Lho, ... katanya akan menghentikan debat kusir ttg REMO, kok masih juga 
diteruskan sampai mencak-mencak begitu dengan ngototnya bilang saya antek 
REMO??? Memang siapa yang REMO? Dengan tulisan seorang anggota PKT tua begitu 
cukup membuktikan Deng REMO??? Dilihat dari umur dan pengalaman perjuangan 
dalam PKT masih Deng lebih senior, dia belum lahir Deng sudah anggota PKT, kok!

Anda ini benar-benar nenek dalam tempurung yang TIDAK BERANI melihat kenyataan 
HASIL perjuangan yang dijalankan PKT dalam 30 tahun terakhir ini, selalu 
mengutak-atik yang dianggap “SALAH”, “KAPITALIS” itu sebagai prinsip REMO nya 
Kruschov yang memang patut dihujat dan ganyang, ... dan akibatkan PKUS roboh 
dengan sendirinya itu! Kruschove dalam mengkritik kesalahan Stalin, dengan 
membabat, menghitamkan segala JASA STALIN, ... lalu mulai menikmati kehidupan 
mewah diatas penderitaan rakyat, membiarkan dekadensi kehidupan borjuis dalam 
PKUS. Sedang dengan ketegasan mengkritik kesalahan Mao sebatas yang SALAH saja, 
secara objektif TETAP mengakui JASA-JASA ketua Mao dalam perjuangan memimpin 
rakyat Tiongkok dan tetap pertahankan Ketua Mao sebagai PEMIMPIN BESAR RAKYAT 
Tiongkok, tetap menjadikan FMTT sebagai ideologi pembimibing PKT! Anda juga 
tidak berhasil melihat kenyataan masih dipertahankannya DIKTATUR PROLETARIAT 
dengan teguh, dilancarkannya pekerjaan partai sampai desa-desa untuk aktif 
mengentaskan kemiskinan, dihidupkan kembali pendidikan karakter KOMUNIS 
mengabdi RAKYAT, ... dengan TEGAS memberantas korupsi dan dekadensi burjuasi 
yang selama ini terjadi dalam PKT! Jangan pula karena PKT sekarang ada sedikit 
kesamaan atau mendekati pandangan Sosial Demokrat, lalu Deng juga dibilang 
sudah menjadi Sosial Demokrat. TIDAK! Justru PKT juga dengan TEGAS mengajukan 
prinsip perbedaan dengan SD sekalipun hendak mengembangkan DEMOKRASI dalam 
Partai lebih luas. Inilah PRINSIP yang membedakan Kruschove dengan Deng! 
Kruschove membuat PKUS makin terpuruk dan akhirnya roboh, Deng membuat PKT 
makin jaya dan sampai generasi Xi-Li masih berhasil membawa Tiongkok terus maju 
lebih baik, ...! Dan segera, 18 Oktober yad. akan melangsungkan Kongres-19 PKT 
untuk menyimpulkan pengalaman perjuangan 5 tahun terakhir ini dan memilih teras 
pimpinan berikut.

Saya sudah bilang berulang kali, setiap orang boleh-boleh saja mempunyai 
pendapat berbeda dalam memandang garis jalan Sosialisme bercirikan Tiongkok 
yang dijalankan RRT sekrang ini, karena memang masih HARUS DIUJI KEBENARAN nya 
dalam PRAKTEK! Karena memang BELUM ADA JALAN SOSIALISME yang bisa dianggap 
paling BENAR, yang bisa diangkat jadi CONTOH untuk menyatakan yang berbeda itu 
PASTI SALAH, REMO dsb! TIDAK ADA, dan TIDAK BISA BEGITU! Jadi, yaaah, 
bersabarlah melihat kenyataan HASIL PERJUANGAN PKT yang dipraktekkan di 
Tiongkok dalam membawa 1,4 milyar RAKYAT Tiongkok menjadi sedikit makmur, lepas 
dari kemiskinan! Dimana nanti tahun 2020, target yang telah ditetapkan Kongres 
18 PKT, untuk menyelesaikan lebih 70 juta rakyat miskin yang masih tersisa itu. 
Kita sama-sama saksikan saja, sampai dimana keberhasilan PKT dalam memecahkan 
masalah perumahan yang memadai bagi seluruh rakyatnya, bagaimana PKT memecahkan 
masalah pendidikan, jaminan sekolah bagi seluruh anak rakyatnya, dan bagaimana 
PKT mengatasi kesulitan dan beratnya masalah pengobatan, kesehatan dan 
perawatan bayi yang baru lahir dan orang-tua jompo, ... Jadi nanti ditahun 2020 
seluruh rakyat yg hampir 1,4 milyar itu akan hidup tanpa lagi risau akan 
perumahan yang layak dihuni manusia, dengan sandang-pangan yang cukup dan harus 
bingung menyekolahkan anak-anaknya lagi atau bingung merawat anak bayi dan 
perawatan orang-tua jompo, ...

Setelah tingkat kemakmuran tertentu ini bisa dicapai, tentu tugas selanjut 
adalah PEMERATAAN, KEADILAN yang LEBIH ADIL, harus dijalankan untuk mengurangi 
kesenjangan sosial, perbedaan penghasilan yang terlalu besar yang selama ini 
masih dibiarkan terjadi. Nampaknya, inilah tingkat-tingkat perjuangan atau 
proses yang memang TIDAK BISA dilompati, harus dilewati untuk memasuki 
masyarakat SOSIALISME dalam arti lebih merata dan adil!

Mudah-mudahan nenek yang satu ini bisa BERSABAR dan masih cukup umur melihat 
KEBERHASILAN PKT mewujudkan masyarakat sedikit makmur ditahun 2020, ... tidak 
perlu buru-buru mencela apalagi selalu menghujat dengan penuh kebencian! LIHAT 
saja hasilnya, sebagai BUKTI NYATA kebenaran teori dalam praktek! Bukan seperti 
kalian hanya berpegang teguh pada teori yang indah diawang-awang saja, ... 
utopiiis.

Salam,
ChanCT 



From: Tatiana Lukman 
Sent: Sunday, September 3, 2017 3:46 AM
To: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT 
Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; [email protected] 
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

He Chan, apa anda tidak ingat bagaimana anda sendiri menjilat air ludah sendiri 
yang anda keluarkan di Tkk sebagai anggota grup M-L?? Dulu anda begitu anti 
remo, nah sekarang berbalik jadi anteknya remo!! Jadi tidak aneh yang terjadi 
pada Deng xiaoping, oportunis dan remo!! Banyak terjadi diantara kita sendiri!! 
Nah, simak dengan baik pernyataan anggota PKT tua yang kaya pengalaman dan 
mengabdi dengan sepenuh jiwa dan raganya bagi tanah airnya, tapi akhirnya dia 
menyatakan keluar dari PKT. Mengapa??? Dialah yang paling tahu apa bedanya PKT 
jaman Mao dan PKT jaman Deng xiaoping. Jangan sombong dan sok tahu, pak komunis 
tua ini  patut menjadi teladan dan dipertimbangkan pendapatnya!! Kenapa pak 
komunis tua ini tidak bisa merasa bangga dengan apa yang anda sebut "kejayaan" 
Tkk? Imperialis AS merasa terancam oleh Tkk karena berebut daerah pengaruh, 
rebutan pasar, rebutan tempat menanam modal. Anda bangga dengan "kejayaan" Tkk 
sekarang yang lahir dari penghisapan dan penjarahan kekayaan alam termasuk di 
Indonesia??!! Ya patut bangga karena anda remo, pengikut penghisapan dan 
penjarahan kekayaan alam Indonesia, pembela para pemodal Tkk yang dipuja-puja 
oleh Pemenrintah Indoensia. Kasihan sekali anda ini yang masih belum mampu 
melihat sistim kapitalis di Tkk...Sungguh kasihan, begitu bodoh dan bebelnya 
otak anda!! Ini kata pak komunis tua itu: "Revisionisme yang di masa lalu  
bertindak dengan diam-diam, sekarang sudah diakui dengan resmi" . Sudah tentu 
bagi anda, pak tualah yang bodoh, bukan??? Andalah yang pinter!
                               Saya menyatakan keluar dari Partai 
<!--[if !vml]--><!--[endif]-->
Nama saya Zhang Lushi. Saya lahir bulan April 1928 di Gaozhou, provinsi 
Shandong. Saya berasal dari keluarga petani. Ketika berumur 14 tahun, sebagai 
pemimpin brigade pemuda, saya turut serta dalam Perang Perlawanan menentang 
agresi Jepang. Pada umur 20 tahun, di tengah-tengah kampanye Huihai, saya masuk 
Partai Komunis Tiongkok. Sejak itu sudah lewat setengah abad.
Di mata generasi pemuda sekarang ini, saya bisa juga dianggap sebagai seorang 
revolusioner tua.
 
Setelah selesai kampanye Huihai, saya turut serta dalam kampanye Sungai Yangzi 
(melawan kekuatan Kuomingtang). Ketika itu saya kopral.
 
Ketika pecah perang melawan AS untuk membantu  Korea, saya bertugas sebagai 
kopral  komunikasi di Tentara 68. Karena menderita luka, saya dipindah ke 
provinsi Henan bagian barat, sebuah daerah pegunungan, untuk menjadi direktur 
Kantor Pos dan Departemen Telefon, di samping bertugas sebagai sekretaris 
Partai. Selama 20 tahun saya mengerjakan tugas itu. Kemudian saya pensiun 
dengan kategori kader teknik. Puluhan tahun hidup  dalam revolusi dan perang 
telah mengijinkan saya melakukan pekerjaan sebagai sumbangan kecil saya kepada 
Rakyat dan Partai. Sebaliknya, Partai dan Rakyat memberi saya kehormatan yang 
tidak kecil. Selama berkobar perang pembebasan dan perang di Korea, saya 
melaksanakan berbagai tugas.   Dalam perang pembebasan dan perang Korea 
berbagai tindakan dan aksi yang saya lakukan mendapat penghargaan dan karena 
itu saya menerima tanda jasa militer dan medali yang menghiasi kerah baju 
seragam saya. Bahkan sampai sekarang saya masih simpan baju seragam itu 
bagaikan sebuah pusaka. Sering saya keluarkan baju itu untuk mengenang dengan 
perasaan terharu yang dalam.
 
Saya utarakan ini bukan untuk  kepuasan diri atau mencari kebesaran. Saya 
mengenang kawan-kawan seperjuangan, setengah dari mereka adalah martir. Wajah 
mereka terbayang segar dan hidup dalam ingatan saya.   Dengan berlalunya waktu, 
bayangan wajah mereka menjadi lebih kuat. Erbi, Anxum, Yuedi dan satu kawan 
lagi yang kami panggil "Big Brother".  Semua mereka hilang untuk selamanya 
dalam sebuah aksi kecil. Kampanye Huihai menang, tetapi aksi kecil kami dalam 
kampanye  itu sangat tragis dan besar pengorbanan kami. Dalam Perang Korea, di 
pertempuran Flying Tigers, unit kami tidak dapat menemukan markas Divisi karena 
kabut tebal. Kami mengambil arah yang salah sehingga menderita kerugian:  lebih 
dari setengah anggota unit kami gugur. Saya menderita luka dalam pertempuran 
itu. Dibandingkan dengan kawan-kawan yang gugur, saya jauh lebih beruntung. 
Saya sudah hidup 50 tahun lebih lama dari mereka. Saya merasa malu tidak 
bersama dengan mereka. Alangkah beruntungnya  seandainya dapat bersama-sama 
dengan kawan-kawan saya yang sudah mati itu, untuk bicara tentang aspirasi, 
keyakinan dan perjuangan kita. Apa lagi yang harus saya perbuat untuk memuaskan 
diri? Saya hanya menyesal sumbangan yang saya berikan kepada Partai dan Rakyat 
terlalu sedikit, tidak sepadan dengan pengorbanan kawan-kawan saya. Jadi, 
mengapa saya tinggalkan Partai?
Di masa lalu, bagaimana saya bergabung dengan Partai? Saya tulis pernyataan 
yang menyakitkan ini dengan duka dan kesedihan yang dalam. Dalam kehidupan, 
tidak semuanya bunga-bunga indah berseri dan cemerlang, ada juga kegelapan dan 
duri. Di antara kawan seperjuangan dalam Perang Korea - ada beberapa yang saat 
ini berpangkat Jenderal. Bahkan ada seorang letnan, Zhang, yang kini menjadi 
wakil presiden Komisi Militer PKT. Tapi mereka adalah mereka dan saya adalah 
saya. Saya hanya seorang kepala sebuah departemen kecil. Saya juga mengabdi 
rakyat. Dalam beberapa dekade terakhir, saya tidak pernah kontak dengan mereka. 
Apa alasannya? Dibandingkan dengan kawan-kawan saya yang mati dibunuh, hidup 
saya telah 50 tahun lebih lama.
Istri saya sudah pensiun. Anak tertua saya bekerja di Departemen  Listrik di 
kotamadya dan anak kedua saya di Departemen Kantor Pos dan Telepon. Tiga anak 
perempuan saya semuanya menikah dan bahagia dan semuanya bekerja. Saya punya 
cucu dan saya menikmati kehidupan keluarga yang bahagia. Jadi, tidak ada 
hal-hal yang membuat saya tidak puas.
Tapi sekarang, meskipun ada peringatan berulang-ulang baik yang ramah maupun 
yang keras dari organisasi, meskipun ada nasihat dari kawan-kawan dan  
permohonan besar  dari anggota keluarga, saya memutuskan untuk keluar dari 
Partai. Mengapa saya meninggalkan Partai? Pertama, saya harus menjelaskan 
mengapa saya bergabung dengan Partai.
 
<!--[if !vml]--><!--[endif]-->
<!--[if !vml]--><!--[endif]-->
Selama berlangsung kampanye Huihai, orang-orang di Shandong, wanita, orang tua, 
anak-anak, datang dari segala penjuru, mendorong gerobak, memikul semua yang 
mereka miliki  atau naik truk. Semua menuju front, mengikuti suara dentuman 
meriam, pembagian makanan, peluru berdesing, mengambil orang-orang yang luka. 
Itulah lukisan  gelombang-gelombang dalam lautan perang rakyat. Sepanjang jalan 
terlihat beberapa orang pingsan karena kelaparan, namun sesuap pun mereka tidak 
akan makan makanan yang ditujukan untuk tentara di front.  Pemandangan ini 
membuat saya menangis seperti anak kecil. Ini adalah citra Rakyat, Tentara 
Pembebasan Rakyat dan Partai tunggal bersatu.  Partai Komunis adalah penyelamat 
Rakyat. Orang-orang yang membela Partai Komunis dan para prajurit sendiri 
adalah akar kita dalam kehidupan. Partai Komunis berakar dalam  di kalangan 
massa rakyat. Partai rakyat ini pasti menggulingkan Kuomintang reaksioner dan 
korup 
Pada saat itu, saya memutuskan untuk bergabung dengan Partai Komunis. Saya 
bersumpah  akan memberikan semua yang saya miliki untuk  bekerja demi 
kemerdekaan, emansipasi dan pembebasan Rakyat Tiongkok.  Saya bersumpah tiap 
orang harus punya makanan, pakaian dan orang  tidak seharusnya menindas orang 
lain dan dengan demikian tercipta sebuah masyarakat baru. Untuk itu saya rela 
memberi seluruh hidup saya kepada perjuangan. Saya bergabung dengan Partai 
tepat sebelum saya diberi tugas pengintaian di front. Beberapa dari kami masuk 
Partai dalam sebuah upacara kelompok. Komitmentnya  sederhana: "Saya dengan 
sukarela masuk menjadi anggota Partai Komunis Tiongkok dan berjanji mematuhi  
organisasi Partai, menghormati aturan partai, berjuang untuk komunisme dan 
tidak akan pernah mengkhianati Partai." Saya sangat bersemangat. Sejak itu, 
Zhang Lushi, lahir di Shandong, sudah jadi anggota Partai.
Di manapun Partai menempatkan saya, saya akan berada di situ. "Saya berjanji 
untuk berjuang demi komunisme, dan tidak akan pernah mengkhianati Partai".  
Itulah komitmen saya yang amat penting.  Saya pernah mengalami kebingungan. 
Sejak Perang Korea, saya dipindah ke pekerjaan lokal. Orang-orang seperti kami 
yang seharusnya sudah mati sembilan kali, dengan semangat tinggi  turut serta 
membangun tanah air sosialis dengan revolusi dan konstruksi: "Reforma Tanah", 
"Melawan Tiga dan Menentang Lima",  “Gerakan Pembetulan dan Anti-kanan”,  
“Jalur Utama”, “Lompatan Maju ke Depan”, “Komune Rakyat”, “Tiga Bendera Merah”, 
“Empat Pembersihan” dan “Dekade Tiongkok-Soviet”. Ada begitu banyak gerakan dan 
perjuangan! Kami bernyanyi dengan suara lantang dan semangat tinggi, dengan 
sengit dan tanpa takut menghadapi musuh . Ibu pertiwi sosialis kami terus 
bergerak menuju kemakmuran dan masa depan yang cerah. Dalam revolusi ini, saya 
merupakan kekuatan alamiah yang merevolusioner kehidupan sampai meletusnya 
Revolusi Kebudayaan, ketika saya menjadi sasaran revolusi, dikritik oleh massa 
revolusioner.
Pada suatu hari, saya menghadiri sebuah  pertemuan pengkritikan  dengan 
berpakaian seragam militer lama serta semua medali yang saya miliki.   Saya 
berkata: : "Di masa lalu saya harus mempertaruhkan nyawa untuk memperjuangkan 
sosialisme. Banyak kawan saya meninggal untuk sosialisme. Jika Anda beritahu 
saya siapa yang jadi antek jalan kapitalis, saya akan bertarung melawan dia 
sampai saya mati. “
Pemimpin grup revolusioner itu tersenyum dan berkata: "Kawan Zhang, tidak perlu 
 menunjukkan medali militer Anda. Kami tidak mengkritik medali-medali anda. 
Dalam Partai ada orang yang ingin menempuh jalan kapitalis . Itu sebuah fakta. 
Mereka ingin menghidupkan kembali masyarakat lama. Ketika revolusi sosialis 
menyentuh para pemimpinnya, mereka menentang dan melawan. Mereka ingin 
mempromosikan tahap demokratis  baru yang damai, menindas massa, membela 
birokratisme untuk menjadi penguasa. Partai Komunis sedang dirobohkan. Ketua 
Mao memulai Revolusi Besar Kebudayaan Proletar untuk melawan dan mencegah 
revisionisme dan untuk menghindari terulangnya kesalahan Soviet yang 
membangkitkan kembali kaum kapitalis. Anda harus memiliki sikap yang benar 
terhadap gerakan massa. " Sejak hari itu, saya tidak dikritik lagi. Saya 
kembali ke rumah untuk terus belajar teori Mao melanjutkan revolusi melalui 
kediktatoran proletariat.
Revolusi Kebudayaan selesai 25 tahun yang lalu; doktrin kediktaturan proletar 
telah dihancur-leburkan.
Partai Komunis Tiongkok yang dulu besar, mulia dan benar telah mengalami 
transformasi radikal dengan hilangnya ikatan langsung dengan massa dan 
pengawasan Rakyat. Sekarang korupsinya adalah yang terburuk di dunia. Bangsa 
kita terbagi menjadi dua kelas dan kesenjangan antara kelas juga terbesar di 
dunia. Bukankah  ironis seandainya itu yang menjadi alasan saya bergabung 
dengan revolusi dan Partai ?
Bukankah sudah dua puluh lima tahun pelajaran yang memberi bukti bahwa Revolusi 
Kebudayaan adalah benar dan tepat waktu? Tidakkah sudah ditunjukkan bahwa 
tuntutan Ketua Mao supaya melanjutkan revolusi di bawah kediktatoran 
proletariat adalah benar? Bukankah sudah ditunjukkan bahwa posisi yang diambil 
pada pertemuan kritik yang saya hadiri  itu benar?
Untuk negeri,  bangsa dan  Partai, untuk martir revolusioner yang tak terhitung 
jumlahnya yang kami derita secara pribadi, sampai-sampai kena tuduhan palsu, 
dengan tak adil dihukum, diadili dan dikirim ke Sekolah Kader 7 Mei.  Apa 
masalahnya ? Semua ini menunjukkan kasih sayang  dan perhatian sungguh-sungguh 
Ketua Mao terhadap para kader revolusioner .
Banyak kader baik dituduh secara salah dan bahkan dibunuh. Saya melihat dengan 
mata kepala sendiri selama Revolusi Kebudayaan - beberapa anggota pimpinan 
tinggi, karena masalah pribadi, tidak bisa menghadapi gerakan massa dan 
bagaimana mereka jadi nyeleweng dan memecah massa dalam faksi-faksi, mengadu 
domba massa, membawa mereka berkonfrontasi dengan kekerasan untuk kemudian 
menyalahkan para pemimpin revolusioner.
Sekarang dengan resmi saya minta maaf kepada pemimpin kelompok revolusioner, 
karena selama penyelidikan saya memberi kesaksian melawan dia. Sangat 
disayangkan sekarang dia sudah meninggal, sehingga tidak dapat  langsung 
mengatakan kepadanya bahwa pendapatnya dulu itu benar. Untuk stabilitas negeri 
dalam jangka panjang, untuk kebaikan dan kesejahteraan rakyat, untuk masa depan 
komunisme yang besar, kehormatan dan rasa malu pribadi tidak ada artinya. 
Sekarang situasi di negeri kita sangat menyedihkan.
Komune rakyat dan ekonomi kolektif telah dibongkar total. Kaum tani bangkrut. 
Perusahaan Negara  juga habis. Pengangguran massal adalah nasib kaum buruh. 
Korupsi dalam Partai Komunis  menakutkan. Pada beberapa tingkat bahkan lebih 
buruk dari Kuomintang yang korup. Karena divisionisme, kaum buruh dan kaum tani 
menderita dua kali dan dihukum dua kali. Api membakar di bawah tanah; 
masyarakat penuh dengan ketidakstabilan dan kekacauan.
Namun, meskipun tingkat kebudayaan saya itu tidak tinggi, saya hanya 
berpendidikan dasar, meskipun saya tidak memiliki pemahaman teoritis tingkat 
tinggi, saya tahu bahwa komunisme adalah kepemilikan kolektif atas alat-alat 
produksi, yang berarti kekayaan didistribusi dengan adil.  Jalan yang sekarang 
kita tempuh adalah  kapitalisme murni.
<!--[if !vml]--><!--[endif]-->
Di mana akar dari semua ini? Apakah ini bukan hasil promosi revisionisme yang 
dilakukan Partai Komunis? Jika kita terus seperti ini, apakah ini tidak 
bertentangan dengan sumpah  saya dulu ketika  bergabung dengan partai? Janji 
kepada partai  bergema di telinga saya, kondisi yang membawa saya bergabung 
dengan Partai masih hidup di depan mata saya. Oleh karena itu, saya tidak bisa 
bersikap terus pasif. Jika tidak, selama seratus tahun saya akan muncul di 
hadapan martir kita dengan perasaan malu. Saya telah menjadi anggota Partai 
selama lebih dari 50 tahun. Menyangkal Partai sungguh sangat menyakitkan. Tapi 
tanpa penolakan ini, tidak akan ada kelahiran baru. Saya tidak bersedia 
mengkhianati janji yang saya ucapkan di masa muda saya.
Akhir-akhir ini kesehatan saya tidak baik. Dokter mengatakan  ginjal saya 
bermasalah. Di rumah sakit, saya mendengar pidato Jiang Zemin tanggal 1 Juli:
"Sebagai pekerja, kaum kapitalis yang mendukung sosialisme dengan karakteristik 
Tiongkok diperbolehkan untuk bergabung dengan Partai."
Dia juga menyatakan dalam pidatonya bahwa komunisme adalah fantasi yang tak 
dapat direalisasi menjadi kenyataan. Tidak perlu dijelaskan: teori nilai lebih 
Marxis perlu dianalisis dengan dalam; para pendiri Marxisme tidak bisa memahami 
kondisi ini setelah mereka meninggal. 
Ketika saya dengar pidato Jiang, saya muntah darah. Dengan  jelas dinyatakan 
bahwa revisionisme Jiang sekarang sudah menjadi doktrin resmi. Pidatonya telah 
menghancurkan semua cita-cita saya.
Revisionisme yang di masa lalu  bertindak dengan diam-diam, sekarang sudah 
diakui dengan resmi.
iakui dengan resmi.Jadi mereka mengijinkan kaum kapitalis “tercinta” untuk 
bergabung dengan Partai. Hari ini, terbaring sakit di tempat tidur, sementara  
masih bisa menulis, saya  dengan resmi menyatakan:
1) Pada tanggal ini saya meletakkan jabatan sebagai Sekretaris Kantor Post dan 
keluar dari Partai Komunis.
2) Saya masih sangat percaya pada komunisme, Marxisme-Leninisme-Pikiran 
Maozedong, dan melaksanakan perjuangan seumur hidup untuk pembangunan komunisme 
di Tiongkok.
3) Saya sudah tua, sakit dan tidak banyak waktu lagi untuk hidup. Oleh karena 
itu, jika setelah kematian saya Tiongkok bisa mengalami kebangkitan kembali 
guna melanjutkan  Revolusi Mao Zedong di bawah kediktatoran proletariat, 
dipimpin oleh partai pelopor, saya minta Partai ini menerima kembali saya 
sebagai anggota penuh.
Saya tidak kaya, tapi jujur dan tulus. Saya punya sedikit tabungan. Saya punya 
30.000 RMB untuk Partai saya seandainya saya diterima masuk dalam sebuah 
organisasi baru. Pernyataan di atas mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2001.
Tanda tangan
Zhang Lushi
19 Juli 2001



On Saturday, September 2, 2017 11:33 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung sudah TIDAK BERHASIL melihat kejayaan 
RRT yang dijadikan ancaman negara2 Imperialisme! Hanya bisa berteriak-teriak 
remo, remo karena mengoreksi kesalahan yang terjadi di PKUS, Stalin dan diikuti 
Mao! Deng itu ketua Grup keluarkan 9 Komentar meengkritik PKUS Kruschove dengan 
telak! Apa yang dia kritik dimana remo nya PKUS telah TERBUKTI( dengan ROBOHnya 
PKUS dengan sendirinya di tahun 1991! Bagaimana Deng bisa terjerumus pula 
dengan KESALAHAN2 REMO PKUS yang dia kritik tegas itu??? Kalau benar Deng 
dengan PKT nya sekarang menempuh jalan remo, jalan kapitalis yg kalian kutuk 
itu, kita tunggu saja kerobohan RRT yang juga PASTI akan terjadi!


From: Tatiana Lukman 
Sent: Saturday, September 2, 2017 4:48 PM
To: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT 
Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD 
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

Begitulah bicaranya orang  remo yang "buta huruf" sejarah dan malas belajar!! 
Persis seperti tuan-tuan imperialisnya, kaum revisionis selalu menyalahkan , 
mensatanisasi Stalin untuk menyembunyikan dosa-dosa besar pengkhianatannya 
terhadap sosialisme. Itulah persis yang dilakukan Khrushchov dengan pidato 
rahasianya tahun 1956: menghujat Stalin, memutar balik fakta-fakta sejarah, 
menipu, dan sebagainya. Sudah dibuktikan dalam sejarah dengan gamblang, apa 
hasil revisionisme Khrustjov di Soviet Uni dan juga hasil revisionisme Deng 
xiao ping di Tiongkok. Kedua-duanya sudah merubah Soviet dan Tiongkok menjadi 
kekuatan imperialis yang sekarang terus berkontradiksi dengan kekuatan 
imperialis AS yang sedang sekarat untuk memperebutkan daerah pengaruhnya, 
daerah untuk melemparkan barang produksinya dan untuk menanamkan modalnya 
!!!Apakah Sosialisme mengijinkan negerinya punya basis militer di luar 
negerinya sendiri???Buat apa sekarang Tkk punya basis militer di luar negerinya 
sendiri???



On Saturday, September 2, 2017 10:31 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
Lalu, ... dimana SALAH Deng yang BERHASIL membangun ekonomi Tiongkok maju 
begitu dahsyatnya yang membuat negara2 Imperialisme merasa terancam dengan 
perkembangan maju Tiongkok itu dan dalam 5 tahun terakhir ini, setiap tahun 
BERHASIL mengentaskan lebih 10 juta rakyatnya dari garis kemiskinan!!!

Sebaliknya jalan Lenin yang kalian puja-puji itu sudah ROBOH karena kesalahan 
Stalin yg hendak kalian pegang TEGUH sebagai satu-satunya kebenaran! 



From: Tatiana Lukman 
Sent: Saturday, September 2, 2017 4:12 PM
To: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT 
Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD 
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

Dasar remo! Yang membedakan Indonesia dan Tkk ketika membuka pintu 
besar-besaran kepada modal asing adalah Indonesia masih tetap negeri setengah 
jajahan dan setengah feodal! Indonesia masih terus dikuasai oleh kaum feodal, 
kabir, komprador yang merupakan kepanjangant angan dari kaum imperialis. 
Sedangkan tiongkok sudah memenangkan perang pembebasan melawan semua kaum 
imperialis, menyelesaikan dengan sukses Revolusi Demokrasi Baru yang 
menghancurkan hubungan produksi feodal dan sudah membangun Sosialisme yang 
telah meletakan dasar kuat bagi industrialisasi modern!!!! Tiongkok sudah siap 
untuk tinggal landas!! Tapi karena kaum remo Deng yang berkuasa, tinggal 
landasnya diarahkan ke kapitalisme!!! Itulah HAKEKAT perbedaan keadaan objektif 
ekonomi dan sosial antara Tkk dan Indonesia!!!



On Saturday, September 2, 2017 2:14 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
Dilihat sepintas apa yang bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, 
apakah masalah Freeport, tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu 
sederhana? Kalau begitu sederhana kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan 
Freeport saling ngotot bertahan pada pendapat masing-masing, dan diahri 
terakhir pihak Freeport baru ngalah dan bersedia devestasi untuk bisa 
memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang 
masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? RI atau Freeport yang lebih 
diuntungkan, ...?

Saya melihat KESALAHAN pihak RI, dari penandatanganan menyerahkan Freeport 
membuka tambang emas ini di tahun 1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan 
pada Freeport tanpa ada usaha memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan 
rakyat Indonesia sebagai PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini 
perbedaan PRINSIP antara Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, 
mengundang masuk MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat 
TIongkok bisa diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan 
itu! Tidak lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin 
sendiri segala produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip 
BERDIKARI, KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip 
teknologi yang berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang 
diperhitungkan berapa besar KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana 
kesejahteraan rakyat tidak peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap 
menderita kemiskinan, ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah 
keterpurukkan sampai sekarang. 

Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, sudah bisa dan 
mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus diperhitungkan serius 
oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh Freeport yang jumlahnya 
belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, tentu ada 2 cara, 
melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. Nampaknya RI memilih 
Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan LEBIH BESAR pada RI! 
Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil cara minta 51% saham 
dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport sebagai jalan yang dianggap 
paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan usaha sampai 2041. Dan 
jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai kemana-mana! Dan sangat 
saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK itu, kemungkinan juga tidak 
menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper teknologi penampangan pada pihak 
pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa menjalani sendiri usaha tambang 
emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS!

Salam,
ChanCT


From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, September 2, 2017 2:59 AM
To: Yahoogroups 
Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

  
Kelihatannya banyak yang bermata jernih bisa melihat hal simple seperti ini.

---
Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.

...
30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam 
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan 
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan 
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan 
perundingan mengandung masalah.

Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport tidak sesuai dengan UU Minerba. 
Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui penetapan WPN yang harus 
disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan kepada BUMN.

Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport yang di waktu 
yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. Namun hingga saat 
ini belum ada progres terkait hal tersebut.

"Toh hingga detik ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah 
strategis untuk bisa menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," 
ujar Redhi, dilansir republika.co.id, Rabu (29/8/2017).

Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa akan berakhirnya 
Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya merugikan bagi 
Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada tahun 2021 atau 
setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik Pemerintah 
Indonesia.

Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, sesungguhnya dalam KK perpanjangan 
1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT Freeport yang harusnya pada tahun 
2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, namun faktanya hingga detik ini 
kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga direalisasikan PT Freeport.

Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk mengukuhkan kembali PT Freeport 
untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia 
sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.









Kirim email ke