AWW > >> "Hanya" seorang wisudawati, bandingkan .... pada tahun 84 >> (saja) lebih dari 100 orang siswi SMA di Tasik (saja) >> dipaksa >> menanggalkan jilbab atau pindah sekolah! > > He he he, iya dong 'Doeng, yang cerita sih tentu ya hanya > seorang, mosok berbondong-bondong mahasiswi cerita sama > saya, emangnya saya ketua komisi-6 DPR... > Itu pun juga yang seorang itu menyampaikan ceritanya dalam > situasi casual, bukan sebagai delegasi demo. > > Tetapi seorang pencerita itu kan mewakili sekian orang. > Hanya saja saya tidak tanya dia menceritakan tentang berapa > orang karena yang disampaikannya bukan kasus statistik > tetapi kasus fenomena.
Inilah nikmatnya kalau diskusi dengan Pak Joni, lugas dan rasional. Makanya pak saya tulis "hanya" (dalam tanda petik), supaya tidak kemudian diinterprtasikan hanya satu orang. > Sama juga, 100 orang siswi Tasik kan nggak > seratus-seratusnya menghadap Doedoeng, lalu menceritakan > kasus mereka. Emangnya Doedoeng ketua DPRD Tasik. Kalau yang ini 100-an lebih betul-betul saya menghadapi langsung, karena sat itu saya ketua OSIS SMA 2 Tasikmalaya (maaf tahunnya yang betul adalah 1986) dan juga ketua PII (yang ini singkatan Pelajar Islam Indonesia) yang bertugas mengadvokasi mereka yang mendapat masalah dengan jilbabnya. Sebagian besar dari mereka akhirnya terpaksa menanggalkan jilbab karena tekanan dari orang tua yang melarang anaknya pindah ke sekolah NU atau Muhammadiyah. Soal DPRD Tasik .... lewat atuh (kalo pake istilahnya Pak Joni, karena saya ekek yang lain cuman modal preman), malah saya dicalonkan sebagai DPR pusat sayang kalah senior dengan Mas Hatta. > Tentunya hanya 1 orang yang bercerita ke Doedoeng tentang > 100 orang lainnya. Bahkan barangkali Doedoeng pun tidak > dengar langsung dari satu siswi pun, melainkan hanya dengar > atau baca kabarnya saja. > Begitu pun, angka yang 100 itu, saya yakin hanya fenomenal > bukan > statistikal. > > ------------------------- >> Logik saja, punya "power" apa aktivis mesjid "memaksa" >> mahasiswi di kampusnya untuk berjilbab?? > > Ah, pura-pura nggak tahu nih 'Doeng? Wah Pak sumpah saya ga tahu (lagi puasa nih, masak saya bohong), karena jaman saya kuliah tidak ada fenomena "pemaksaan" tersebut. Padahal saya juga tidak terlalu aktif di Salman, sekedar anggota Gamais saja. > Di semua kampus sekarang ini (kalau di ITB malahan sudah > demikian waktu saya masih kuliah), kan pelajaran agama > diberikan di tingkat awal (tingkat I, atau tingkat I dan > II), di mana yang menjadi asisten-dosennya, khususnya untuk > agama Islam, adalah para aktivis mesjid kampus. > Dan memang di tingkat I dan II inilah, 'intimidasi' itu, > kalau ada pada suatu kampus, umumnya diawali. Mumpung para > mahasiswi-nya masih sangat yunior. > > Untuk tingkat-tingkat/semester-semester selanjutnya, seperti > dikatakan si wisudawati itu juga, kalau di antara para > mahasiswi ada yang nggak nurut, para aktivis mesjid kampus > itu juga nyatanya nggak bisa apa-apa. > Sementara itu sebagian mahasiswinya lagi, karena sudah > kepalang merasakan 'power'-nya para asisten-dosen itu, > mereka tetap nggak berani ambil risiko. > >> Wassalam. >> DZArifin > > Selamat berpuasa, 'Doeng, dan wasalam. > > > > --[YONSATU - > ITB]---------------------------------------------------------- > Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> > Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > Vacation : > <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
