Ya allah betapa banyak gharar dalam masalah sales obat ini , kita butuh sales 
yg jujur dan dokter yg jujur. Perbuatan tersebut haram ya akhi!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: probo nurwachid <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 16 Dec 2010 14:03:55 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [assunnah] Re: Bonus untuk dokter

Soal reputasi,memang benar dokter tdk akan mempertaruhkan namanya dg
memakai obat ecek ecek utk kejar komisi. Tapi dlm praktek,khasiat
obat2 dlm satu jenis tidaklah berbeda secara signifikan. Secara
teoritis obat paten lbh manjur drpd obat me too atau generik,tp banyak
dokter memakai obat me too krn pertimbangan komisi. Artinya dokter
bukan sama sekali menghilangkan pertimbangan medis.

Nilai komisi tdk seberapa? Saya pernah sponsori dokter senilai hampir
100jt setahun. Itu dr sy sj,belum dr kompetitor dan obat jenis lain.
Dalam satu event symposium internasional dia bs mendapat 300jt dr
farmasi. Kompensasinya dia hrs meresepkan sebanyak mungkin obat2
titipan sponsor itu ke pasiennya.

Masalah qiyas,menurut yg sy pahami tdk bisa diqiyaskan mutlak dokter
pengusaha. Pertama,dokter terikat kode etik profesi,semacm kode etik
jurnalistik itu.kedua, dlm dunia kesehatan ada faktor kemanusiaan yg
hrs diperhatikan. Ketiga, dokter dg farmasi tdk ada akad apapun.
Dokter tdk beli obat dr pabrik,yg membelinya pasien. Beda dg contoh
pengusaha A dan B diatas. Dalam kasus dokter ini, yg keluar duit
pasien tp yg dpt bonus dokter. Keempat, bukankah dokter sdh mendapat
imbalan dr pasien atas jasanya mendiagnosa dan mengobati
pasien?imbalan tsb berupa fee yg dibayar pasien. Dan besarnya fee td
sebanding dg keahlian dokter tsb. Dg imbalan itu mestinya dokter
menjaga amanah itu dg mengobati sebaik mungkin dan tdk dipengaruhi
pihak lain. Pada kondisi normal,dokter akan bebas memilih obat A B
atau C. Tp ketika masing2 mengiming imingi bonusKalau kita terjun ke
dunia marketing farmasi kita dpt merasakan.

mungkin qiyas yg lbh dekat adalah mumalah antara supplier mesin dg
manajer produksi. Manajer produksi dibyr oleh perusahaan,tugasnya
membeli mesin dg kualitas baik dan hrg sehemat mungkin. Beberapa
supplier mesin menawarkan barangnya dg hrg beda2. Si manajer membeli
mesin dr supplier yg ngasih komisi plg besar dan komisi msk kantong.
Memang pabrik tdk rugi,tp apa si manajer tdk mengkhianati amanah?dan
yg komisi yg diberikan bukan suap?

Saya bekerja sbg Medical Rep (istilah populernya Detailer) perusahaan
obat hampir 10th. Kl anda malam2 ke praktek dokter melihat orang
berpakaian rapi bersepatu,itulah kami. Kami tdk bw barang,hanya
brosur. Begini biasanya dialog dg dokter:

sy:dokter sy bw obat utk lambung..(mulai jelaskan teknisnya). Kalo
dokternya vulgar akan blg:sy dpt brp?(atau dg istilah rewardnya apa?
Tipe dokter kedua dia akan pakai obat itu ke pasiennya  beberapa lama.
Ketika sy kunjungi berikutnya dia akan tanya:sy sdh bantu resepkan
obatmu banyak,kok gk dpt apa2?

Kl sy tawarkan bonus maka dia akan tetap pakai obat sy. Tp kl tdk sy
kasih,pelan tp pasti pemakaian obat sy berkurang diganti pesaing.
Bahkan pasien lama yg kontrol diganti dg obat pesaing krn obat sy tdk
ada "apa2nya".

Dan praktek spt sdh menjadi sistem di perusahaan farmasi dan marketing
farmasi. Kalau tdk begitu ya digilas.

Demikian gambaran pekerjaan sy,mudah2an ada yg bs menentukan hukum
syar'i nya scr khusus utk kasus ini.

jazakumullah khairan

probo

On 12/15/10, Hanif <[email protected]> wrote:
> Pertanyaannya, pasien mana yg mau dibohongi dokter saat ini?
>
> Ada dokter yg laku keras dan ada yg nggak laku. Pasien itu kan konsumen. Dia
> akan pilih dokter yg beruptasi baik dan nggak asal pilih.
>
> Dokter yg cerdas, akan tahu obat mana yg cocok utk penyakit X. Dan nggak
> asal comot. Jika dia asal comot utk ngejar target "komisi" dari perusahaan
> farmasi, salah2 dia menjadi dokter yg nggak laku. Apa nggak malah rugi?
>
> Dan sudah jadi rahasia umum kalo si dokter itu laku keras, tarif berapapun
> maka pasien akan tetap mau bayar. Inilah yg dinamakan reputasi. Reputasi itu
> mahal tak ternilai harganya ketimbang komisi perusahaan farmasi.
>
> Dan apakah dokter masa kini itu di-qiyas-kan sbg pegawai ataukah pengusaha?
> Seorg pengusaha A yg telah membeli barang banyak dari pengusaha B, maka
> wajar saja jika si B ingin memberi komisi kepada si A utk menjaga hubungan
> baik. Apakah pengusaha A disuap pengusaha B? Ingat, ini hubungan antar
> pengusaha yg sama2 owner perusahaan.
>
>
>
> hanif
>
>
>
> 2010/12/15 probo nurwachid <[email protected]>
>
>>
>>
>> Sales obat tentu terikat gaji dg perusahaannya. Dan perusahaanlah yg
>> membayar bonus tsb,bkn dr uang pribadi. Itu memang bagian dana promosi
>> obat. Kalau di consumer good dana itu biasa dialokasikan ke iklan atau
>> hadiah utk toko dg jumlah pembelian tertentu.
>>
>> Masalahnya bkn pd hubungan sales dan perusahaannya,tp tentang boleh
>> tidaknya pihak ketiga memberi bonus ke dokter. Dalam banyak kasus,
>> perusahaan obat bs mendikte dokter dg bonusnya.
>>
>> Perusahaan2 yg bergerak di bidang supplier biasanya jg mengalokasikan
>> dana utk komisi bg bag pengadaan perusahaan kliennya.
>>
>> dalam kode etik kedokteran sebenarnya sdh diatur mengenai bonus tsb.
>> Diantaranya, pembatasan nilainya, bonus hrs berupa sponsor acara
>> ilmiah kedokteran,bkn uang atau barang yg tdk berhubungan dg dunia
>> dokter. Kemudian bonus jg tdk boleh dikaitkan langsung dg pemakaian
>> obat. Artinya tdk boleh memberi bonus 1jt dokternya harus meresepkan
>> 100 ampul antibiotik sebulan. Itu namanya dokter bekerja utk pabrik
>> obat. Aturan tsb dibuat untuk menjaga independensi dokter dlm
>> mengambil keputusan medis. Sejatinya faktor medis dan kemanusiaan lah
>> yg harus dikedepankan.
>>
>> Prakteknya, aturan tsb banyak dilanggar. Kompetisi antar perusahaan
>> farmasi, tingginya target penjualan bertemu dg attitude dokter yg
>> makin kapitalis dan materialis, jadilah praktek semacam itu, sama2
>> untung.
>>
>> Perusahaan farmasi asing dr eropa atau amerika biasanya memang ketat
>> aturannya karena memang di negara asalnya tdk praktek spt itu. Dalam
>> sponsor acara ilmiah misalnya, harus melampirkan bukti registrasi
>> asli, bangkai tiket dan bill hotel asli.
>>
>> Tapi di Indonesia,kl perusahaan farmasi yg ketat spt itu biasanya
>> penjualannya seret. Dokter akan memilih meresepkan obat yg bonusnya
>> besar dan mudah cair. Dan ada saja cara perusahaan farmasi mengakali
>> aturan,mulai dg memalsu invoice tiket atau memanipulasi istilah shg
>> tdk terkesan sebagai bonus/komisi.
>>
>> Yang paling dirugikan adalah pasien, karena merekalah yg hrs membayar
>> resep2 itu. Ditambah lg pd umumnya posisi pasien sgt awam thd obat2an
>> shg percaya sj sm dokter. Kadang dokter meresepkan lbh banyak agar sgr
>> dpt bonusnya atau krn sdh "dikontrak" salah satu merk. Padahal dokter
>> sdh mengutip fee pemeriksaan dr pasien. Seharusnya pasien berhak
>> mendpt advise medis yg jujur dr dokter,tp karena bonus,pasien jd pasar
>> empuk utk kepentingan pribadi. Belum lg,kadang dokter mendapat bonus
>> dr apotek karena banyak pasien dokter tsb yg nebus obat di apotek itu.
>> Dokter dianggap berjasa meningkatkan omzet apotek.
>>
>> Dengan gambaran di atas kiranya akan lbh mudah dlm menarik kesimpulan
>> hukumnya. Mudah2an para ustadz sekalian dimudahkan oleh Allah Ta'ala.
>>
>> probo
>>
>>
>> On 12/15/10, [email protected] <wpuguh_w%40yahoo.co.id> <
>> [email protected] <wpuguh_w%40yahoo.co.id>> wrote:
>> > Afwan, mohon di pilah-pilah...ada juga perusahaan mengharamkan pemberian
>> > bonus dlm bentuk "uang", bahkan ada salah satu perusahaan farmasi yg
>> > mengharamkan kegiatan tersebut karena termasuk penyuapan..sebagai
>> gantinya
>> > perusahaan tersebut mengirim dokter ke symposium dgn tujuan update
>> > sains,
>> > dan pemberian gimmick..
>> >
>> > Salam
>> > Puguh
>> > Sent from my BlackBerry®
>> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: muhammad nur ichwan muslim
>> > <[email protected]<bangichwan%40gmail.com>
>> >
>> > Sender: [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>
>> > Date: Wed, 15 Dec 2010 14:36:45
>> > To: <[email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>>
>> > Reply-To: [email protected] <assunnah%40yahoogroups.com>
>> > Subject: Re: [assunnah] Bonus untuk dokter
>> >
>> > Bagaimana dengan hukum dokter itu sendiri ustadz? Bolehkah dia menerima
>> uang
>> > tersebut?
>> > Pembenaran itu bentuknya bagaimana, apakah dengan sekedar persetujuan dr
>> > perusahaan yg bersangkutan atau bagaimana?
>> > Saya juga berasal dr kantor pelayanan publik dan tiap tahun ada
>> "pembagian
>> > dr klien" dan "uang jasa" dr kantor konsultan yg menjadi konsumen
>> pelayanan
>> > kami. praktek pemberian "uang jasa" sdh menjadi kebijakan kantor
>> konsultan
>> > tsb (krn sy tanyakan ke bawahan langsung), artinya itu sudah lumrah.
>> > pertanyaanya, apakah hal seperti ini diperbolehkan krn kantor konsultan
>> itu
>> > membenarkan praktek tsb dan memang telah menyediakan anggaran untuk itu
>> atau
>> > bagaimana? mungkin ustadz dapat memberikan dalil2 yg membolehkan praktek
>> > seperti ini, krn setahu ana 'illah dlm masalah risywah (suap) adalah
>> > jika
>> > "uang jasa" itu terkait dgn pekerjaan yg memang telah menjadi kewajiban,
>> > maka ini termasuk risywah. jazakumullahu khairan.
>> >
>> >
>> > Kalau seles obat sdh terikat gaji dengan perusahaaan obat untuk
>> memasarkan
>> >> obatnya maka tdk boleh. Tapi kalau perusahaan memang membenarkan yang
>> >> demikian tdk masalah insya allah. Ali saman
>> >> Powered by Telkomsel BlackBerry®



------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke