Probleemnya kita tidak punya data ( angka ) hasil penyelidikan, masih ada
cadangan berapa juta ton, dengan kadar emas, tembaga berapa. Juga maximal
berapa ton yang boleh dikeruk tiap tahun. Tanpa angka (kwantiteit) kita
tidak bisa bicara tentang kwaliteit ( cadangannya akan masih banyak atau
tinggal sedikit beberapa tahun lagi ). Untuk ini perlu penjelasan dari
depatemen pertambangan. Masalah keuangan , perlu juga kejelasan bagaimana
akan diatasinyua untuk bayar bagian 51%. Kalau keuntungan dari Freeport
besar, ya banyak yang ramai2 mau beli sahamnya. kalau keuntungannya tipis,
relatif terhadap saham lain, ya tidak ada yang mau beli.

2017-09-03 17:34 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
> Mungkin yang berpendapat bahwa 51% saham Freeport yang diambil alih atau
> dibeli tidak akan  membawa keuntungan karena  dianggap  setelah kurang
> lebih 50 tahun dikeruk, tidak banyak lagi   cadangan tembaga, emas dan
> peraknya. Disamping itu harga emas dikatakan tidak lagi stinggi  seperti
> setaun atau dua tahun lalu. Barangkali juga ada faktor yang dilihat ialah
> hutang luarnegeri yang cukup besar dan dimana selama ini APBN selalu
> defisit. Jadi bagi negara dianggap  hal yang problematik. Kalau seandainya
> pembelian 51%saham dimaksudkan untuk kemudian dimiliki pihak  partikulir ,
> jadi bukan untuk negara, masalahnya akan berbeda.
>
> 
>

Kirim email ke