Hallo rekan Doedoeng,
>Pertanyaan saya, apakah UU yang melarang penggunaan jilbab juga
>bisa dianggap sebagai pemaksaan kehendak oleh "mayoritas yang
>tidak menghendaki pemakaian jilbab" terhadap "minoritas pemakai
>jilbab", dan sebagai legalisasi "keyakinan" bahwa berjilbab itu
>urusan agama dan UU adalah urusan negara?
>Bagaimana kalau kondisinya terbalik, misalnya ada UU (yg
>berarti suara mayoritas) yang mengatur bahwa berjilbab itu
>boleh dan mengatakan bahwa negara merupakan sarana dalam
>beragama?
Menurut saya kedua contoh yang anda sebut boleh-boleh aja. Yang penting
adalah apakah keputusan itu bisa diterima oleh semua pihak, atau telah
sesuai dengan aturan main yang telah disepakati bersama. Wong anda kalau
mau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam juga boleh kok, asalkan
seluruh rakyat Indonesia (atau mayoritas) menyetujuinya dengan ikhlas.
>Saya berani bertaruh, bahwa lebih banyak wanita yang dipaksa
>tidak berjilbab (oleh sekolah, kantor, pacar, orang tua, dan
>kiai seperti Gus Dur) dibanding sebaliknya.
>Saya mengalami fase tersebut pada tahun 80 - 90 an.
Apakah ini suatu kebanggaan atau menunjukkan fakta bahwa yang seperti ini
seharusnya nggak boleh terjadi?
>Apakah hal itu terjadi juga pada "keyakinan sekularisme" yang
>menganggap bahwa kalau sudah "haram" agama mencampuri negara ya
>tetap "haram".
Setahu saya sekularisme tidak mengharamkan agama. Coba saja anda lihat
negara2 sekular yang maju, mereka mendukung kok kebutuhan rakyatnya untuk
beribadah. Malah yang atheispun dilindungi hak-hak hidupnya.
>Saya melihatnya kok terbalik, saya melihat justru saat ini
>perang bukan karena agama, coba sebut perang mana yang karena
>agama pada abad XX dan XXI ini?
Oo, ini maksud saya, kalau kita lihat sejarah perkembangan Islam dulu.
Coba kalau dulu perang nggak dipakai dalam penyebaran agama, saya nggak
yakin Islam dan Kristen/Katholik akan berkembang seperti sekarang ini.
Jadi, saya cuma mau bilang, bahwa jaman dulu paksa memaksa, bunuh membunuh
demi agama itu masih bisa, tapi sekarang coba aja kalau nggak takut di bom
sama US.
>Mungkin untuk agama lain ya statis (mohon maaf bila saya salah,
>ini berdasar pendapat Pak HermanSyah saja), saya melihat Islam
>sangat dinamis untuk hal-hal yang tidak diatur oleh Alloh
>langsung. Sama seperti statisnya "vox populi vox dei" yang
>tidak berubah menjadi "vox populi vox evil"
Ha ha ha, memang kalau diskusi soal agama itu hati bisa panas, 'dei' bisa
berubah jadi 'evil'. Namanya juga keyakinan, yang bicara itu yang didalam
dada, bukan yang didalam kepala. Tapi, kalau kita lihat aktivitas2
ritualnya dan dogma2nya, agama itu kan statis. Karena agama memang nggak
sama dengan ilmu pengetahuan yang terus menerus berkembang. Ya nggak
apa2, memang agama itu mungkin musti begitu, walaupun dalam agama Kristen
saya lihat, telah terjadi perkembangan kegiatan ritual dari berdoa yang
dulunya dengan diiringi orgel, menjadi berdoa dan bernyanyi dengan
diiringi musik.
Tapi ada satu hal yang abadi dari agama2 itu, yaitu ajaran untuk berbuat
baik, ajaran untuk mengasihi sesama, ajaran untuk menjaga keseimbangan
alam semesta, ajaran untuk tidak takabur dan ajaran untuk mengakui
keagungan Tuhan.
Sekarang tergantung dari diri kita masing2, bagaimana kita melihat agama
itu, apakah dari aturan2nya dan aktivitas ritualnya, atau dari inti
sarinya?
>Dalam Islam namanya bukan memaksakan kehendak, tapi "mengajak"
>atau dakwah, tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam, sama
>seperti tidak ada paksaan untuk berdemokrasi, tapi kalau sudah
>masuk dalam kancah demokrasi, ya pasti harus ikut aturan
>mainnya.
Saya setuju ini. Kalau nggak mau ikut aturan mainnya, itu berarti bunglon
dong. Itu sama aja dengan yang anda bilang itu, sekalipun 50 tahun
berkeliaran dekat Kaabah, ya tetep aja unta. Mendingan keluar dari agama
yang dianut itu.
Yang jadi masalah menurut saya adalah bahwa banyak sekali orang memeluk
agama tertentu karena orang tuanya beragama tsb. Saya kira sedikit sekali
saat ini yang memilih agama berdasarkan pilihannya sendiri. Orang2 yang
memeluk agama hanya berdasarkan turun temurun ini menurut saya hidupnya
dapat menjadi sangat terjepit. Disatu pihak mereka tidak bisa menerima
aturan main agama itu, karena nggak atau belum cocok dengan akal pikiran
dan hati nurani mereka, akan tetapi di pihak lain takut meninggalkan agama
itu, karena mereka sudah keburu takut masuk neraka. Akhirnya mereka cuma
jadi 'floating mass' saja. Ke kiri ayo, ke kanan ayo, kalau didepan
bilang A, di belakang bilang Z.
Tapi nggak sedikit juga dari orang2 ini yang menjadi sangat fanatik dengan
agamanya, karena ya dari turun temurunnya diajarkannya begitu. Orang2 ini
hanya berpikiran bagaimana caranya bisa menjadikan manusia diseluruh dunia
ini menganut agama yang sama dengannya.
Kita sendiri berada dimana? Sebagai seorang cendekiawan yang berakal
budi, saya kira kita mustinya tidak termasuk kedalam salah satu dari kedua
jenis manusia itu.
Salam hangat,
HermanSyah XIV.
<[EMAIL PROTECTED]>
11/06/2003 13:47
Please respond to yonsatu
To: <[EMAIL PROTECTED]>
cc:
Subject: [yonsatu] Re: Sekularisme
AWW.
Menarik sekali komentar Pak HermanSyah ini.
Pertanyaan saya, apakah UU yang melarang penggunaan jilbab juga
bisa dianggap sebagai pemaksaan kehendak oleh "mayoritas yang
tidak menghendaki pemakaian jilbab" terhadap "minoritas pemakai
jilbab", dan sebagai legalisasi "keyakinan" bahwa berjilbab itu
urusan agama dan UU adalah urusan negara?
Bagaimana kalau kondisinya terbalik, misalnya ada UU (yg
berarti suara mayoritas) yang mengatur bahwa berjilbab itu
boleh dan mengatakan bahwa negara merupakan sarana dalam
beragama?
Wassalam. DZArifin.
O ya, informasi tsb dari republika.co.id hari ini 06112003.
___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id
--[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>