Pada Sabtu, 2 September 2017 12:23, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     Daripada kita bertengkar dan sulit membuktikan mana yang benar 
sesungguhnya, siapa yang tertipu sesungguhnya, ... pertama kita tunggu saja, 
setidaknya janji atau target PKT menyelesaikan KEMISKINAN Rakyat Tiongkok di 
tahun 2020 bisa berhasil atau tidak. Kita lihat sampai dimana kesungguhan PKT 
dalam mengabdi pada 1,4 milyar Rakyat nya, ... Kedua, seandainya saja anda 
masih merasa diri pejuang anti Imperialisme didunia ini, coba tunjuk negara 
mana didunia yang bisa dan BERKEMAMAMPUAN berhadapan melawan AS kecuali RRT. 
Kalau saja PKT selalu kalian maki, hujat habis-2an sebagai REMO, lalu negara 
mana lagi yang bisa kalian ajak BERSATU untuk menghadapi dedengkot Imperialisme 
AS itu???     From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: 
Saturday, September 2, 2017 6:00 PMTo: [email protected] ; 
[email protected] ; Jonathan Goeij Cc: DISKUSI FORUM HLD Subject: Re: 
[temu_eropa] Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki 
Untung   O apa anda tidak tahu dan tidak sadar bahwa Deng xiao ping bisa 
menipu?? Anda tidak tahu bahwa kaum revisionis adalah musuh berselimut di dalam 
partai, makanya dinamakan juga kuda Troya!!! Anda tidak tahu mengapa Deng 
dimaafkan setelah dipecat beberapa kali oleh Partai selama RBKP berkobar? 
Karena Mao percaya pada otokritiknya!! Itulah KESALAHAN PALING BESAR dari Mao!! 
Percaya kepada OTOKRITIK seorang revisionis!!! 
Tahukah anda bahwa Khrushchov, ketika Stalin masih hidup, adalah pemimpin 
komunis yang paling memuja Stalin, yang menggunakan kata-kata pujaan luar biasa 
yang membuat Stalin mau muntah!!Anda menamakan saya katak dalam tempurung, anda 
tidak merasa dan tidak mengakui bagaimana sempitnya pengetahuan sejarah anda, 
karena anda malas belajar!!
Ingat kata-kata Deng  : dia bermimpi di Tiongkok ada klas borjuis. Tidak bisa! 
Pada tahun 1949 kita sudah membasmi klas borjuis dan melakukan pembangunan 
Sosialisme, bagai-mana bisa ada klas borjuis? Mengatakan bahwa perjuangan klas 
masih belum selesai? Itulah fikiran Revolusi Kebudayaan. (Pidato Deng Xiao-ping 
di depan sidang CCPKT  tahun 80-an). 
Anda pernah dulu belajar (pasti tahu, kan anda dulu dalam grup M-L!!) bahwa 
salah satu kesalahan serius kaum remo Soviet adalah menganggap tidak ada lagi 
perjuangan klas dalam sosialisme. Nah, gimana kok Deng sendiri menuduh pikiran 
yang menganggap perjuangan kelas belum selesai sebagai pikiran Revolusi 
kebudayaan?? Jadi bukan pikirannya sendiri, artinya dia tidak setuju dengan 
Mao, artinya dia setuju dengan Khrushchov!!!! Nah, lihat sendiri oportunisnya 
Deng! Kalau dulu pernah tulis 9 atau bahkan 100 komentar yang menentang Remo 
Soviet, apa yang menghalanginya untuk membelakangi apa yang ditulisnya dulu??? 
Wong dia juga mampu menulis OTOKRITIK palsu!!!!
Sampai disini komentar saya. Saya korbankan waktu hanya untuk melayani debat 
kusir orang remo semacam anda!!! Cukup sudah!!!

On Saturday, September 2, 2017 11:33 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:


  Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung sudah TIDAK BERHASIL melihat kejayaan 
RRT yang dijadikan ancaman negara2 Imperialisme! Hanya bisa berteriak-teriak 
remo, remo karena mengoreksi kesalahan yang terjadi di PKUS, Stalin dan diikuti 
Mao! Deng itu ketua Grup keluarkan 9 Komentar meengkritik PKUS Kruschove dengan 
telak! Apa yang dia kritik dimana remo nya PKUS telah TERBUKTI( dengan ROBOHnya 
PKUS dengan sendirinya di tahun 1991! Bagaimana Deng bisa terjerumus pula 
dengan KESALAHAN2 REMO PKUS yang dia kritik tegas itu??? Kalau benar Deng 
dengan PKT nya sekarang menempuh jalan remo, jalan kapitalis yg kalian kutuk 
itu, kita tunggu saja kerobohan RRT yang juga PASTI akan terjadi!  From: 
Tatiana Lukman Sent: Saturday, September 2, 2017 4:48 PMTo: 
[email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT Cc: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak 
Memiliki Untung Begitulah bicaranya orang  remo yang "buta huruf" sejarah dan 
malas belajar!! Persis seperti tuan-tuan imperialisnya, kaum revisionis selalu 
menyalahkan , mensatanisasi Stalin untuk menyembunyikan dosa-dosa besar 
pengkhianatannya terhadap sosialisme. Itulah persis yang dilakukan Khrushchov 
dengan pidato rahasianya tahun 1956: menghujat Stalin, memutar balik 
fakta-fakta sejarah, menipu, dan sebagainya. Sudah dibuktikan dalam sejarah 
dengan gamblang, apa hasil revisionisme Khrustjov di Soviet Uni dan juga hasil 
revisionisme Deng xiao ping di Tiongkok. Kedua-duanya sudah merubah Soviet dan 
Tiongkok menjadi kekuatan imperialis yang sekarang terus berkontradiksi dengan 
kekuatan imperialis AS yang sedang sekarat untuk memperebutkan daerah 
pengaruhnya, daerah untuk melemparkan barang produksinya dan untuk menanamkan 
modalnya !!!Apakah Sosialisme mengijinkan negerinya punya basis militer di luar 
negerinya sendiri???Buat apa sekarang Tkk punya basis militer di luar negerinya 
sendiri???

On Saturday, September 2, 2017 10:31 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


  Lalu, ... dimana SALAH Deng yang BERHASIL membangun ekonomi Tiongkok maju 
begitu dahsyatnya yang membuat negara2 Imperialisme merasa terancam dengan 
perkembangan maju Tiongkok itu dan dalam 5 tahun terakhir ini, setiap tahun 
BERHASIL mengentaskan lebih 10 juta rakyatnya dari garis kemiskinan!!! 
Sebaliknya jalan Lenin yang kalian puja-puji itu sudah ROBOH karena kesalahan 
Stalin yg hendak kalian pegang TEGUH sebagai satu-satunya kebenaran!    From: 
Tatiana Lukman Sent: Saturday, September 2, 2017 4:12 PMTo: 
[email protected] ; Jonathan Goeij ; Chan CT Cc: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak 
Memiliki Untung Dasar remo! Yang membedakan Indonesia dan Tkk ketika membuka 
pintu besar-besaran kepada modal asing adalah Indonesia masih tetap negeri 
setengah jajahan dan setengah feodal! Indonesia masih terus dikuasai oleh kaum 
feodal, kabir, komprador yang merupakan kepanjangant angan dari kaum 
imperialis. Sedangkan tiongkok sudah memenangkan perang pembebasan melawan 
semua kaum imperialis, menyelesaikan dengan sukses Revolusi Demokrasi Baru yang 
menghancurkan hubungan produksi feodal dan sudah membangun Sosialisme yang 
telah meletakan dasar kuat bagi industrialisasi modern!!!! Tiongkok sudah siap 
untuk tinggal landas!! Tapi karena kaum remo Deng yang berkuasa, tinggal 
landasnya diarahkan ke kapitalisme!!! Itulah HAKEKAT perbedaan keadaan objektif 
ekonomi dan sosial antara Tkk dan Indonesia!!!

On Saturday, September 2, 2017 2:14 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


  Dilihat sepintas apa yang bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, 
apakah masalah Freeport, tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu 
sederhana? Kalau begitu sederhana kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan 
Freeport saling ngotot bertahan pada pendapat masing-masing, dan diahri 
terakhir pihak Freeport baru ngalah dan bersedia devestasi untuk bisa 
memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang 
masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa? RI atau Freeport yang lebih 
diuntungkan, ...? Saya melihat KESALAHAN pihak RI, dari penandatanganan 
menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun 1967! Dimana Suharto 
sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha memperjuangkan 
keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai PEMILIK HARTA BUMI 
kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara Suharto dan Deng saat 
jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk MODAL-ASING! Deng b erusaha 
dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa diuntungkan, belajar dan 
akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak lebih dari 20 tahun, rakyat 
Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala produksi yang dikerjakan 
modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI, KREATIF, rakyat Tiongkok 
berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang berhasil dikuasai itu! 
Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar KOMISI yang bisa masuk 
kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak peduli, ... begitulah 
akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan, ekonomi nasional belum 
berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai sekarang.  Yang menjadi 
problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021, sudah bisa dan mampukah RI 
meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus diperhitungkan serius oleh 
pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh Freeport yang jumlahnya 
belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu, tentu ada 2 cara, 
melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain. Nampaknya RI memilih 
Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan LEBIH BESAR pada RI! 
Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil cara minta 51% saham 
dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport sebagai jalan yang dianggap 
paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan usaha sampai 2041. Dan 
jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai kemana-mana! Dan sangat 
saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK itu, kemungkinan juga tidak 
menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper teknologi penampangan pada pihak 
pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa menjalani sendiri usaha tambang 
emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS! Salam,ChanCT  From: Jonathan 
Goeij [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, September 2, 2017 2:59 
AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak 
Memiliki Untung   Kelihatannya banyak yang bermata jernih bisa melihat hal 
simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian saham divestasi di masa 
akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang sesungguhnya 
merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun maka pada 
tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport menjadi milik 
Pemerintah Indonesia.
...30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung

Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam 
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan 
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan 
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan 
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport 
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui 
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan 
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport 
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun. 
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik 
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa 
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir 
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham 
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang 
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun 
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport 
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport, 
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT 
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah, 
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga 
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk 
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang 
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah. 
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport 
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport 
kepada generasi saat ini," ujar Redhi.





  #yiv4377514821 #yiv4377514821 -- #yiv4377514821ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-mkp #yiv4377514821hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mkp #yiv4377514821ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mkp .yiv4377514821ad 
{padding:0 0;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mkp .yiv4377514821ad p 
{margin:0;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mkp .yiv4377514821ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-sponsor 
#yiv4377514821ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-sponsor #yiv4377514821ygrp-lc #yiv4377514821hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-sponsor #yiv4377514821ygrp-lc .yiv4377514821ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4377514821 #yiv4377514821actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4377514821
 #yiv4377514821activity span {font-weight:700;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv4377514821 #yiv4377514821activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4377514821 #yiv4377514821activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv4377514821 #yiv4377514821activity span 
.yiv4377514821underline {text-decoration:underline;}#yiv4377514821 
.yiv4377514821attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv4377514821 .yiv4377514821attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv4377514821 .yiv4377514821attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4377514821 .yiv4377514821attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4377514821 .yiv4377514821attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv4377514821 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv4377514821 .yiv4377514821bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4377514821 
.yiv4377514821bold a {text-decoration:none;}#yiv4377514821 dd.yiv4377514821last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4377514821 dd.yiv4377514821last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4377514821 
dd.yiv4377514821last p span.yiv4377514821yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv4377514821 div.yiv4377514821attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv4377514821 div.yiv4377514821attach-table 
{width:400px;}#yiv4377514821 div.yiv4377514821file-title a, #yiv4377514821 
div.yiv4377514821file-title a:active, #yiv4377514821 
div.yiv4377514821file-title a:hover, #yiv4377514821 div.yiv4377514821file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4377514821 div.yiv4377514821photo-title a, 
#yiv4377514821 div.yiv4377514821photo-title a:active, #yiv4377514821 
div.yiv4377514821photo-title a:hover, #yiv4377514821 
div.yiv4377514821photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4377514821 
div#yiv4377514821ygrp-mlmsg #yiv4377514821ygrp-msg p a 
span.yiv4377514821yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4377514821 
.yiv4377514821green {color:#628c2a;}#yiv4377514821 .yiv4377514821MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv4377514821 o {font-size:0;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821photos div {float:left;width:72px;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4377514821
 #yiv4377514821reco-category {font-size:77%;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821reco-desc {font-size:77%;}#yiv4377514821 .yiv4377514821replbq 
{margin:4px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-mlmsg select, #yiv4377514821 input, #yiv4377514821 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-mlmsg pre, #yiv4377514821 code {font:115% 
monospace;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-mlmsg #yiv4377514821logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-msg 
p#yiv4377514821attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-reco #yiv4377514821reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-sponsor 
#yiv4377514821ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-sponsor #yiv4377514821ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-sponsor #yiv4377514821ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv4377514821 #yiv4377514821ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4377514821 
#yiv4377514821ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv4377514821 

   

Kirim email ke