AWW.

.........Wong
anda kalau
mau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam juga boleh kok,
asalkan
seluruh rakyat Indonesia (atau mayoritas) menyetujuinya dengan
ikhlas..............

Saya sepakat bahwa suara mayoritas bisa �menentukan� kebijakan,
namun tidak bisa menentukan �kebenaran�.

>Saya berani bertaruh, bahwa lebih banyak wanita yang dipaksa
>tidak berjilbab (oleh sekolah, kantor, pacar, orang tua, dan
>kiai seperti Gus Dur) dibanding sebaliknya.
>Saya mengalami fase tersebut pada tahun 80 - 90 an.

........Apakah ini suatu kebanggaan atau menunjukkan fakta
bahwa yangseperti ini
seharusnya nggak boleh terjadi?..........

Tentu nomor dua dong Pak.



............Setahu saya sekularisme tidak mengharamkan agama. 
Coba saja andalihat
negara2 sekular yang maju, mereka mendukung kok kebutuhan
rakyatnya untuk
beribadah.  Malah yang atheispun dilindungi hak-hak
hidupnya............
Betul sekularisme tidak mengharamkan agama, tapi mengharamkan
�agama sampur tangan� dalam urusan Negara. Di sini yang saya
belum bisa faham, bagaimana mungkin agama �ditinggalkan� oleh
Negara, padahal apa yang diurus oleh agama (Islam), diurus oleh
pula oleh Negara. Misal, agama mengatakan bahwa �pendusta
agama� adalah mereka yang tidak mau memelihara anak yatin dan
menganjurkan memberi makan orang miskin. Negara juga. Agama
mengatakan bahwa cinta tanah air sebagian dari iman, Negara
juga. Agama mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat terhadap sesame, Negara juga, dlsb. Lantas
agama akan diberi porsi apa? Dan apa hak kita sebagai penganut
agama tersebut �mengebiri� atau �membonsai� agama sehingga
tersudut di pojok mesjid atau mushola.
Kalau pun negara sekuler mendukung kebutuhan rakyatnya untuk
beribadah, itu hanya dalam konteks ritual. Islam bukan sekedar
ritual, memenuhi timbangan dalam berjual beli adalah ibadah,
menjadi seorang ilmuwan adalah ibadah, menjadi aktivis partai
ibadah, bahkan membuang duri di jalan pun ibadah. Kalau sudah
begini, pasti mereka tidak memberi, wong jilbab saja dilarang.

...........Oo, ini maksud saya, kalau kita lihat sejarah
perkembangan Islamdulu.
Coba kalau dulu perang nggak dipakai dalam penyebaran agama, saya
nggak
yakin Islam dan Kristen/Katholik akan berkembang seperti sekarang
ini.................

Mungkin saja ada kasus seperti itu (mohon diberikan contoh
untuk kasus penyebaran agama Islam), namun saya yakin itu
adalah penyimpangan, karena Rasululloh tidak pernah mengajarkan
demikian. Sama seperti penyimpangannya penyebaran demokrasi
dengan cara perang oleh US. Dalam Islam, perang hanya diizinkan
apabila terdesak, bukan dalam konteks offensif.

>Mungkin untuk agama lain ya statis (mohon maaf bila saya salah,
>ini berdasar pendapat Pak HermanSyah saja), saya melihat Islam
>sangat dinamis untuk hal-hal yang tidak diatur oleh Alloh
>langsung. Sama seperti statisnya "vox populi vox dei" yang
>tidak berubah menjadi "vox populi vox evil"

.........Ha ha ha, memang kalau diskusi soal agama itu hati
bisa panas,'dei' bisa
berubah jadi 'evil'.  Namanya juga keyakinan, yang bicara itu yang
didalam
dada, bukan yang didalam kepala...............

Itulah bedanya demokrasi dalam Islam dengan demokrasi sekuler,
semua nilai positif demokrasi maujud dalam Islam, namun dalam
demokrasi sekuler bisa menjadi vox populi vox evil, contoh,
�penghalalan� narkoba, miras, pelacuran, lesbi dan gay bisa
terjadi dalam demokrasi sekuler.

.........Tapi, kalau kita lihat aktivitas2
ritualnya dan dogma2nya, agama itu kan statis.  Karena agama
memang nggak
sama dengan ilmu pengetahuan yang terus menerus
berkembang............
Inilah bedanya sekularisme dengan Islam yang memandang bahwa
Ilmu Pengetahuan adalah bagian integral dari agama. �tidak ada
agama tanpa akal� demikian salah satu hadits. Karena itu agama
menjadi sangat dinamis, karena berbagai lapangan ilmu
pengetahuan adalah lapangan agama juga. Dalam urusan duniawi,
agama diserahkan kepada kita, �antum a�lamu biumuri dunyakum�,
kalian lebih mengetahui urusan duniamu, jawab Rasululloh ketika
ditanya bagaimana cara menanam kurma yang baik.


...........Ya
nggak
apa2, memang agama itu mungkin musti begitu, walaupun dalam agama
Kristen
saya lihat, telah terjadi perkembangan kegiatan ritual dari berdoa
yang
dulunya dengan diiringi orgel, menjadi berdoa dan bernyanyi dengan
diiringi musik.................


Saya no comment untuk Kristen. Namun dalam Islam, apabila
perubahan atau perkembangan itu pada konteks instrumental, saya
kira its ok. Misal, dulu haji pake unta dan jalan kaki,
sekarang pake pesawat, kapal dan kendaraan bermotor lainnya.

Wassalam. DZArifin


___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke