Sedikit menanggapi komentar akh Firmansyah, coba diperhatikan lagi artikel ttg risywah (suap) termasuk ghulul, begitupula hadits pemungut zakat yg diperintahkan oleh rasulullah dan yg menjadi hadits pokok dlm masalah risywah dan ghulul.
dalam masalah ini harus dibedakan status pegawai dgn status usaha sendiri. 1. risywah itu terkait dgn pekerjaan seseorang yg telah menjadi kewajibannya dan digaji atas pekerjaannya tsb. jika orang tsb menerima suatu hadiah berbentuk apapun dr seseorang krn terkait jabatan atau pekerjaannya itu, -padahal dia sdh menerima gaji-, maka hal ini termasuk ghulul atau risywah. contoh praktis adalah pegawai negeri di kantor kelurahan. sudah lumrah pengerjaan ktp adalah tugas mereka dan berlaku tarif resmi untuk itu, tapi jika petugas menerima hadiah dr warga atas jasanya mengurus pendaftaran KTP padahal pekerjaan itu memang sdh menjadi tugasnya dan digaji untuk itu, maka uang tsb termasuk risywah atau ghulul (uang khianat). 2. adapun praktek dokter yg dibuka saat ini maka hal ini termasuk usaha dr dokter itu sendiri, tdk berada di bawah naungan instansi tertentu dan seperti yg saya kemukakan di atas apabila memang kebijakan perusahaan adalah memberi bonus atau komisi thdp dokter atas jasanya maka hal tersebut tidaklah mengapa, krn 'illah pd hadits yg disebutkan tadi tdk terdapat pd praktek semacam ini. Ini jika dilihat dari sisi doktern, artinya tidaklah mengapa dokter itu menerima uang tsb. 3. adapun alasan antum [karena iming-iming akan diberikan hadiah itu "bisa mempengaruhi keputusan dokter] maka kita katakan memang hak dokter adalah untuk memberikan resep, yg paling banter kita katakan jika dokter tsb memilih obat distributor yg memberikan bonus yg lebih besar adalah dokter tsb tlah menyelisihi kode etik kedokteran. 4. yg di atas jika dilihat dr sisi dokter. jika dilihat dari sisi pegawai salesnya. apabila sales tsb menerima tip dr dokter krn jasanya sementara dia telah digaji&tdk ada kebijakan dr perusahaan bhw sales boleh menerima tip, maka hal ini termasuk ghulul (uang khianat). lain halnya jika ada kebijakan perusahaan yg membolehkan hal tsb, maka krn status perusahaannya swasta, boleh bagi sales tsb menerimanya. hal ini sejalan dgn artikel akh abduh tuasikal yg ana link. 5. jadi, menurut ana analogi yg digunakan oleh akh hanif sudah tepat. dan dalam permasalahan risywah ini memang harus dirinci dgn meneliti dalil2 terkait. wallahu ta'ala a'lam. Pada tanggal 16/12/10, Firmansyah Lukman <[email protected]> menulis: > Pak Hanif, > Saya rasa menggambarkan hubungan antara dist. farmasi - dokter = owner 1 - > owner 2 tidak lah terlalu tepat. > > Pemberian hadiah kepada dokter oleh dist. farmasi sudah jelas-jelas adalah > bentuk dari suap. Karena iming-iming akan diberikan hadiah itu *"bisa > mempengaruhi keputusan dokter"*. Itulah inti permasalahannya. > > @Pak Ali Saman > Kebetulan saya bekerja di dist. farmasi walaupun bukan di divisi sales. Info > yang saya tahu, tiap salesman akan mendapatkan bonus dari perusahaan tiap > bulan (bervariasi) jika berhasil mencapai target penjualan dari principal > (produsen obat) yang dipegangnya. Jika salesman tidak mencapai taget, dia > hanya dapat Take Home Pay biasa. Jadi perusahaan dist. farmasi sudah > "meng-halal-kan" perbuatan suap ke dokter untuk mencapai target penjualan. > > Artikel Muhammad Abduh Tuasikal yang di-link oleh Pak Ichwan sudah cukup > untuk menjelaskan hal ini. > > Mohon maaf jika dinilai menggurui. > > > > > 2010/12/15 Hanif <[email protected]> > >> >> >> Pertanyaannya, pasien mana yg mau dibohongi dokter saat ini? >> >> Ada dokter yg laku keras dan ada yg nggak laku. Pasien itu kan konsumen. >> Dia akan pilih dokter yg beruptasi baik dan nggak asal pilih. >> >> Dokter yg cerdas, akan tahu obat mana yg cocok utk penyakit X. Dan nggak >> asal comot. Jika dia asal comot utk ngejar target "komisi" dari perusahaan >> farmasi, salah2 dia menjadi dokter yg nggak laku. Apa nggak malah rugi? >> >> Dan sudah jadi rahasia umum kalo si dokter itu laku keras, tarif berapapun >> maka pasien akan tetap mau bayar. Inilah yg dinamakan reputasi. Reputasi >> itu >> mahal tak ternilai harganya ketimbang komisi perusahaan farmasi. >> >> Dan apakah dokter masa kini itu di-qiyas-kan sbg pegawai ataukah >> pengusaha? >> Seorg pengusaha A yg telah membeli barang banyak dari pengusaha B, maka >> wajar saja jika si B ingin memberi komisi kepada si A utk menjaga hubungan >> baik. Apakah pengusaha A disuap pengusaha B? Ingat, ini hubungan antar >> pengusaha yg sama2 owner perusahaan. >> >> >> >> hanif >> >> >> >> 2010/12/15 probo nurwachid <[email protected]> >> >> >>> >>> Sales obat tentu terikat gaji dg perusahaannya. Dan perusahaanlah yg >>> membayar bonus tsb,bkn dr uang pribadi. Itu memang bagian dana promosi >>> obat. Kalau di consumer good dana itu biasa dialokasikan ke iklan atau >>> hadiah utk toko dg jumlah pembelian tertentu. >>> >>> Masalahnya bkn pd hubungan sales dan perusahaannya,tp tentang boleh >>> tidaknya pihak ketiga memberi bonus ke dokter. Dalam banyak kasus, >>> perusahaan obat bs mendikte dokter dg bonusnya. >>> >>> Perusahaan2 yg bergerak di bidang supplier biasanya jg mengalokasikan >>> dana utk komisi bg bag pengadaan perusahaan kliennya. >>> >>> dalam kode etik kedokteran sebenarnya sdh diatur mengenai bonus tsb. >>> Diantaranya, pembatasan nilainya, bonus hrs berupa sponsor acara >>> ilmiah kedokteran,bkn uang atau barang yg tdk berhubungan dg dunia >>> dokter. Kemudian bonus jg tdk boleh dikaitkan langsung dg pemakaian >>> obat. Artinya tdk boleh memberi bonus 1jt dokternya harus meresepkan >>> 100 ampul antibiotik sebulan. Itu namanya dokter bekerja utk pabrik >>> obat. Aturan tsb dibuat untuk menjaga independensi dokter dlm >>> mengambil keputusan medis. Sejatinya faktor medis dan kemanusiaan lah >>> yg harus dikedepankan. >>> >>> Prakteknya, aturan tsb banyak dilanggar. Kompetisi antar perusahaan >>> farmasi, tingginya target penjualan bertemu dg attitude dokter yg >>> makin kapitalis dan materialis, jadilah praktek semacam itu, sama2 >>> untung. >>> >>> Perusahaan farmasi asing dr eropa atau amerika biasanya memang ketat >>> aturannya karena memang di negara asalnya tdk praktek spt itu. Dalam >>> sponsor acara ilmiah misalnya, harus melampirkan bukti registrasi >>> asli, bangkai tiket dan bill hotel asli. >>> >>> Tapi di Indonesia,kl perusahaan farmasi yg ketat spt itu biasanya >>> penjualannya seret. Dokter akan memilih meresepkan obat yg bonusnya >>> besar dan mudah cair. Dan ada saja cara perusahaan farmasi mengakali >>> aturan,mulai dg memalsu invoice tiket atau memanipulasi istilah shg >>> tdk terkesan sebagai bonus/komisi. >>> >>> Yang paling dirugikan adalah pasien, karena merekalah yg hrs membayar >>> resep2 itu. Ditambah lg pd umumnya posisi pasien sgt awam thd obat2an >>> shg percaya sj sm dokter. Kadang dokter meresepkan lbh banyak agar sgr >>> dpt bonusnya atau krn sdh "dikontrak" salah satu merk. Padahal dokter >>> sdh mengutip fee pemeriksaan dr pasien. Seharusnya pasien berhak >>> mendpt advise medis yg jujur dr dokter,tp karena bonus,pasien jd pasar >>> empuk utk kepentingan pribadi. Belum lg,kadang dokter mendapat bonus >>> dr apotek karena banyak pasien dokter tsb yg nebus obat di apotek itu. >>> Dokter dianggap berjasa meningkatkan omzet apotek. >>> >>> Dengan gambaran di atas kiranya akan lbh mudah dlm menarik kesimpulan >>> hukumnya. Mudah2an para ustadz sekalian dimudahkan oleh Allah Ta'ala. >>> >>> probo >>> >>> >>> On 12/15/10, [email protected] <wpuguh_w%40yahoo.co.id> < >>> [email protected] <wpuguh_w%40yahoo.co.id>> wrote: >>> > Afwan, mohon di pilah-pilah...ada juga perusahaan mengharamkan >>> > pemberian >>> > bonus dlm bentuk "uang", bahkan ada salah satu perusahaan farmasi yg >>> > mengharamkan kegiatan tersebut karena termasuk penyuapan..sebagai >>> gantinya >>> > perusahaan tersebut mengirim dokter ke symposium dgn tujuan update >>> sains, >>> > dan pemberian gimmick.. >>> > >>> > Salam >>> > Puguh >>> > Sent from my BlackBerry® >>> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT >>> > >>> > -----Original Message----- >>> > From: muhammad nur ichwan muslim >>> > <[email protected]<bangichwan%40gmail.com> >>> > >>> > Sender: [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com> >>> > Date: Wed, 15 Dec 2010 14:36:45 >>> > To: <[email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>> >>> > Reply-To: [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com> >>> > Subject: Re: [assunnah] Bonus untuk dokter >>> > >>> > Bagaimana dengan hukum dokter itu sendiri ustadz? Bolehkah dia menerima >>> uang >>> > tersebut? >>> > Pembenaran itu bentuknya bagaimana, apakah dengan sekedar persetujuan >>> > dr >>> > perusahaan yg bersangkutan atau bagaimana? >>> > Saya juga berasal dr kantor pelayanan publik dan tiap tahun ada >>> "pembagian >>> > dr klien" dan "uang jasa" dr kantor konsultan yg menjadi konsumen >>> pelayanan >>> > kami. praktek pemberian "uang jasa" sdh menjadi kebijakan kantor >>> konsultan >>> > tsb (krn sy tanyakan ke bawahan langsung), artinya itu sudah lumrah. >>> > pertanyaanya, apakah hal seperti ini diperbolehkan krn kantor konsultan >>> itu >>> > membenarkan praktek tsb dan memang telah menyediakan anggaran untuk itu >>> atau >>> > bagaimana? mungkin ustadz dapat memberikan dalil2 yg membolehkan >>> > praktek >>> > seperti ini, krn setahu ana 'illah dlm masalah risywah (suap) adalah >>> jika >>> > "uang jasa" itu terkait dgn pekerjaan yg memang telah menjadi >>> > kewajiban, >>> > maka ini termasuk risywah. jazakumullahu khairan. >>> > >>> > >>> > Kalau seles obat sdh terikat gaji dengan perusahaaan obat untuk >>> memasarkan >>> >> obatnya maka tdk boleh. Tapi kalau perusahaan memang membenarkan yang >>> >> demikian tdk masalah insya allah. Ali saman >>> >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >>> >>> > >>> > >>> >>> >> >> > -- Muhammad Nur Ichwan Muslim ---------------------------------------------- Directorate General of Intellectual Property Rights Ministry of Justice and Human Rights Republic of Indonesia +6285228287047 ikhwanmuslim.com ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Berhenti berlangganan: [email protected] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
