Ini norak memang. Kasusnya delik aduan tetapi 
si pengadu (Jack Lapian) tidak tahu bahwa 
hukum hanya menerima laporan/pengaduan dari 
pihak yang dirugikan.
Jack melaporkan 3 cuitan Ahmad Dhani sebagai 
ujaran kebencian. Terlapor (AD) akui 3 cuitan itu 
berasal dari akun twiternya. Satu merupakan 
pendapatnya dan diketik sendiri, dua lainnya buatan 
admin twiternya. Yang diketik AD bunyinya begini:
“Siapa saja yg dukung Penista Agama adalah Bajingan 
yg perlu di ludahi mukanya – ADP”
Dari kalimatnya jelas cuitan itu ditujukan kepada siapa saja yang dukung 
penista agama. Lalu datang
Jack ke kantor polisi mengadukan twit itu sebagai
ujaran kebencian. 

Apa Jack ini seorang bajingan? Di pengadilan dia 
mengaku bukan bajingan. Jadi ya tidak perlu diludahi.
Selanjutnya pengacara AD tanya apa Jack seorang 
penista agama? Bukan, katanya. Pendukung penista 
agama? Juga bukan. Jadi Jack ini bukan bajingan, bukan 
penista agama, juga bukan pendukung penista agama.Lantas sebagai apa Jack 
melapor ke polisi? Apa posisi 
hukumnya sebagai pelapor? 

Jangankan dipenjara, dipolisikan saja Ahmad Dhani 
tidak pantas. Tidak bolehlah kita memenjara orang 
tanpa ada pihak yang dirugikan / menjadi korban. 
Polisi harusnya menolak pengaduan dari siapa pun 
yang tidak ada sangkutpautnya dengan persoalan yang 
diadukan.
--- jonathangoeij@... wrote: 

BENARKAH AHMAD DHANI PANTAS DIPENJARA LAYAKNYA AHOK?
HARYO SETYO WIBOWO 2 FEBRUARI 2019ESAI 1

   
   -    

   -    

   -    

   -    

   -    

   - 91Shares

MOJOK.CO – Seperti halnya kasus Ahok dengan vonis penista agama, apa yang 
menimpa Ahmad Dhani sebenarnya tidak perlu berakhir di penjara.

Bagi beberapa orang—saya salah satunya—misuh, mengumpat atau memaki tidak serta 
merta memaknainya sebagai bahasa kotor.

Saya sendiri menganggap misuh sebagai sarana keakraban dan cara menggelorakan 
ekspresi. Bahkan kalau diresapi benar ada unsur kejutannya, juga rekreatif.

“Jancuk! Dobol! Kariermu cemerlang sekali, Njing! Rusak dunia ini kalau kamu 
diberi umur panjang. Orang lain yang nggak segoblok kamu bisa nggak kebagian.”

Itu contoh umpatan combo, ada jancuk, dobol, goblok, mengharap tidak berumur 
panjang, dan anjing. Unsur pujiannya minim, tetapi “si korban” merasa baik-baik 
saja. Terkadang malah ketagihan. Ringan dan melegakan bagi yang mengucapkan, 
bukan dianggap sebagai perundungan oleh korban yang memang mempunyai kedekatan 
emosi.

Kirim email ke