Ya, memang begitu kenyataannya, bung sunny, jadi harus mengakui juga
kepentingan nasional negara yang "membantu" Korut !! apalagi negara yang sudah
kapitalis sifatnya, tidak ada "bantuan" yang gratis!!! Soalnya si Chan ini
begitu besarnya sovinisme negara besarnya, tidak mengakui hak negeri kecil
seperti Korut untuk memperkuat pertahanan negaranya dengan senjata nuklir untuk
menghadapi ancaman perang AS. Sungguh kurang ajar menganggap Korut tidak exist
tanpa "bantuan" Tiongkok!!! Si Chan lupa hubungan antara faktor intern dan
faktor extern.... faktor intern yang menentukan...Soalnya orang remo, mana
ingat pada hukum dialektis???!!!
On Sunday, April 21, 2019, 7:51:49 AM GMT+2, Sunny ambon
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Bantuan dari luar kepada KU termasuk bantuan untuk yang memberi bantuan, karena
kalau tidak dibantu garis keamanan berpindah ke pertabatasan. Di KU itu kalau
dilihat tiap hari truk mundar manindir masuk dan keluar, karena disana ada
pabrik-pabrik negara tetangga. Ini termasuk KS juga mempunyai zona istimewa.
On Sun, Apr 21, 2019 at 6:56 AM Tatiana Lukman [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
OOOO, sangat bangga jadi anak pimpinan PKI yang justru menolak kesalahan
lama!! Justru ini anak pimpinan BAPERKI yang telah membuat malu dengan
memerosotkan diri menjadi revisionis pengkhianat pencium pantat Trump
imperialis!!! Bicara soal keselamatan rakyat tapi sama sekali tak bicara soal
penghisapan kejam kaum buruh Tiongkok dan juga negeri lain yang dilakukan kaum
kapitalis besar Tiongkok... Dimana logikanya, katanya Tiongkok kapitalis sudah
mensejahterakan rakyatnya, ada ribuan jumlah bilyuner, tapi rakyatnya tetap
disuruh kerja 12 jam sehari dan 6 hari seminggu!! Chan tidak pernah mau
mengkomentari berita dan penelitian seperti di bawah ini. Ini adalah berita
April 2019!!! Welfare your ....sssss!!!!
Despite the rapid growth of the Chinese economy in the last decade, more than
482 million people in China – 36% of the population – live on less than $2 a
day.
In total 85% of China’s poor live in rural areas and extreme poverty forces
many of them to leave the countryside in search of employment in urban areas.
Often referred to as the factory of the world, China’s industry-oriented
economy relies on these migrant workers who make up the majority of the
workforce.
There are approximately 150 million internal migrant workers in China who,
because of their status, do not receive any state benefits or protection. They
have to endure poor working conditions such as excessive and forced overtime,
denial of social security rights and failure to provide employment contracts,
as well as severe health risks.
Before opening up its economy in 1978, China had stringent controls on the
movement of people between rural and urban areas, preventing migration to
cities. These controls were part of the permit (hukou) system, in which welfare
entitlements such as pensions, housing, health and education were tied to a
person's place of birth.
As China moved towards a market economy, cheap rural labour helped fuel the
country's growth and constraints on migration were reduced, however the
restrictions on household registration of the hukou have remained in place, so
migrant workers become outcasts without access to any state benefits or
protection, despite Chinese laws enshrining "equal rights” for all.
Trying to escape from extreme poverty, rural migrant workers find themselves
trapped in appalling working conditions. Most of these workers are women
earning extremely low wages – the average monthly salary including overtime is
CNY 1,690 (£150).Migrant workers endure long working days, work seven days a
week, many without an employment contract and face constant discrimination.
Living conditions are poor with up to six people sharing small cramped
dormitories. Women migrant workers, who are primarily employed in factories,
rarely get maternity leave, and with no childcare facilities and working weeks
of more than 70 hours many are forced to send their children to live with
family in the countryside.
There is no freedom of association to form trade unions and non-governmental
labour organisations are closely monitored by the Government who carry out
regular crackdowns. Multinational corporations and national factory owners take
advantage of the anti-union climate, the workers’ lack of awareness of their
own rights and the Chinese government’s unwillingness to address the abuse of
migrant workers’ rights.
On Sunday, April 21, 2019, 6:26:13 AM GMT+2, ChanCT <[email protected]>
wrote:
PANTASLAH ini salah satu anak ketua PKI yg masih saja meneruskan kesalahan
lama! Merasa diri heibat sudah KUAT lalu main gempur, dan akhirnya LUDES tanpa
sedikitpun melawan setelah digebuk Soeharto, ...
BERJUANG tanpa strategi-Taktik yg benar, mau main seruduk tanpa perhitungkan
KESELAMATAN RAKYAT! Biarkan saja rakyat jatuh korban, begitu KEJAMnya nenek
dalam tempurung ini.
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 21/4/2019 11:54 寫道:
Sudah...sudah!!! tak ada gunanya buang waktu diskusi dengan orang remo
pro imperialis.. Ini sudah pernah diperdebatkan, bahkan orang lain juga
ikut...Masih tidak malu menyebut Mao!!! Remo selalu ketakutan sama perang !!
Dari jaman Khrushchov!! Dan Chan sudah menunjukkan ketakutannya dengan
menyuruh Korut menuruti kemauan AS... Mao mengajarkan perang dan imperialis
adalah macan kertas!!! Perang dicegah justru dengan mempersiapkan diri sebaik
mungkin dan sekuat mungkin pertahanannya. Apa bedanya Tiongkok ketika diancam
perang dan diblokade AS dan sekarang Korut yang diblokade dan diancam perang
AS??? Bedanya hanya tiongkok sekarang sudah menjadi kapitalis!!! Tkk mendukung
sepenuhnya sanksi ekonomi AS!!!!???? Nah, keluar lagi sovinisme negeri
besarnya... Negeri kecil tidak ada syarat untuk berdikari???!!! Teori siapa
itu??? Teorinya agen kecil remo Chan??? Ha...ha.. Sudah pernah juga saya
postingkan tentang pengusaha kecil tiongkok yang mengeluh karena menderita
kerugian dengan sanksi Tkk terhadap Korut... Kalau tiongkok masih mau dengan
diam-diam melanggar sanksi AS, itu dilakukan BUKAN KARENA SOLIDARITAS DENGAN
KORUT, MELAINKAN BERDASARKAN PADA KEPENTINGAN EKONOMINYA JUGA... Sudah tentu
sovinisme negara besar si Chan tidak akan pernah mengakui bahwa Tiongkok juga
memerlukan Korut!!!
On Sunday, April 21, 2019, 1:52:46 AM GMT+2, ChanCT [email protected]
[temu_eropa] <[email protected]> wrote:
Nenek dalam tempurung yang TIDAK BISA melihat perbedaan besar RRT yang berhasil
meledakkan bom-atom tahun 1964 dengan Korut sekarang ini, ... RRT berhasil
memaksa AS merubah taktik perjuangannya, Nixon terpaksa terbang ke Beijing
berjabatan-tangan dengan Ketua Mao, merubah usaha mencekik mati RRT dengan
jalankan blokade sejagad terhadap RRT menjadi "DAMAI", hubungan dagang/ekonomi.
Sebaliknya dengan Korut, TANPA RRT menunjang dibelakang, menghadapi blokade AS
selama ini, sudah tidak mampu hidup, ...! Karena memang TIDAK ADA sjarat
sebagai negara kecil, kesulitan untuk tegak berdikari, ... sandang-pangan bagi
rakyatnya! Banyak harus bersandar dari luar, khususnya RRT! RRT selama ini
menentang blokade AS terhadap Korut, dan diam-diam terus memberikan
BANTUANnya, ... dengan alasan KEMANUSIAAN, karena rakyat Korut kesulitan hidup!
Media Korut boleh-boleh saja membantah, ... tapi juga tidak terbantah kenyataan
AS mendenda perusahaan HK yg mensuply minyak utk Korut ditengah perairan Laut
Tiongkok Timur, dan masih terus mengalir masuknya segala macam barang ke Korut
melalui KA dan truk-container, ... diperbatasan. Dan begitu PENTING nya peran
RRT bagi Korut bisa juga dilihat kenyataan, Kim tahun lalu 3X berkunjung ke
Beijing menemui Xi! Bagaimana nenek yg satu ini bisa bilang Korut gagah perkasa
melawan AS tanpa RRT dibelakangnya???
Berpikirlah seperti Ketua Mao, ditahun 1959 sudah ada rencana pembangunan waduk
raksasa di Wuhan, 3 Gorges Sungai Yang Tse, ... begitu kerasnya desakan utk
membangun. Ketua Mao tetap membatalkan rencana pembangunan setelah tanya pada
marshekal/jendal disekitarnya, "Seandainya meletus PERANG, sudah mampukah TPRT
melindungi bendungan dari serangan bom?" dan TIDAK ada yang bisa menjamin!
Itulah salah satu sebab pokok Ketua Mao membatalkan/menunda rencana pembangunan
waduk raksasa, karena yang diutamakan KESELAMATAN RAKYATnya sendiri! Karena
kalau waduk jebol dibom, jutaan rakyat bisa mati terendam air!
Sedang Kim TIDAK berpikir mendahulukan KESELAMATAN RAKYAT nya sendiri! Tanpa
perhitungkan kemampuan menghadapi serangan nuklir AS dan apa yang terjadi
kalau gudang bom nuklirnya tiba-tiba meledak akibat serangan AS itu??? TIDAK
perhitungkan kemampuan menghadang setiap saat peluru2 kendali berterbangan
diangkasa dan jatuh TEPAT diatas kepalanya sendiri itu?
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 21/4/2019 2:35 寫道:
Jelas negara dan orang yang menentang percobaan senjata nuklir Korut ada
dikubu imperialis. Orang-orang progresif dan cinta damai sedunia mendukung
percobaan nuklir Korut yang jelas jemelas terus diancam perang oleh AS. Trump
sendiri mengakui provokasi militer AS melalui latihan perangnya dengan Korsel
didepan pintu gerbang masuk Korut. Hanya orang revisionis dan reaksioner pro
imperialis yang tidak mau mengakui kenyataan yang terang benderang ini. Dan
juga hanya orang remo dan reaksioner yang menganggap ancaman perang dunia ada
di Korut, seolah-olah ancaman perang datang dari Korut. Betul-betul sinting
orang yang berpikir begitu!! Bayangkan negeri kecil yang terus menerus
dikenakan sanksi dan blokade ekonomi kok malah dituduh memprovokasi
perang..Itu kan betul-betul orang reaksioner gila!! Justru kapasitas Korut
dalam senjata nuklirnyalah yang memaksa AS mau bertemu dengan Korut!!!. Korut
dipaksa oleh ancaman perang AS untuk menggunakan anggaran belanjanya guna
membiayai percobaan senjata nuklirnja!! Apakah dengan senang hati mereka
melakukannja?? sudah tentu tidak!! Mereka akan lebih senang menggunakannja
untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Makanya Kim bersedia memberi konsesi
sangat besar sekali kepada AS demi perdamaian sejati di semenanjung dan
sebagai gantinya minta sanksi ekonomi diangkat. Tapi apa jawaban AS???Sama
sekali tidak mau membicarakannya dalam perundingan di Hanoi. Kemudian apa
argumentasi si Chan remo dalam menentang senjata nuklir Korut: kasarnya bilang
negeri kecil tidak punya hak untuk memiliki senjata nuklir!!! Bayangkan!! dia
membelejeti dirinja sebagai Sovinis negara besar!!
Soal siapa membutuhkan siapa, si Chan juga buta matanya dan lagi sovinisme
negara besarnya keluar...Tiongkok kapitalis menganggap Korut harus berterima
kasih karena ada Tkk yang membackingnya!! Ha,.,ha,, inipun sudah menjadi
perdebatan antar rhodongshimun dengan Renminrebao dan pernah saya postingkan
jawaban korut... Korut mengingatkan Tkk, ketika tkk meletuskan bom nuklirnya,
Korut mendukungnya. Tkk serta antek remo lupa kalau Korut tidak ada dan
ditelan Korsel, Tkk langsung berbatasan dengan negara antek AS dengan basis
militernja!!! kepicikan revisionis tidak mampu melihat kenjataan ini. Mengapa
Tkk mengirim pasukan sukarela untuk melawan agresi AS dalam perang Korea??
Tidak lain dan tidak bukan juga untuk melindungi dirinja sendiri dari kepungan
AS!!!
Tapi semua argumentasi ini tak ada gunanya bagi otak seorang remo yang
jelas-jelas memihak Imperialisme AS!!
On Saturday, April 20, 2019, 5:19:45 AM GMT+2, ChanCT
<[email protected]> wrote:
Yang harus dihindari dan sekuat tenaga dicegah adalah meletup PERANG, apalagi
gunakan senjata nuklir didunia ini!
Yang saya tentang usaha Korut dengan percobaan nuklir! Kalau diteruskan, itu
namanya bunuh diri, ... sekaligus bencana bagi seluruh rakyat disemenanjung
Korea dan perbatasan Tiongkok! Jangan bermain api apalagi saling tantang
menantang seperti 2 tahunan yl itu! Baguuuslah bisa terjadi dialog, sekalipun
masih tersendat-sendat, ... Diakui atau tidak, seandainya dibelakang Korut
tidak ada RRT yang jadi backing kuat, saya yakin nasib Kim tidak beda dengan
Hussein, Khadafi diArab sana!
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 20/4/2019 0:21 寫道:
Irak, dan terutama Libia, adalah contoh yang tak dapat dibantah
siapapun bahwa kaum imperialis sedikitpun tidak bisa dipercayai. Hussein dan
Khadafi samasekali bukan komunis, sudah berkolaborasipun, toh akhirnya
digulingkan dan dibunuh. Makanya orang-orang remo seperti Chan yang
ikut-ikutan senewen dan kebakaran jenggot dengan percobaan senjata nuklir
Korut menelanjangi dirinya sendiri sebagai antek imperialis... Ketika
pertemuan Kim dengan Trump "kelihatannya" berhasil, langsung menepuk dada, itu
berkat jasa Tiongkok!!!. Nah, sekarang pertemuan kedua, yang sebenarnya,
sebelum dimulaipun sudah gagal duluan ,karena Trump hanya datang untuk bilang
"sanksi jalan terus" tak perduli konsesi apa yang ditawarkan Kim, terus
"jasa" siapa itu??? Ha...ha.,... tidak muncul tampang busuk remo menepuk
dada!!!
On Friday, April 19, 2019, 5:50:32 PM GMT+2, Sunny ambon
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Kadafi itu memusnahkan program nuklirnya dan juga bertemen baik
dengan Sarkosi dan Blair, malah menyumbang untuk kampanye pemilihan umu agar
mereka menang, apa jadinya kemudian? Sebelumnya Irak yang tidak mempunyai
"weapon of masdestruction", yang sudah diinspeksi PBB, apa jadinya kemudian?
On Fri, Apr 19, 2019 at 5:10 PM Tatiana Lukman [email protected]
[GELORA45] <[email protected] > wrote:
Orang yang minta senjata nuklir dimusnakan dengan menggaris bawahi
negeri berkembang, tapi melupakan dedengkot imperialis yang tidak akan dengan
suka rela menghancurkan senjata nuklirnya, pada hakekatnya adalah orang-roang
yang mimpi ditengah hari bolong atau pura-pura dan menampakkan dirinya
seolah-olah anti senjata nuklir, tapi sebetulnya berpihak kepada imperialis.
On Friday, April 19, 2019, 2:08:39 PM GMT+2, 'Lusi D.' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Pemusnahannya harus dimulai dan dibuktikan oleh pihak siapa yang
pertamakali pernah menggunakannya lebih dulu: artinya oleh Amerika
Serikat.
Ada yang bisa memberikan data waktu, sejak mulai berdirinya, kapan
Amerika Serikat tidak mempunyai pangkalan perang dan tidak menempatkan
serdadunya di luar wilayah USA sampai sekarang?
Am Fri, 19 Apr
2019 03:15:35 +0000 (UTC) schrieb "Chalik Hamid [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]>:
> Dunia makin canggih, Korut makin menunjukkan giginya. Nuklir Korut
> makin disempurnakan. Moncongnya diarahkan ke AS, bikin AS makin
> geretan.Dunia ingin aman? Musnahkan seluh senjata nuklir dari muka
> bumi, termasuk di negeri2 berkembang. ----- Pesan yang Diteruskan
> ----- Dari: ajeg [email protected] [GELORA45]
> <[email protected]>Kepada: GELORA45
> <[email protected]>Terkirim: Kamis, 18 April 2019 18.10.19
> GMT+2Judul: [GELORA45] Kremlin: Kim Jong Un Akan Bertemu Putin di
> Rusia Bulan Ini
>
>
> Kremlin:Kim Jong Un Akan Bertemu Putin di Rusia Bulan Ini
>
> AGNI VIDYA PERDANA
>
> Kompas.com- 18/04/2019, 21:28 WIB
>
> MOSKWA, KOMPAS.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dijadwalkan
> akan bertemudengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat berkunjung ke
> Rusia pada akhir bulanini. Kepastian kunjungan tersebut disampaikan
> Kremlin dalam sebuah pernyataanresmi di situs resminya, meski tidak
> menyebutkan tanggal pastipertemuantersebut.
>
> "Menyusul undangan dari Vladimir Putih, Kim Jong Un akanmengunjungi
> Rusia pada parus kedua April ini," kata Kremlin dalampernyataannya,
> Kamis (18/4/2019).
>
> Sejumlah media, termasuk dari Rusia, KoreaSelatan, maupun Jepang
> dalam laporannya menyebut pertemuan kemungkinan akandigelar di Timur
> Jauh Rusia.
>
> Sementara sebelumnya, seorang pejabat tinggiKorut, Kim Chang Son
> diketahui tengah melakukan perjalanan ke Moskwa danVladivostok.
>
> Kunjungan Kim Chang Son, yang disebut sebagai tangan kanan Kim
> JongUn, dikatakan untuk membicarakan rencana perjalanan penting
> pemimpin tertinggiKorea Utara ke Rusia.
>
> Dilansir Yonhap News, Kim Chang Son, sekretaris utamakomisi urusan
> luar negeri Korea Utara, yang bertanggung jawab dalam urusanprotokol
> untuk Kim Jong Un, telah mengunjungi Rusia pada Maret lalu.
>
> Dia beradalima hari di Moskwa melalui Beijing, sebelum kemudian
> melanjutkan perjalanandengan jalur udara ke Vladivostok pada 23 Maret
> lalu.
>
> Kunjungan ke kawasanTimur Jauh Rusia itu diperkirakan untuk meninjau
> calon lokasi pertemuan puncakKim Jong Un dengan Putin.
>
> Putin dikabarkan pernah melayangkan undangan kepadaKim Jong Un untuk
> berkunjung ke Rusia pada Juni tahun lalu, usai pertemuanpuncak
> pertama Kim dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura.
>
> Kim Jong Unbelum pernah sekalipun menjejakkan kakinya ke Rusia.
> Berbeda dengan sang ayah,Kim Jong Il, yang pernah menggunakan kereta
> api lapis bajanya, menemui PresidenRusia Dmitry Medvedev pada 2011.
>
> Dalam jajaran pejabat tinggi Rusia, baruMenteri Luar Negeri Sergey
> Lavrov yang pernah bertemu Kim Jong Un saatberkunjung ke Pyongyang
> pada akhir Mei tahun lalu.
>
> Penulis : Agni Vidya PerdanaEditor : Agni Vidya Perdana
>
>
| | 不含病毒。www.avg.com |
#yiv0769993730 #yiv0769993730 -- #yiv0769993730ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-mkp #yiv0769993730hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mkp #yiv0769993730ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mkp .yiv0769993730ad
{padding:0 0;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mkp .yiv0769993730ad p
{margin:0;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mkp .yiv0769993730ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-sponsor
#yiv0769993730ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-sponsor #yiv0769993730ygrp-lc #yiv0769993730hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-sponsor #yiv0769993730ygrp-lc .yiv0769993730ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0769993730 #yiv0769993730actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0769993730
#yiv0769993730activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0769993730
#yiv0769993730activity span {font-weight:700;}#yiv0769993730
#yiv0769993730activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0769993730 #yiv0769993730activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0769993730 #yiv0769993730activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0769993730 #yiv0769993730activity span
.yiv0769993730underline {text-decoration:underline;}#yiv0769993730
.yiv0769993730attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0769993730 .yiv0769993730attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0769993730 .yiv0769993730attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0769993730 .yiv0769993730attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0769993730 .yiv0769993730attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0769993730 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0769993730 .yiv0769993730bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0769993730
.yiv0769993730bold a {text-decoration:none;}#yiv0769993730 dd.yiv0769993730last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0769993730 dd.yiv0769993730last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0769993730
dd.yiv0769993730last p span.yiv0769993730yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0769993730 div.yiv0769993730attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0769993730 div.yiv0769993730attach-table
{width:400px;}#yiv0769993730 div.yiv0769993730file-title a, #yiv0769993730
div.yiv0769993730file-title a:active, #yiv0769993730
div.yiv0769993730file-title a:hover, #yiv0769993730 div.yiv0769993730file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0769993730 div.yiv0769993730photo-title a,
#yiv0769993730 div.yiv0769993730photo-title a:active, #yiv0769993730
div.yiv0769993730photo-title a:hover, #yiv0769993730
div.yiv0769993730photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0769993730
div#yiv0769993730ygrp-mlmsg #yiv0769993730ygrp-msg p a
span.yiv0769993730yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0769993730
.yiv0769993730green {color:#628c2a;}#yiv0769993730 .yiv0769993730MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0769993730 o {font-size:0;}#yiv0769993730
#yiv0769993730photos div {float:left;width:72px;}#yiv0769993730
#yiv0769993730photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0769993730
#yiv0769993730photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0769993730
#yiv0769993730reco-category {font-size:77%;}#yiv0769993730
#yiv0769993730reco-desc {font-size:77%;}#yiv0769993730 .yiv0769993730replbq
{margin:4px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-mlmsg select, #yiv0769993730 input, #yiv0769993730 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-mlmsg pre, #yiv0769993730 code {font:115%
monospace;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-mlmsg #yiv0769993730logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-msg
p#yiv0769993730attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-reco #yiv0769993730reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-sponsor
#yiv0769993730ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-sponsor #yiv0769993730ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-sponsor #yiv0769993730ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0769993730 #yiv0769993730ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0769993730
#yiv0769993730ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0769993730