Menurut Chan di topik LCS, sengketa RRC dengan Filipina dll karena klaim RRC
atas LCS berpegang pada anggapan sejak jaman kerajaan ratusan tahun lalu.
Artinya, ini pengakuan bahwa "berciri Tiongkok" tidak lain adalah Republik
Rakyat yang bertabiat imperial kuno. Alias, republik neo imperial, hehe....
Karena bertabiat imperial maka dengan sendirinya slogan "berciri Tiongkok"
merupakan pilihan sang emperor.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Sosialisme berkarakter Tiongkok yang kaum remo sendiri tidak dapat menjelaskan
bagaimana " cara produksi" nya .????. Itu bukan pilihan rakyat atau Mao, jelas
pilihan kaum revisionis Deng xiaoping dengan teori kucing hitam kucing
putihnya. Kalau mau kutip Mao, jangan lupa ini!! Chan bisanya membuat
interpretasi sendiri terhadap Mao. Setiap kali mengutip kata-kata Mao, kemudian
dibuktikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena dia menginterpretasinya
disesuaikan dengan pikirannya yang revisionis!!
Jelas di Mingguan Peking, ditulis Deng xiaoping sebagai capitalist-roader
(pengambil jalan kapitalis) yang menegasi perjuangan kelas dan mempraktekkan
revisionisme. Dan Mao bilang "orang ini tidak mencengkam perjuangan kelas.
Kucing hitam kucing putih tidak membedakan imperialisme dengan Marxisme."
Jelas, kucing hitam kucing putih adalah teori reaksioner!! Coba kita tunggu
bagaimana jawaban si remo Chan terhadap pendapat Mao ini. Paling-paling,, oo
ini HOAX!!!
IN the struggle to beat back the Right deviationistattempt to reverse correct
verdicts, Chairman Mao has penetratingly exposed and criticized the nature of
theunrepentant capitalist-roader Teng Hsiao-ping in negating the taking of
classstruggle as the key link and in practising revisionism. ChairmanMao has
pointed out: “This person does not grasp class struggle; he hasnever referred
to this key link. Still his theme of ‘white cat, black cat,’making no
distinction between imperialism and Marxism.” It is of extremely great
significance for us to study conscientiouslythis important directive of
Chairman Mao’s, make an in-depth criticism of the reactionary themeabout “white
cat, black cat,” draw a clear demarcation line between Marxism andrevisionism
and between socialism on the one hand and capitalism andimperialism on the
other so as to adhere to the Party’s basic line and carrythe socialist
revolution through to the end.
The reactionary fallacy “Itdoesn’t matter whether it is a white cat or a black
cat, any cat that catchesmice is a good cat” came out in 1961.
Disini, apa kata Mao? Mao bicara tentang hubungan produksi sosialis yang sesuai
dengan perkembangan tenaga produktif di Tkk ketika itu. Mao menjebut apa
hubungan produksi di Tkk ketika itu: hubungan produksi sosialis!!!Sedangkan
Deng tidak pernah mau menjelaskan atau menyebut hubungan produksi apa didalam
masyarakat "Sosialisme dengan ciri Tkk". Kalau Deng yang dedengkotnja saja
tidak mau mengakui, apalagi agen kecilnya, si Chan!!! Yang ditampilkan
pembagian dalam kepemilikan!! Ha...ha.. itu mah bukan cara produksi!!!! Kalau
mau pinter, akui dulu, jangan ngeyel dalam kegoblokan yang sebetulnya penipuan.
Which one is better, socialism or capitalism? Whither China? This is aquestion
that has been cleared up long ago. Chairman Mao pointed outin unmistakable
terms: “The present social system of our country is farsuperior to that of the
old days. If it were not so, the old system would nothave been overthrown and
the new system could not have been established. Insaying that socialist
relations of production are better suited to thedevelopment of the productive
forces than are the old relations of production,we mean that they permit the
productive forces to develop at a speedunattainable in the old society.” (On
the Correct Handling ofContradictions Among the People.
Bagaimana praktek kucing hitam kucing putih di lapangan/dalam kenyataan? Jelas
disini dijelaskan: kucing hitam kucing putih berarti mempraktekkan pertanian
individual, spekulasi, perusahaan swasta, dan akibatnja: hancur ekonomi
kolektif ( maksudnya komune rakyat yang memang dihancurkan Deng), usaha
sosialis menjadi sia-sia dan DP berubah menjadi DB (kediktaturan borjuis)Apakah
ini tidak sesuai dengan kenyataannya jang ada sekarang di Tkk?
If we were toact in the way proposed by Teng Hsiao-ping, let all the
capitalist “white catsand black cats” come out, engage in individual farming
and speculation, andembark on free enterprises, then the socialist collective
economy woulddisintegrate, the cause of socialism would go down the drain and
the stateunder the dictatorship of the proletariat would be turned into one
under thedictatorship of the bourgeoisie
Sangat sering sekali kita mendengar komentar yang mendefinisi Deng sebagai
orang yang pragmatis. Ya memang betul. Cocok dan sesuai dengan apa yang sudah
dicanangkan di Peking Review: pragmatisme membantu mempertahankan kepentingan
kaum borjuis , dan sesuai dengan kebutuhan kaum revisionis yang bekerja untuk
restorasi dan kemunduran . dan ini cocok dengan apa yang selalu saya katakan:
Deng "memundurkan" revolusi sosialis menjadi revolusi nasional demokratis. Tapi
itu sebetulnya tidak mungkin. Itu hanya penipuan kaum revisionis. Chan tak
pernah bisa jawab mana musuh2 revolusi nasdemnya??
Precisely becausepragmatism helps preserve the interests of the bourgeoisie and
is deceptive toa certain degree, it meets the needs of the revisionists in
working forrestoration and retrogression.
On Sunday, April 21, 2019, 2:39:59 PM GMT+2, ChanCT wrote:
Dalam kenyataan pertarungan didunia internasional, jelas nampak RRT makin
berada diatas angin dan AS makin terpojok, ... Siapa yang menghianati klas
buruh??? Siapa yang jilat pantat imperialisme Trump!
Harus saya TEGAS kan disini, bahwa Jalan Sosialisme berkarakter Tiongkok adalah
pilihan rakyat Tiongkok sendiri, dan itu sepenuhnya HAK Rakyat Tiongkok yang
tidak bisa kita intervensi dari luar, ... kita diluar hanya bisa melihat dan
menghormati jalan yg dipilih rakyat Tiongkok itu! Dan sebagai pembela RAKYAT
sedunia, dimanapun berada, anda sudah seharusnya juga menghormati, TIDAK
sebaliknya melecehkan apalagi menghina yg nggak-nggak dan semua berdasarkan
HOAX, FITNAH saja!
Tatiana Lukman 於 21/4/2019 18:37 寫道:
Dasar remo, pengkhianat kaum buruh, tidak bisa menjawab kenyataan di bawah
ini, jalan keluarnya: bilang saja ini HOAX!!! Ihhh, tidak punya malu!! Dulu
petantang petenteng menganggap diri paling M-L, pulang sekarang juga membangun
basis, ...tahu-tahunya pepesan kosong, jilat air ludah sendiri!!!!
Despite the rapid growth of the Chinese economy in the last decade, more than
482 million people in China – 36% of the population – live on less than $2 a
day.
In total 85% of China’s poor live in rural areas and extreme poverty forces
many of them to leave the countryside in search of employment in urban areas.
Often referred to as the factory of the world, China’s industry-oriented
economy relies on these migrant workers who make up the majority of the
workforce.
There are approximately 150 million internal migrant workers in China who,
because of their status, do not receive any state benefits or protection. They
have to endure poor working conditions such as excessive and forced overtime,
denial of social security rights and failure to provide employment contracts,
as well as severe health risks.
Before opening up its economy in 1978, China had stringent controls on the
movement of people between rural and urban areas, preventing migration to
cities. These controls were part of the permit (hukou) system, in which welfare
entitlements such as pensions, housing, health and education were tied to a
person's place of birth.
As China moved towards a market economy, cheap rural labour helped fuel the
country's growth and constraints on migration were reduced, however the
restrictions on household registration of the hukou have remained in place, so
migrant workers become outcasts without access to any state benefits or
protection, despite Chinese laws enshrining "equal rights” for all.
Trying to escape from extreme poverty, rural migrant workers find themselves
trapped in appalling working conditions. Most of these workers are women
earning extremely low wages – the average monthly salary including overtime is
CNY 1,690 (£150).Migrant workers endure long working days, work seven days a
week, many without an employment contract and face constant discrimination.
Living conditions are poor with up to six people sharing small cramped
dormitories. Women migrant workers, who are primarily employed in factories,
rarely get maternity leave, and with no childcare facilities and working weeks
of more than 70 hours many are forced to send their children to live with
family in the countryside.
There is no freedom of association to form trade unions and non-governmental
labour organisations are closely monitored by the Government who carry out
regular crackdowns. Multinational corporations and national factory owners take
advantage of the anti-union climate, the workers’ lack of awareness of their
own rights and the Chinese government’s unwillingness to address the abuse of
migrant workers’ rights.
On Sunday, April 21, 2019, 11:46:42 AM GMT+2, ChanCT wrote:
Dalam kenyataan anak yang satu ini TETAP jalankan kesalahan lama! TANPA
perhitungkan kekuatan diri sendiri dan kekuatan lawan dengan segala resiko yang
harus diperhitungkan, ... main seruduk! Belajarlah baik-baik2 ajaran Ketua Mao
itu! Mengambil satu keputusan dengan lebih dahulu perhitungkan mampu dan bisa
tidak lindungi KESELAMATAN RAKYAT banyak! Jangan ambil langkah yang dengan
resiko tinggi jatuh banyak korban rakyat yang tidak berdosa itu, ....!
Kerja 12 jam/hari itu terjadi disebagian perusahaan untuk mengejar produksi,
... tapi ingat kerja lembur mereka itu dengan imbalan lembur yg dilakukan! Beda
dengan masa RBKP, orang sudah hidup sangat MISKIN dengan serba kekurangan kerja
lembur TANPA bayaran, hanya menuduh upah-lembur itu rangsang materiel borjuasi!
KEJAAAM ,...!
Sekalipun apa yang dinyatakan Ma Yun, boss Alibaba itu ada benarnya, TANPA ada
KERJA KERAS yang dilakukan pendahulu-pendahulu selama 70 tahun terakhir ini,
kerja-keras ahli-ahli Tiongkok yg bekerja banting-tulang lebih dari 12 jam
setiap harinya, TIDAK ada Tiongkok sekarang! 996 ada baiknya sebagai sarana
menggembleng anak-anak muda, bersusah dahulu untuk menikmati kebahagiaan
kemudian, ... Tapi, TETAP tidak boleh berlakukan umum, ketentuan UU kerja 8
jam/hari tetap harus dipatuhi! Kerja lembur juga tidak seharusnya
berkepanjangan tak ada hentinya, hanya untuk sesaat saja! Diaturlah baik-baik,
...
Berita dibawah HOAX, hanya penghitaman hasil perjuangan rakyat Tiongkok selama
40 tahun terakhir ini saja yg TIDAK ada bukti nyata, ...! KENYATAAN yang ada,
gaji buruh di TIongkok rata-rata sudah diatas 3246 Yuan, ...! Kalau didaerah
pesisir selatan, seperti Shen Zhen, Guang Zhou, Xia Men, sudah sulit untuk
mendapatkan buruh dengan gaji dibawah 5 ribu Yuan. Mengapa? Karena mereka
banyak yang kembali kekampung halaman yg banyak sudah berkembang usaha dengan
penghasilan lebih baik ketimbang jadi buruh di kota,...
Kalau masih tidak percaya, sekali-kali masuklah lihat sendiri hasil kerja,
hasil perjuangan rakyat Tiongkok dalam menempuh jalannya sendiri! Bagaimana
bisa seorang yang menepuk dada mewakili rakyat, tapi selalu melecehkan,
menghitamkan bahkan menghina HASIL PERJUANGAN RAKYAT sekawan!
Tatiana Lukman 於 21/4/2019 12:54 寫道:
OOOO, sangat bangga jadi anak pimpinan PKI yang justru menolak kesalahan
lama!! Justru ini anak pimpinan BAPERKI yang telah membuat malu dengan
memerosotkan diri menjadi revisionis pengkhianat pencium pantat Trump
imperialis!!! Bicara soal keselamatan rakyat tapi sama sekali tak bicara soal
penghisapan kejam kaum buruh Tiongkok dan juga negeri lain yang dilakukan kaum
kapitalis besar Tiongkok... Dimana logikanya, katanya Tiongkok kapitalis sudah
mensejahterakan rakyatnya, ada ribuan jumlah bilyuner, tapi rakyatnya tetap
disuruh kerja 12 jam sehari dan 6 hari seminggu!! Chan tidak pernah mau
mengkomentari berita dan penelitian seperti di bawah ini. Ini adalah berita
April 2019!!! Welfare your ....sssss!!!!
Despite the rapid growth of the Chinese economy in the last decade, more than
482 million people in China – 36% of the population – live on less than $2 a
day.
In total 85% of China’s poor live in rural areas and extreme poverty forces
many of them to leave the countryside in search of employment in urban areas.
Often referred to as the factory of the world, China’s industry-oriented
economy relies on these migrant workers who make up the majority of the
workforce.
There are approximately 150 million internal migrant workers in China who,
because of their status, do not receive any state benefits or protection. They
have to endure poor working conditions such as excessive and forced overtime,
denial of social security rights and failure to provide employment contracts,
as well as severe health risks.
Before opening up its economy in 1978, China had stringent controls on the
movement of people between rural and urban areas, preventing migration to
cities. These controls were part of the permit (hukou) system, in which welfare
entitlements such as pensions, housing, health and education were tied to a
person's place of birth.
As China moved towards a market economy, cheap rural labour helped fuel the
country's growth and constraints on migration were reduced, however the
restrictions on household registration of the hukou have remained in place, so
migrant workers become outcasts without access to any state benefits or
protection, despite Chinese laws enshrining "equal rights” for all.
Trying to escape from extreme poverty, rural migrant workers find themselves
trapped in appalling working conditions. Most of these workers are women
earning extremely low wages – the average monthly salary including overtime is
CNY 1,690 (£150).Migrant workers endure long working days, work seven days a
week, many without an employment contract and face constant discrimination.
Living conditions are poor with up to six people sharing small cramped
dormitories. Women migrant workers, who are primarily employed in factories,
rarely get maternity leave, and with no childcare facilities and working weeks
of more than 70 hours many are forced to send their children to live with
family in the countryside.
There is no freedom of association to form trade unions and non-governmental
labour organisations are closely monitored by the Government who carry out
regular crackdowns. Multinational corporations and national factory owners
take advantage of the anti-union climate, the workers’ lack of awareness of
their own rights and the Chinese government’s unwillingness to address the
abuse of migrant workers’ rights.
On Sunday, April 21, 2019, 6:26:13 AM GMT+2, ChanCT wrote:
PANTASLAH ini salah satu anak ketua PKI yg masih saja meneruskan kesalahan
lama! Merasa diri heibat sudah KUAT lalu main gempur, dan akhirnya LUDES tanpa
sedikitpun melawan setelah digebuk Soeharto, ...
BERJUANG tanpa strategi-Taktik yg benar, mau main seruduk tanpa perhitungkan
KESELAMATAN RAKYAT! Biarkan saja rakyat jatuh korban, begitu KEJAMnya nenek
dalam tempurung ini.
Tatiana Lukman 於 21/4/2019 11:54 寫道:
Sudah...sudah!!! tak ada gunanya buang waktu diskusi dengan orang
remo pro imperialis.. Ini sudah pernah diperdebatkan, bahkan orang lain juga
ikut...Masih tidak malu menyebut Mao!!! Remo selalu ketakutan sama perang !!
Dari jaman Khrushchov!! Dan Chan sudah menunjukkan ketakutannya dengan
menyuruh Korut menuruti kemauan AS... Mao mengajarkan perang dan imperialis
adalah macan kertas!!! Perang dicegah justru dengan mempersiapkan diri sebaik
mungkin dan sekuat mungkin pertahanannya. Apa bedanya Tiongkok ketika diancam
perang dan diblokade AS dan sekarang Korut yang diblokade dan diancam perang
AS??? Bedanya hanya tiongkok sekarang sudah menjadi kapitalis!!! Tkk mendukung
sepenuhnya sanksi ekonomi AS!!!!???? Nah, keluar lagi sovinisme negeri
besarnya... Negeri kecil tidak ada syarat untuk berdikari???!!! Teori siapa
itu??? Teorinya agen kecil remo Chan??? Ha...ha.. Sudah pernah juga saya
postingkan tentang pengusaha kecil tiongkok yang mengeluh karena menderita
kerugian dengan sanksi Tkk terhadap Korut... Kalau tiongkok masih mau dengan
diam-diam melanggar sanksi AS, itu dilakukan BUKAN KARENA SOLIDARITAS DENGAN
KORUT, MELAINKAN BERDASARKAN PADA KEPENTINGAN EKONOMINYA JUGA... Sudah tentu
sovinisme negara besar si Chan tidak akan pernah mengakui bahwa Tiongkok juga
memerlukan Korut!!!
On Sunday, April 21, 2019, 1:52:46 AM GMT+2, ChanCT wrote:
Nenek dalam tempurung yang TIDAK BISA melihat perbedaan besar RRT yang
berhasil meledakkan bom-atom tahun 1964 dengan Korut sekarang ini, ... RRT
berhasil memaksa AS merubah taktik perjuangannya, Nixon terpaksa terbang ke
Beijing berjabatan-tangan dengan Ketua Mao, merubah usaha mencekik mati RRT
dengan jalankan blokade sejagad terhadap RRT menjadi "DAMAI", hubungan
dagang/ekonomi. Sebaliknya dengan Korut, TANPA RRT menunjang dibelakang,
menghadapi blokade AS selama ini, sudah tidak mampu hidup, ...! Karena memang
TIDAK ADA sjarat sebagai negara kecil, kesulitan untuk tegak berdikari, ...
sandang-pangan bagi rakyatnya! Banyak harus bersandar dari luar, khususnya
RRT! RRT selama ini menentang blokade AS terhadap Korut, dan diam-diam terus
memberikan BANTUANnya, ... dengan alasan KEMANUSIAAN, karena rakyat Korut
kesulitan hidup!
Media Korut boleh-boleh saja membantah, ... tapi juga tidak terbantah
kenyataan AS mendenda perusahaan HK yg mensuply minyak utk Korut ditengah
perairan Laut Tiongkok Timur, dan masih terus mengalir masuknya segala macam
barang ke Korut melalui KA dan truk-container, ... diperbatasan. Dan begitu
PENTING nya peran RRT bagi Korut bisa juga dilihat kenyataan, Kim tahun lalu
3X berkunjung ke Beijing menemui Xi! Bagaimana nenek yg satu ini bisa bilang
Korut gagah perkasa melawan AS tanpa RRT dibelakangnya???
Berpikirlah seperti Ketua Mao, ditahun 1959 sudah ada rencana pembangunan
waduk raksasa di Wuhan, 3 Gorges Sungai Yang Tse, ... begitu kerasnya desakan
utk membangun. Ketua Mao tetap membatalkan rencana pembangunan setelah tanya
pada marshekal/jendal disekitarnya, "Seandainya meletus PERANG, sudah
mampukah TPRT melindungi bendungan dari serangan bom?" dan TIDAK ada yang
bisa menjamin! Itulah salah satu sebab pokok Ketua Mao membatalkan/menunda
rencana pembangunan waduk raksasa, karena yang diutamakan KESELAMATAN
RAKYATnya sendiri! Karena kalau waduk jebol dibom, jutaan rakyat bisa mati
terendam air!
Sedang Kim TIDAK berpikir mendahulukan KESELAMATAN RAKYAT nya sendiri! Tanpa
perhitungkan kemampuan menghadapi serangan nuklir AS dan apa yang terjadi
kalau gudang bom nuklirnya tiba-tiba meledak akibat serangan AS itu??? TIDAK
perhitungkan kemampuan menghadang setiap saat peluru2 kendali berterbangan
diangkasa dan jatuh TEPAT diatas kepalanya sendiri itu?
Tatiana Lukman 於 21/4/2019 2:35 寫道:
Jelas negara dan orang yang menentang percobaan senjata nuklir Korut
ada dikubu imperialis. Orang-orang progresif dan cinta damai sedunia
mendukung percobaan nuklir Korut yang jelas jemelas terus diancam perang oleh
AS. Trump sendiri mengakui provokasi militer AS melalui latihan perangnya
dengan Korsel didepan pintu gerbang masuk Korut. Hanya orang revisionis dan
reaksioner pro imperialis yang tidak mau mengakui kenyataan yang terang
benderang ini. Dan juga hanya orang remo dan reaksioner yang menganggap
ancaman perang dunia ada di Korut, seolah-olah ancaman perang datang dari
Korut. Betul-betul sinting orang yang berpikir begitu!! Bayangkan negeri
kecil yang terus menerus dikenakan sanksi dan blokade ekonomi kok malah
dituduh memprovokasi perang..Itu kan betul-betul orang reaksioner gila!!
Justru kapasitas Korut dalam senjata nuklirnyalah yang memaksa AS mau
bertemu dengan Korut!!!. Korut dipaksa oleh ancaman perang AS untuk
menggunakan anggaran belanjanya guna membiayai percobaan senjata nuklirnja!!
Apakah dengan senang hati mereka melakukannja?? sudah tentu tidak!! Mereka
akan lebih senang menggunakannja untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya.
Makanya Kim bersedia memberi konsesi sangat besar sekali kepada AS demi
perdamaian sejati di semenanjung dan sebagai gantinya minta sanksi ekonomi
diangkat. Tapi apa jawaban AS???Sama sekali tidak mau membicarakannya dalam
perundingan di Hanoi. Kemudian apa argumentasi si Chan remo dalam menentang
senjata nuklir Korut: kasarnya bilang negeri kecil tidak punya hak untuk
memiliki senjata nuklir!!! Bayangkan!! dia membelejeti dirinja sebagai
Sovinis negara besar!!
Soal siapa membutuhkan siapa, si Chan juga buta matanya dan lagi sovinisme
negara besarnya keluar...Tiongkok kapitalis menganggap Korut harus berterima
kasih karena ada Tkk yang membackingnya!! Ha,.,ha,, inipun sudah menjadi
perdebatan antar rhodongshimun dengan Renminrebao dan pernah saya postingkan
jawaban korut... Korut mengingatkan Tkk, ketika tkk meletuskan bom
nuklirnya, Korut mendukungnya. Tkk serta antek remo lupa kalau Korut tidak
ada dan ditelan Korsel, Tkk langsung berbatasan dengan negara antek AS
dengan basis militernja!!! kepicikan revisionis tidak mampu melihat kenjataan
ini. Mengapa Tkk mengirim pasukan sukarela untuk melawan agresi AS dalam
perang Korea?? Tidak lain dan tidak bukan juga untuk melindungi dirinja
sendiri dari kepungan AS!!!
Tapi semua argumentasi ini tak ada gunanya bagi otak seorang remo yang
jelas-jelas memihak Imperialisme AS!!
On Saturday, April 20, 2019, 5:19:45 AM GMT+2, ChanCT wrote:
Yang harus dihindari dan sekuat tenaga dicegah adalah meletup PERANG, apalagi
gunakan senjata nuklir didunia ini!
Yang saya tentang usaha Korut dengan percobaan nuklir! Kalau diteruskan, itu
namanya bunuh diri, ... sekaligus bencana bagi seluruh rakyat disemenanjung
Korea dan perbatasan Tiongkok!
#yiv7901602283 -- #yiv7901602283ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-mkp #yiv7901602283hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp #yiv7901602283ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad
{padding:0 0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad p
{margin:0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-sponsor
#yiv7901602283ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ygrp-lc #yiv7901602283hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ygrp-lc .yiv7901602283ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7901602283
#yiv7901602283activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7901602283
#yiv7901602283activity span {font-weight:700;}#yiv7901602283
#yiv7901602283activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7901602283 #yiv7901602283activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7901602283 #yiv7901602283activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7901602283 #yiv7901602283activity span
.yiv7901602283underline {text-decoration:underline;}#yiv7901602283
.yiv7901602283attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7901602283
.yiv7901602283bold a {text-decoration:none;}#yiv7901602283 dd.yiv7901602283last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7901602283 dd.yiv7901602283last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7901602283
dd.yiv7901602283last p span.yiv7901602283yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283attach-table
{width:400px;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283file-title a, #yiv7901602283
div.yiv7901602283file-title a:active, #yiv7901602283
div.yiv7901602283file-title a:hover, #yiv7901602283 div.yiv7901602283file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283photo-title a,
#yiv7901602283 div.yiv7901602283photo-title a:active, #yiv7901602283
div.yiv7901602283photo-title a:hover, #yiv7901602283
div.yiv7901602283photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7901602283
div#yiv7901602283ygrp-mlmsg #yiv7901602283ygrp-msg p a
span.yiv7901602283yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7901602283
.yiv7901602283green {color:#628c2a;}#yiv7901602283 .yiv7901602283MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7901602283 o {font-size:0;}#yiv7901602283
#yiv7901602283photos div {float:left;width:72px;}#yiv7901602283
#yiv7901602283photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7901602283
#yiv7901602283photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7901602283
#yiv7901602283reco-category {font-size:77%;}#yiv7901602283
#yiv7901602283reco-desc {font-size:77%;}#yiv7901602283 .yiv7901602283replbq
{margin:4px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-mlmsg select, #yiv7901602283 input, #yiv7901602283 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-mlmsg pre, #yiv7901602283 code {font:115%
monospace;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg #yiv7901602283logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-msg
p#yiv7901602283attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-reco #yiv7901602283reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-sponsor
#yiv7901602283ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7901602283
#yiv7901602283ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7901602283