Iya nih, jadi tertarik ingin berdiskusi lebih dalam. Masih adem-adem aja kan rekan2. Damai...damai

Saya pernah diberi tahu oleh teman saya bahwa Buddhism, terutama yang Mahayana diajarkan untuk terlepas dari konsep. Saya sendiri adalah orang yang boleh dikatakan sangat kaku (konseptual dong... hehehe) memegang teguh yang namanya fleksibilitas. Saya merasa tidak ada jalan bagi orang-orang yang keras kepala dan senang dengan "pride"/kebanggaan/harga diri. Marah adalah kekotoran batin menurut agama Buddha. Menurut pandangan saya, orang marah karena dirinya merasa benar, dan ia merasa benar karena memiliki kebanggan/harga diri itu tadi, sehingga ia merasa berhak marah.

Terlepas dari benar tidaknya pandangan saya tadi, itulah yang menyebabkan saya tertarik dan berjodoh dengan ajaran Buddha. Orang-orang yang memiliki kebanggan ini biasanya amat sangat menderita ketika kebanggaannya/"pride" lenyap atau hancur, saya rasa itu pantas atas apa yang telah mereka pegang teguh itu. Namun hidup ini tidak pernah terlepas dari yang namanya konsep, entah biar bagaimanapun kita selalu dihadapkan pada hal itu. Saya selalu mendapati bahwa penempatan pandangan secara ekstrim tidak selalu benar, kadangkala saya sering menemukan bahwa dunia ini sangatlah kaku dan konseptual. Bahkan saya rasa tidak terikat pada konsep itu tidak lain berarti fleksibilitas (sebuah konsep juga dong...) atau suatu hal yang istilahnya belum mampu didefinisikan bahasa kita. Saya juga diberi tahu oleh teman saya bahwa kita dianjurkan untuk mengambil jalan tengah. Namun bukan berarti kita harus diam saja ketika dihadapkan pada masalah kan? Bukankah masalah harus dipecahkan, apakah masalah itu terdefinisi (masuk dalam suatu konsep) atau tidak, tapi itu semua benar2 tidak berkesinambungan dengan ajaran itu tadi.

Ketika teman dari agama lain bertanya tentang agama Buddha, kita berusaha menjawabnya sesuai dengan apa yang diajarkan: terlepas dari konsep. Jika kedua pihak berpikiran terbuka, mereka bisa menerimanya dengan baik, namun seringkali mereka menangkapnya dengan pikiran yang sangat konseptual sebagai konsep yang tidak jelas. Ini yang menyebabkan kita, orang2 yang tidak sempurna ini menyimpulkan kalah padahal kalah atau menang itu kan juga merupakan konsep (jika seri tidak diikut sertakan). Maka itu juga tidak bisa dikatakan kalah, karena jawabanya memang demikian. Saya rasa kita juga tidak perlu memenangkan atau menganggap bahwa kita telah kalah dalam perdebatan itu jika itu tidak sesuai dengan apa yang diajarkan: terlepas dari konsep.

Hal ini mengingatkan saya pada suatu kelompok masyarakat di Amerika yang membenci orang Asia, namun karena mereka berpikir logis, mereka masih mau bersahabat dan ramah terhadap orang Asia. Mereka mengidolakan Walker, Texas Ranger yaitu Chuck Norris. Saya jadi teringat salah satu episode Walker, Texas Ranger yang saya tonton beberapa tahun lalu.Disitu dikisahkan bahwa Walker dan rekan setianya berjumpa dengan teman nya, seorang wanita dan anak asuhnya yang yatim piatu yang orang Asia (yang jelas bukan orang Jepang dan Korea). Mereka sedang menjemput seorang biksu dari Tibet. Mereka berguru pada biksu yang dikenal jago kung fu dan merupakan guru kung fu yang hebat. Anak asuhnya itu adalah seorang yang penuh dengan "pride"/kebanggaan. Ia amat mengidolakan Walker dari cerita2 bibinya mengenai petualangan Walker yang gebak-gebuk melawan penjahat. Ia juga mengidolakan biksu ini yang ilmu kung funya sangat hebat. Ketika biksu itu datang, anak itu tidak berhenti-hentinya bertanya-tanya dan mengagumi biksu itu, dan juga pada Walker.

Ketika rombongan itu berjalan-jalan di taman menuju vihara, mereka dicegat segerombolan preman bersenjata tajam. Mereka menargetkan biksu itu yang mereka percayai membawa sebuah kitab khusus. Preman2 ini merupakan orang2 suruhan. Mereka mengancam biksu itu dan menahan bibi serta anak itu tadi. walker, yang fisiknya jauh lebih besar dari mereka, disuruh menjauh dan dilarang ikut campur, karena bukan urusannya. Biksu itu pun dipermalukan, ia diludahi dan dipukuli. Namun biksu itu tidak membalas, anak yatim piatu itu menangis dan ingin agar sang biksu mengeluarkan jurus2 kung funya. Namun biksu itu diam saja karena tidak mau kekerasan dibalas kekerasan, dendam dibalas dendam (ajaran Buddha yang mirip ajaran Kristen: kasihilah musuhmu). Karena kekerasan berlanjut, Walkerpun tidak tinggal diam, ia dan rekannya pun beraksi dan preman2 tadi lari terbirit-birit semua.

Selesai kejadian tadi, si anak itu merasa hancur hatinya dan menangis melihat sikap salah satu idolanya tadi: "mengapa ia tidak melawan? Padahal ia bisa kung fu dan mampu menghadapi puluhan orang sekaligus!" Ia kemudian menyimpulkan bahwa gurunya seorang pengecut. Ia melampiaskan perasaanya pada idola yang satunya, Walker. Kejadian demi kejadian, biksu itu selalu bersikap demikian, dan si anak mulai membenci gurunya. Akan tetapi, Walker menjawab omelan anak itu begini: "Nak, orang dinilai pemberani bukan dari aksinya, namun dari seberapa teguh ia memegang prinsipnya dan rela mati demi itu. Gurumu itu seorang yang pemberani!"

Saya rasa "pride" atau kebanggaan itu menjauhkan kita dari logika, suatu pemahaman diatas konsep namun dibawah "tidak terikat pada konsep". Sehingga jauh dari pemahaman akan sesuatu itu tadi. Orang2 barat yang dikenal logis pada umumnya mengajarkan dan memberi "pride" pada anak-anaknya. Namun, sebagian dari mereka telah selangkah lebih maju walaupun rada nyeleneh.

EasyCoolSmart <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jadi inget kasus2 ketika Buddhis debat dgn Kristen, selalu saja Buddhis yg kalah [meskipun cerdas & kritis].
Salah satu permasalahannya: gampang digiring kepada permasalahan lain dr pokok pembicaraan.
Buddhis tanya Kristen ttg ABC & Kristen menjawab XYZ; Si Buddhis terpancing utk menaggapi XYZ, bukannya konsisten dgn ABC.
Bahkan, Si Kristen bisa bertanya balik [bukannya menjawab] & Si Buddhis juga terpancing lagi utk menjawab.
Akhirnya kalahhhahahaha
 
So, Sdr Jo... kita fokus dulu lah di mata pencahariaan, dlm hal ini 'ternak walet'.
Utk 'vegetarian', mending buka topik baru lagi.


Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke