*Apa kesalahan Ahmad Dhani?* On Sun, Feb 3, 2019 at 7:07 PM ajeg [email protected] [GELORA45] < [email protected]> wrote:
> > > Ini norak memang. Kasusnya delik aduan tetapi > si pengadu (Jack Lapian) tidak tahu bahwa > hukum hanya menerima laporan/pengaduan dari > pihak yang dirugikan. > > Jack melaporkan 3 cuitan Ahmad Dhani sebagai > ujaran kebencian. Terlapor (AD) akui 3 cuitan itu > berasal dari akun twiternya. Satu merupakan > pendapatnya dan diketik sendiri, dua lainnya buatan > admin twiternya. Yang diketik AD bunyinya begini: > “Siapa saja yg dukung Penista Agama adalah Bajingan > yg perlu di ludahi mukanya – ADP” > > Dari kalimatnya jelas cuitan itu ditujukan kepada > siapa saja yang dukung penista agama. Lalu datang > Jack ke kantor polisi mengadukan twit itu sebagai > ujaran kebencian.. > > Apa Jack ini seorang bajingan? Di pengadilan dia > mengaku bukan bajingan. Jadi ya tidak perlu diludahi. > Selanjutnya pengacara AD tanya apa Jack seorang > penista agama? Bukan, katanya. Pendukung penista > agama? Juga bukan. Jadi Jack ini bukan bajingan, bukan > penista agama, juga bukan pendukung penista agama. > Lantas sebagai apa Jack melapor ke polisi? Apa posisi > hukumnya sebagai pelapor? > > Jangankan dipenjara, dipolisikan saja Ahmad Dhani > tidak pantas. Tidak bolehlah kita memenjara orang > tanpa ada pihak yang dirugikan / menjadi korban.. > Polisi harusnya menolak pengaduan dari siapa pun > yang tidak ada sangkutpautnya dengan persoalan yang > diadukan. > > --- jonathangoeij@... wrote: > > [image: alt] > BENARKAH AHMAD DHANI PANTAS DIPENJARA LAYAKNYA AHOK? > <https://mojok.co/hsw/esai/benarkah-ahmad-dhani-pantas-dipenjara-layaknya-ahok/> > [image: Haryo Setyo Wibowo]HARYO SETYO WIBOWO > <https://mojok.co/penulis/hsw/> 2 FEBRUARI 2019 > ESAI <https://mojok.co/esai/> 1 > > > - > - > - > - > - > - 91 > Shares > > *MOJOK.CO – * <https://mojok.co/>*Seperti halnya kasus Ahok dengan vonis > penista agama, apa yang menimpa Ahmad Dhani sebenarnya tidak perlu berakhir > di penjara.* > > Bagi beberapa orang—saya salah satunya—misuh, mengumpat atau memaki tidak > serta merta memaknainya sebagai bahasa kotor. > > Saya sendiri menganggap misuh sebagai sarana keakraban dan cara > menggelorakan ekspresi. Bahkan kalau diresapi benar ada unsur kejutannya, > juga rekreatif. > > “Jancuk! Dobol! Kariermu cemerlang sekali, Njing! Rusak dunia ini kalau > kamu diberi umur panjang. Orang lain yang nggak segoblok kamu bisa nggak > kebagian.” > > Itu contoh umpatan > <https://mojok.co/erk/esai/asal-pakai-bahasa-arab-siapa-bilang-semua-lagu-dan-umpatan-jadi-religius/> > *combo*, ada jancuk, dobol, goblok, mengharap tidak berumur panjang, dan > anjing. Unsur pujiannya minim, tetapi “si korban” merasa baik-baik saja. > Terkadang malah ketagihan. Ringan dan melegakan bagi yang mengucapkan, > bukan dianggap sebagai perundungan oleh korban yang memang mempunyai > kedekatan emosi. > > >
