeng ketua DPRD
Tasik.

Tentunya hanya 1 orang yang bercerita ke Doedoeng tentang 100 orang lainnya.
Bahkan barangkali Doedoeng pun tidak dengar langsung dari satu siswi pun,
melainkan hanya dengar atau baca kabarnya saja.
Begitu pun, angka yang 100 itu, saya yakin hanya fenomenal bukan
statistikal.

-------------------------

Saya bicara mengenai medio 1990-an, tetapi lalu Doedoeng bandingkan dengan
1984.
Jelas paradigma ipoleksosbud-nya beda sekali.

Kayak nggak tahu aja 'Doeng, kalau tahun 1980-an aparat disuruh Soeharto
untuk menekan Islam, karena dianggap membahayakan kekuasaan korup-nya,
sedangkan 1990-an, setelah pencalonan Habibie sebagai wapres ditelikung
ABRI, Soeharto mem-baik2-i Islam untuk diadu dengan ABRI demi mempertahankan
kekuasaan korup-nya.

Jadi sikon-nya terlalu jauh untuk membanding-bandingkan urusan jilbab tahun
1980-an dan 1990-an.

Sama saja urusan jihad.
Tahun 1980-an nggak ada aktivis Islam berani ngaku dia berjihad, padahal
katakanlah jihadnya dia itu waktu itu jihad positif, bukan teror.
Sedangkan sekarang ini keluarga seorang teroris pun tidak perlu takut untuk
mengaku-ngaku anggota keluarganya itu mati jihad.
Terlalu jauh kalau mau dipadankan 'Doeng...


==========================

> Logik saja, punya "power" apa aktivis mesjid "memaksa"
> mahasiswi di kampusnya untuk berjilbab??

Ah, pura-pura nggak tahu nih 'Doeng?
Di semua kampus sekarang ini (kalau di ITB malahan sudah demikian waktu saya
masih kuliah), kan pelajaran agama diberikan di tingkat awal (tingkat I,
atau tingkat I dan II), di mana yang menjadi asisten-dosennya, khususnya
untuk agama Islam, adalah para aktivis mesjid kampus.
Dan memang di tingkat I dan II inilah, 'intimidasi' itu, kalau ada pada
suatu kampus, umumnya diawali. Mumpung para mahasiswi-nya masih sangat
yunior.

Untuk tingkat-tingkat/semester-semester selanjutnya, seperti dikatakan si
wisudawati itu juga, kalau di antara para mahasiswi ada yang nggak nurut,
para aktivis mesjid kampus itu juga nyatanya nggak bisa apa-apa.
Sementara itu sebagian mahasiswinya lagi, karena sudah kepalang merasakan
'power'-nya para asisten-dosen itu, mereka tetap nggak berani ambil risiko.

> Wassalam.
> DZArifin

Selamat berpuasa, 'Doeng, dan wasalam.



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke