AWW.

Nambah lagi Pak.


>
> Repotnya lagi yang namanya keyakinan itu kan nggak bisa
> dinegosiasikan,  nggak bisa ditawar-tawar.  Kalau sudah
> katanya haram, ya haram.  Kalau  sudah katanya bakalan masuk
> neraka jahanam, ya masuklah ke neraka jahanam.
> Kalau keyakinan ini hanya untuk diri sendiri, ya tentu baik2
> saja.  Tapi,
> kalau keyakinan ini sudah mulai untuk ditularkan ke orang2
> di
> sekelilingnya, apalagi dengan cara pemaksaan, ya itu tadi,
> mulailah  konflik dengan nilai2 humanisme muncul.

Apakah hal itu terjadi juga pada "keyakinan sekularisme" yang
menganggap bahwa kalau sudah "haram" agama mencampuri negara ya
tetap "haram".
Kalau dulu orang bisa
> menyatakan perang demi agama,  sekarang orang mencoba
> menghindari perang sebanyak-banyaknya.  Pada dekade  bintang
> John-Lennon masih hidup, orang2 malah berteriak 'better make
> love  than make war'.

Saya melihatnya kok terbalik, saya melihat justru saat ini
perang bukan karena agama, coba sebut perang mana yang karena
agama pada abad XX dan XXI ini?
> Sementara agama bagamana?  Agama itu menurut saya statis,
> sekalipun para  ahli agama selalu mencoba menarik garis
> penghubung antara jaman pada saat  agama itu diturunkan
> dengan keadaan jaman sekarang.  Ya, wajar2 saja.  Namanya
> juga menyebarkan keyakinan.  Jadi, segala upaya akan dicari
> untuk  menunjukkan bahwa agama adalah solusi untuk masalah2
> kehidupan di segala  jaman.

Mungkin untuk agama lain ya statis (mohon maaf bila saya salah,
ini berdasar pendapat Pak HermanSyah saja), saya melihat Islam
sangat dinamis untuk hal-hal yang tidak diatur oleh Alloh
langsung. Sama seperti statisnya "vox populi vox dei" yang
tidak berubah menjadi "vox populi vox evil"
> Tinggal sekarang kita sendiri maunya bagaimana.  Sebagai
> orang yang hidup  diabad modern ini, sebagai orang yang
> merdeka dan yang mempertanggung  jawabkan langsung
> perbuatan2 kita kepada Tuhan YME, ingin bersikap  bagaimana
> terhadap agama itu?
>
> The choice is yours.  Akan tetapi, kalau kita sudah memulai
> memaksakan  keyakinan kita itu kepada orang lain, maka
> seperti saya sebutkan diatas,  konflik humanisme akan
> muncul.  Kalau kita tidak mau menerima kenyataan  ini,
> sebaiknya kita masuk ke terowongan waktu, lalu go back to
> the past  saja!.

Dalam Islam namanya bukan memaksakan kehendak, tapi "mengajak"
atau dakwah, tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam, sama
seperti tidak ada paksaan untuk berdemokrasi, tapi kalau sudah
masuk dalam kancah demokrasi, ya pasti harus ikut aturan
mainnya.
Sampai saat ini, saya melihat masih lemah argumen bahwa agama
tidak bisa masuk dalam kehidupan bernegara.
Wassalam. DZArifin


___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke