Masih tanya dimana salahnya Deng? Apakah menghancurkan sosialisme dan
mengembalikan penghisapan dan penindasan kepada rakyat Tiongkok bukan merupakan
dosa dan pengkhianatan Deng? Jawab dulu, apa hakekat perbedaan sosialisme dan
kapitalisme? Mana jawabannya atas perbedaan Tkk dan Indonesia yang saya
ajukan??? Itulah sebetulnya yang menjadi inti perdebatan ini? Jangan dibawa
masalahnya ke soal lain. Jangan debat kusir!!!
On Saturday, September 2, 2017 10:49 AM, "Tatiana Lukman
[email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
Begitulah bicaranya orang remo yang "buta huruf" sejarah dan malas
belajar!! Persis seperti tuan-tuan imperialisnya, kaum revisionis selalu
menyalahkan , mensatanisasi Stalin untuk menyembunyikan dosa-dosa besar
pengkhianatannya terhadap sosialisme. Itulah persis yang dilakukan Khrushchov
dengan pidato rahasianya tahun 1956: menghujat Stalin, memutar balik
fakta-fakta sejarah, menipu, dan sebagainya. Sudah dibuktikan dalam sejarah
dengan gamblang, apa hasil revisionisme Khrustjov di Soviet Uni dan juga hasil
revisionisme Deng xiao ping di Tiongkok. Kedua-duanya sudah merubah Soviet dan
Tiongkok menjadi kekuatan imperialis yang sekarang terus berkontradiksi dengan
kekuatan imperialis AS yang sedang sekarat untuk memperebutkan daerah
pengaruhnya, daerah untuk melemparkan barang produksinya dan untuk menanamkan
modalnya !!!Apakah Sosialisme mengijinkan negerinya punya basis militer di luar
negerinya sendiri???Buat apa sekarang Tkk punya basis militer di luar negerinya
sendiri???
On Saturday, September 2, 2017 10:31 AM, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Lalu, ... dimana SALAH Deng yang BERHASIL membangun ekonomi Tiongkok maju
begitu dahsyatnya yang membuat negara2 Imperialisme merasa terancam dengan
perkembangan maju Tiongkok itu dan dalam 5 tahun terakhir ini, setiap tahun
BERHASIL mengentaskan lebih 10 juta rakyatnya dari garis kemiskinan!!!
Sebaliknya jalan Lenin yang kalian puja-puji itu sudah ROBOH karena kesalahan
Stalin yg hendak kalian pegang TEGUH sebagai satu-satunya kebenaran! From:
Tatiana Lukman Sent: Saturday, September 2, 2017 4:12 PMTo:
[email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT Cc: Yahoogroups ; DISKUSI
FORUM HLD Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak
Memiliki Untung Dasar remo! Yang membedakan Indonesia dan Tkk ketika membuka
pintu besar-besaran kepada modal asing adalah Indonesia masih tetap negeri
setengah jajahan dan setengah feodal! Indonesia masih terus dikuasai oleh kaum
feodal, kabir, komprador yang merupakan kepanjangant angan dari kaum
imperialis. Sedangkan tiongkok sudah memenangkan perang pembebasan melawan
semua kaum imperialis, menyelesaikan dengan sukses Revolusi Demokrasi Baru yang
menghancurkan hubungan produksi feodal dan sudah membangun Sosialisme yang
telah meletakan dasar kuat bagi industrialisasi modern!!!! Tiongkok sudah siap
untuk tinggal landas!! Tapi karena kaum remo Deng yang berkuasa, tinggal
landasnya diarahkan ke kapitalisme!!! Itulah HAKEKAT perbedaan keadaan objektif
ekonomi dan sosial antara Tkk dan Indonesia!!!
On Saturday, September 2, 2017 2:14 AM, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Dilihat sepintas apa yang bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi,
apakah masalah Freeport, tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu
sederhana? Kalau begitu sederhana kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan
Freeport saling ngotot bertahan pada pendapat masing-masing, dan diahri
terakhir pihak Freeport baru ngalah dan bersedia devestasi untuk bisa
memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang
masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? RI atau Freeport yang lebih
diuntungkan, ...? Saya melihat KESALAHAN pihak RI, dari penandatanganan
menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun 1967! Dimana Suharto
sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha memperjuangkan
keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai PEMILIK HARTA BUMI
kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara Suharto dan Deng saat
jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk MODAL-ASING! Deng b erusaha
dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa diuntungkan, belajar dan
akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak lebih dari 20 tahun, rakyat
Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala produksi yang dikerjakan
modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI, KREATIF, rakyat Tiongkok
berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang berhasil dikuasai itu!
Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar KOMISI yang bisa masuk
kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak peduli, ... begitulah
akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan, ekonomi nasional belum
berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai sekarang. Yang menjadi
problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, sudah bisa dan mampukah RI
meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus diperhitungkan serius oleh
pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh Freeport yang jumlahnya
belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, tentu ada 2 cara,
melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. Nampaknya RI memilih
Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan LEBIH BESAR pada RI!
Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil cara minta 51% saham
dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport sebagai jalan yang dianggap
paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan usaha sampai 2041. Dan
jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai kemana-mana! Dan sangat
saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK itu, kemungkinan juga tidak
menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper teknologi penampangan pada pihak
pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa menjalani sendiri usaha tambang
emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS! Salam,ChanCT From: Jonathan
Goeij [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, September 2, 2017 2:59
AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak
Memiliki Untung Kelihatannya banyak yang bermata jernih bisa melihat hal
simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa
akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya
merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada
tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik
Pemerintah Indonesia.
...30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun.
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport,
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah,
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah.
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.
#yiv7043373549 #yiv7043373549 -- #yiv7043373549ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-mkp #yiv7043373549hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mkp #yiv7043373549ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mkp .yiv7043373549ad
{padding:0 0;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mkp .yiv7043373549ad p
{margin:0;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mkp .yiv7043373549ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-sponsor
#yiv7043373549ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-sponsor #yiv7043373549ygrp-lc #yiv7043373549hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-sponsor #yiv7043373549ygrp-lc .yiv7043373549ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7043373549 #yiv7043373549actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7043373549
#yiv7043373549activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7043373549
#yiv7043373549activity span {font-weight:700;}#yiv7043373549
#yiv7043373549activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7043373549 #yiv7043373549activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7043373549 #yiv7043373549activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7043373549 #yiv7043373549activity span
.yiv7043373549underline {text-decoration:underline;}#yiv7043373549
.yiv7043373549attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7043373549 .yiv7043373549attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7043373549 .yiv7043373549attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7043373549 .yiv7043373549attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7043373549 .yiv7043373549attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7043373549 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7043373549 .yiv7043373549bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7043373549
.yiv7043373549bold a {text-decoration:none;}#yiv7043373549 dd.yiv7043373549last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7043373549 dd.yiv7043373549last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7043373549
dd.yiv7043373549last p span.yiv7043373549yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7043373549 div.yiv7043373549attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7043373549 div.yiv7043373549attach-table
{width:400px;}#yiv7043373549 div.yiv7043373549file-title a, #yiv7043373549
div.yiv7043373549file-title a:active, #yiv7043373549
div.yiv7043373549file-title a:hover, #yiv7043373549 div.yiv7043373549file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7043373549 div.yiv7043373549photo-title a,
#yiv7043373549 div.yiv7043373549photo-title a:active, #yiv7043373549
div.yiv7043373549photo-title a:hover, #yiv7043373549
div.yiv7043373549photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7043373549
div#yiv7043373549ygrp-mlmsg #yiv7043373549ygrp-msg p a
span.yiv7043373549yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7043373549
.yiv7043373549green {color:#628c2a;}#yiv7043373549 .yiv7043373549MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7043373549 o {font-size:0;}#yiv7043373549
#yiv7043373549photos div {float:left;width:72px;}#yiv7043373549
#yiv7043373549photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7043373549
#yiv7043373549photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7043373549
#yiv7043373549reco-category {font-size:77%;}#yiv7043373549
#yiv7043373549reco-desc {font-size:77%;}#yiv7043373549 .yiv7043373549replbq
{margin:4px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-mlmsg select, #yiv7043373549 input, #yiv7043373549 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-mlmsg pre, #yiv7043373549 code {font:115%
monospace;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-mlmsg #yiv7043373549logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-msg
p#yiv7043373549attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-reco #yiv7043373549reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-sponsor
#yiv7043373549ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-sponsor #yiv7043373549ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-sponsor #yiv7043373549ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7043373549 #yiv7043373549ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7043373549
#yiv7043373549ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7043373549