Menurut Chan di topik LCS, sengketa RRC dengan Filipina dll karena klaim RRC 
atas LCS berpegang pada anggapan sejak jaman kerajaan ratusan tahun lalu. 
Artinya, ini pengakuan bahwa "berciri Tiongkok" tidak lain adalah Republik 
Rakyat yang bertabiat imperial kuno. Alias, republik neo imperial, hehe.... 
Karena bertabiat imperial maka dengan sendirinya slogan "berciri Tiongkok" 
merupakan pilihan sang emperor.
--- jetaimemucho1@... wrote:
       

 Sosialisme berkarakter Tiongkok yang kaum remo sendiri tidak dapat menjelaskan 
bagaimana " cara produksi" nya .????. Itu  bukan pilihan rakyat atau Mao, jelas 
pilihan kaum revisionis Deng xiaoping dengan teori kucing hitam kucing 
putihnya. Kalau mau kutip Mao, jangan lupa ini!! Chan bisanya membuat  
interpretasi sendiri terhadap Mao. Setiap kali mengutip kata-kata Mao, kemudian 
 dibuktikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena dia menginterpretasinya 
disesuaikan dengan pikirannya yang revisionis!! 

Jelas di Mingguan Peking, ditulis Deng xiaoping sebagai capitalist-roader 
(pengambil jalan kapitalis) yang menegasi perjuangan kelas dan mempraktekkan 
revisionisme. Dan Mao bilang "orang ini tidak mencengkam perjuangan kelas. 
Kucing hitam kucing putih tidak membedakan imperialisme dengan Marxisme."  
Jelas, kucing hitam kucing putih adalah teori reaksioner!! Coba kita tunggu 
bagaimana jawaban si remo Chan terhadap pendapat Mao ini. Paling-paling,, oo 
ini HOAX!!! 

IN the struggle to beat back the Right deviationistattempt to reverse correct 
verdicts, Chairman Mao has penetratingly exposed and criticized the nature of 
theunrepentant capitalist-roader Teng Hsiao-ping in negating the taking of 
classstruggle as the key link and in practising revisionism. ChairmanMao has 
pointed out: “This person does not grasp class struggle; he hasnever referred 
to this key link. Still his theme of ‘white cat, black cat,’making no 
distinction between imperialism and Marxism.” It is of extremely great 
significance for us to study conscientiouslythis important directive of 
Chairman Mao’s, make an in-depth criticism of the reactionary themeabout “white 
cat, black cat,” draw a clear demarcation line between Marxism andrevisionism 
and between socialism on the one hand and capitalism andimperialism on the 
other so as to adhere to the Party’s basic line and carrythe socialist 
revolution through to the end.

The reactionary fallacy “Itdoesn’t matter whether it is a white cat or a black 
cat, any cat that catchesmice is a good cat” came out in 1961. 
Disini, apa kata Mao? Mao bicara tentang hubungan produksi sosialis yang sesuai 
dengan perkembangan tenaga produktif di Tkk ketika itu. Mao menjebut apa 
hubungan produksi di Tkk ketika itu: hubungan produksi sosialis!!!Sedangkan 
Deng tidak pernah mau menjelaskan atau menyebut hubungan produksi apa didalam 
masyarakat "Sosialisme dengan ciri Tkk". Kalau Deng yang dedengkotnja saja 
tidak mau mengakui, apalagi agen kecilnya, si Chan!!! Yang ditampilkan 
pembagian dalam kepemilikan!! Ha...ha.. itu mah bukan cara produksi!!!! Kalau 
mau pinter, akui dulu, jangan ngeyel dalam kegoblokan yang sebetulnya penipuan.
Which one is better, socialism or capitalism? Whither China? This is aquestion 
that has been cleared up long ago. Chairman Mao pointed outin unmistakable 
terms: “The present social system of our country is farsuperior to that of the 
old days. If it were not so, the old system would nothave been overthrown and 
the new system could not have been established. Insaying that socialist 
relations of production are better suited to thedevelopment of the productive 
forces than are the old relations of production,we mean that they permit the 
productive forces to develop at a speedunattainable in the old society.” (On 
the Correct Handling ofContradictions Among the People.
Bagaimana praktek kucing hitam kucing putih di lapangan/dalam kenyataan? Jelas 
disini dijelaskan: kucing hitam kucing putih berarti mempraktekkan pertanian 
individual, spekulasi, perusahaan swasta, dan akibatnja: hancur ekonomi 
kolektif ( maksudnya komune rakyat yang memang dihancurkan Deng), usaha 
sosialis menjadi sia-sia dan DP berubah menjadi DB (kediktaturan borjuis)Apakah 
ini tidak sesuai dengan kenyataannya jang ada sekarang di Tkk?

 If we were toact in the way proposed by Teng Hsiao-ping, let all the 
capitalist “white catsand black cats” come out, engage in individual farming 
and speculation, andembark on free enterprises, then the socialist collective 
economy woulddisintegrate, the cause of socialism would go down the drain and 
the stateunder the dictatorship of the proletariat would be turned into one 
under thedictatorship of the bourgeoisie

Sangat sering sekali kita mendengar komentar yang mendefinisi Deng sebagai 
orang yang pragmatis. Ya memang betul. Cocok dan sesuai dengan apa yang sudah 
dicanangkan di Peking Review: pragmatisme membantu mempertahankan kepentingan 
kaum borjuis ,  dan sesuai dengan kebutuhan kaum revisionis yang bekerja untuk 
restorasi dan kemunduran  . dan ini cocok dengan apa yang selalu saya katakan: 
Deng "memundurkan" revolusi sosialis menjadi revolusi nasional demokratis. Tapi 
itu sebetulnya tidak mungkin. Itu hanya penipuan kaum revisionis. Chan tak 
pernah bisa jawab mana musuh2 revolusi nasdemnya??
Precisely becausepragmatism helps preserve the interests of the bourgeoisie and 
is deceptive toa certain degree, it meets the needs of the revisionists in 
working forrestoration and retrogression. 

   
 On Sunday, April 21, 2019, 2:39:59 PM GMT+2, ChanCT wrote:  
   
 

Dalam kenyataan pertarungan didunia internasional, jelas nampak RRT makin 
berada diatas angin dan AS makin terpojok, ... Siapa yang menghianati klas 
buruh??? Siapa yang jilat pantat imperialisme Trump!
 
Harus saya TEGAS kan disini, bahwa Jalan Sosialisme berkarakter Tiongkok adalah 
pilihan rakyat Tiongkok sendiri, dan itu sepenuhnya HAK Rakyat Tiongkok yang 
tidak bisa kita intervensi dari luar, ... kita diluar hanya bisa melihat dan 
menghormati jalan yg dipilih rakyat Tiongkok itu! Dan sebagai pembela RAKYAT 
sedunia, dimanapun berada, anda sudah seharusnya juga menghormati, TIDAK 
sebaliknya melecehkan apalagi menghina yg nggak-nggak dan semua berdasarkan 
HOAX, FITNAH saja!
 
 

 
 Tatiana Lukman 於 21/4/2019 18:37 寫道:
  
    Dasar remo, pengkhianat kaum buruh, tidak bisa menjawab kenyataan di bawah 
ini, jalan keluarnya:  bilang saja  ini HOAX!!! Ihhh, tidak punya malu!! Dulu 
petantang petenteng menganggap diri paling M-L, pulang sekarang juga membangun 
basis, ...tahu-tahunya pepesan kosong, jilat air ludah sendiri!!!! 
  
 
  
 
  Despite the rapid growth of the Chinese economy in the last decade, more than 
482 million people in China – 36% of the population – live on less than $2 a 
day. 
In total 85% of China’s poor live in rural areas and extreme poverty forces 
many of them to leave the countryside in search of employment in urban areas. 
Often referred to as the factory of the world, China’s industry-oriented 
economy relies on these migrant workers who make up the majority of the 
workforce.
 
There are approximately 150 million internal migrant workers in China who, 
because of their status, do not receive any state benefits or protection. They 
have to endure poor working conditions such as excessive and forced overtime, 
denial of social security rights and failure to provide  employment contracts, 
as well as severe health risks.
 
Before opening up its economy in 1978, China had stringent controls on the 
movement of people between rural and urban areas, preventing migration to 
cities. These controls were part of the permit (hukou) system, in which welfare 
entitlements such as pensions, housing, health and education were tied to a 
person's place of birth.
 
As China moved towards a market economy, cheap rural labour helped fuel the 
country's growth and constraints on migration were reduced, however the 
restrictions on household registration of the hukou have remained in place, so 
migrant workers become outcasts without access to any state benefits or 
protection, despite Chinese laws enshrining "equal rights” for all.
 
Trying to escape from extreme poverty, rural migrant workers find themselves 
trapped in appalling working conditions.  Most of these workers are women 
earning extremely low wages – the average monthly salary including overtime is 
CNY 1,690 (£150).Migrant workers endure long working days, work seven days a 
week, many without an employment contract and face constant discrimination. 
Living conditions are poor with up to six people sharing small cramped 
dormitories. Women migrant workers, who are primarily employed in factories, 
rarely get maternity leave, and with no childcare facilities and working weeks 
of more than 70 hours many are forced to send their children to live with  
family in the countryside.
 
There is no freedom of association to form trade unions and non-governmental 
labour organisations are closely monitored by the Government who carry out 
regular crackdowns. Multinational corporations and national factory owners take 
advantage of the anti-union climate, the workers’ lack of awareness of their 
own rights and the Chinese government’s unwillingness to address the abuse of 
migrant workers’ rights.
 
  
      On Sunday, April 21, 2019, 11:46:42 AM GMT+2, ChanCT wrote:  
  
     
Dalam kenyataan anak yang satu ini TETAP jalankan kesalahan lama! TANPA 
perhitungkan kekuatan diri sendiri dan kekuatan lawan dengan segala resiko yang 
harus diperhitungkan, ... main seruduk! Belajarlah baik-baik2 ajaran Ketua Mao 
itu!  Mengambil satu keputusan dengan lebih dahulu perhitungkan mampu dan bisa 
tidak lindungi KESELAMATAN RAKYAT banyak! Jangan ambil langkah yang dengan 
resiko tinggi jatuh banyak korban rakyat yang tidak berdosa itu, ....!
 
Kerja 12 jam/hari itu terjadi disebagian perusahaan untuk mengejar produksi, 
... tapi ingat kerja lembur mereka itu dengan imbalan lembur yg dilakukan! Beda 
dengan masa RBKP, orang sudah hidup sangat MISKIN dengan serba kekurangan kerja 
lembur TANPA bayaran, hanya menuduh upah-lembur itu rangsang materiel borjuasi! 
KEJAAAM ,...!
 
Sekalipun apa yang dinyatakan Ma Yun, boss Alibaba itu ada benarnya, TANPA ada 
KERJA KERAS yang dilakukan pendahulu-pendahulu selama 70 tahun terakhir ini, 
kerja-keras ahli-ahli Tiongkok yg bekerja banting-tulang lebih dari 12 jam 
setiap harinya,  TIDAK ada Tiongkok sekarang! 996 ada baiknya sebagai sarana 
menggembleng anak-anak muda, bersusah dahulu untuk menikmati kebahagiaan 
kemudian, ... Tapi, TETAP tidak boleh berlakukan umum, ketentuan UU kerja 8 
jam/hari tetap harus dipatuhi! Kerja lembur juga tidak seharusnya 
berkepanjangan tak ada hentinya, hanya untuk sesaat saja! Diaturlah baik-baik, 
...
 
Berita dibawah HOAX, hanya penghitaman hasil perjuangan rakyat Tiongkok selama 
40 tahun terakhir ini saja yg TIDAK ada bukti nyata, ...! KENYATAAN yang ada, 
gaji buruh di TIongkok rata-rata sudah diatas 3246 Yuan, ...! Kalau didaerah 
pesisir selatan, seperti Shen Zhen, Guang Zhou, Xia Men, sudah sulit untuk 
mendapatkan buruh dengan gaji dibawah 5 ribu Yuan. Mengapa? Karena mereka 
banyak yang kembali kekampung halaman yg banyak sudah berkembang usaha dengan 
penghasilan lebih baik ketimbang jadi buruh di kota,... 
 
 
Kalau masih tidak percaya, sekali-kali masuklah lihat sendiri hasil kerja, 
hasil perjuangan rakyat Tiongkok dalam menempuh jalannya sendiri! Bagaimana 
bisa seorang yang menepuk dada mewakili rakyat, tapi selalu melecehkan, 
menghitamkan  bahkan menghina HASIL PERJUANGAN RAKYAT sekawan!
 

 
 Tatiana Lukman 於 21/4/2019 12:54 寫道:
   
 
      OOOO, sangat bangga jadi anak pimpinan PKI  yang justru menolak kesalahan 
lama!! Justru ini anak pimpinan BAPERKI yang telah membuat malu dengan 
memerosotkan diri menjadi revisionis pengkhianat pencium pantat Trump 
imperialis!!! Bicara soal keselamatan rakyat tapi sama sekali tak bicara soal 
penghisapan kejam kaum buruh Tiongkok dan juga negeri lain yang dilakukan kaum 
kapitalis besar Tiongkok...  Dimana logikanya, katanya Tiongkok kapitalis sudah 
mensejahterakan rakyatnya, ada ribuan jumlah bilyuner, tapi rakyatnya tetap 
disuruh kerja 12 jam sehari dan 6 hari seminggu!!  Chan tidak pernah mau 
mengkomentari berita dan penelitian seperti di bawah ini. Ini adalah berita 
April 2019!!!  Welfare your ....sssss!!!! 
    
Despite the rapid growth of the Chinese economy in the last decade, more than 
482 million people in China – 36% of the population – live on less than $2 a 
day.
 
In total 85% of China’s poor live in rural areas and extreme poverty forces 
many of them to leave the countryside in search of employment in urban areas. 
Often referred to as the factory of the world, China’s industry-oriented  
economy relies on these migrant workers who make up the majority of the 
workforce.
 
There are approximately 150 million internal migrant workers in China who, 
because of their status, do not receive any state benefits or protection. They 
have to endure poor working conditions such as excessive and forced  overtime, 
denial of social security rights and failure to provide employment contracts, 
as well as severe health risks.
 
Before opening up its economy in 1978, China had stringent controls on the 
movement of people between rural and urban  areas, preventing migration to 
cities. These controls were part of the permit (hukou) system, in which welfare 
entitlements such as pensions, housing, health and education were tied to a 
person's place of birth.
 
As China moved towards a market economy, cheap rural labour helped fuel the 
country's growth and constraints on migration  were reduced, however the 
restrictions on household registration of the hukou have remained in place, so 
migrant workers become outcasts without access to any state benefits or 
protection, despite Chinese laws enshrining "equal rights” for all.
 
Trying to escape from extreme poverty, rural migrant workers find themselves 
trapped in appalling working conditions.  Most of these workers are women 
earning extremely low wages – the average monthly salary including overtime is  
CNY 1,690 (£150).Migrant workers endure long working days, work seven days a 
week, many without an employment contract and face constant discrimination. 
Living conditions are poor with up to six people sharing small cramped 
dormitories. Women migrant workers, who are primarily employed in factories, 
rarely get maternity leave, and with no  childcare facilities and working weeks 
of more than 70 hours many are forced to send their children to live with 
family in the countryside.
 
There is no freedom of association to form trade unions and non-governmental 
labour organisations are closely monitored by the Government who carry out 
regular crackdowns. Multinational corporations and national  factory owners 
take advantage of the anti-union climate, the workers’ lack of awareness of 
their own rights and the Chinese government’s unwillingness to address the 
abuse of migrant workers’ rights.
 

 
 
  
        On Sunday, April 21, 2019, 6:26:13 AM GMT+2, ChanCT wrote:  
  
       
PANTASLAH ini salah satu anak ketua PKI yg masih saja meneruskan kesalahan 
lama! Merasa diri heibat  sudah KUAT lalu main gempur, dan akhirnya LUDES tanpa 
sedikitpun melawan setelah digebuk Soeharto, ... 
 
 
BERJUANG tanpa strategi-Taktik yg benar, mau main seruduk tanpa perhitungkan 
KESELAMATAN RAKYAT!  Biarkan saja rakyat jatuh korban, begitu KEJAMnya nenek 
dalam tempurung ini.
 

 
 Tatiana Lukman 於 21/4/2019 11:54 寫道:
  
 
           Sudah...sudah!!! tak ada gunanya buang waktu diskusi dengan orang 
remo pro  imperialis.. Ini sudah pernah diperdebatkan, bahkan orang lain juga 
ikut...Masih tidak malu menyebut Mao!!! Remo selalu ketakutan sama perang  !! 
Dari jaman Khrushchov!!  Dan Chan sudah menunjukkan ketakutannya dengan 
menyuruh  Korut menuruti kemauan AS... Mao mengajarkan perang dan imperialis 
adalah macan  kertas!!! Perang dicegah justru dengan mempersiapkan diri sebaik 
mungkin dan sekuat mungkin pertahanannya. Apa bedanya Tiongkok ketika  diancam 
perang dan diblokade AS dan sekarang Korut yang diblokade dan diancam perang 
AS??? Bedanya hanya tiongkok sekarang sudah menjadi  kapitalis!!! Tkk mendukung 
sepenuhnya sanksi ekonomi AS!!!!????  Nah, keluar lagi sovinisme negeri 
besarnya... Negeri kecil tidak ada syarat  untuk berdikari???!!!  Teori siapa 
itu???  Teorinya agen kecil remo Chan??? Ha...ha.. Sudah pernah juga saya  
postingkan tentang pengusaha kecil tiongkok yang mengeluh karena menderita 
kerugian dengan sanksi Tkk terhadap Korut... Kalau tiongkok masih  mau dengan 
diam-diam melanggar sanksi AS, itu dilakukan BUKAN KARENA SOLIDARITAS DENGAN  
KORUT, MELAINKAN BERDASARKAN PADA KEPENTINGAN EKONOMINYA JUGA... Sudah tentu 
sovinisme negara besar si Chan tidak akan pernah mengakui bahwa  Tiongkok juga 
memerlukan Korut!!! 
        On Sunday, April 21, 2019, 1:52:46 AM GMT+2, ChanCT wrote:    
 
 
Nenek dalam tempurung yang  TIDAK BISA melihat perbedaan  besar RRT yang 
berhasil  meledakkan bom-atom tahun 1964 dengan  Korut sekarang ini, ... RRT 
berhasil memaksa AS merubah taktik  perjuangannya, Nixon terpaksa terbang ke 
Beijing berjabatan-tangan  dengan Ketua Mao, merubah usaha mencekik mati RRT 
dengan  jalankan blokade sejagad  terhadap RRT menjadi "DAMAI",  hubungan 
dagang/ekonomi.  Sebaliknya dengan Korut, TANPA RRT  menunjang dibelakang,  
menghadapi blokade AS selama ini,  sudah tidak mampu hidup, ...! Karena memang 
TIDAK ADA sjarat  sebagai negara kecil, kesulitan  untuk tegak berdikari, ...  
sandang-pangan bagi rakyatnya!  Banyak harus bersandar dari  luar, khususnya 
RRT! RRT selama ini  menentang blokade AS terhadap  Korut, dan diam-diam  terus 
memberikan BANTUANnya,  ... dengan alasan KEMANUSIAAN, karena rakyat Korut  
kesulitan hidup! 
 
 
Media Korut boleh-boleh  saja membantah, ... tapi juga  tidak terbantah 
kenyataan AS mendenda perusahaan HK  yg mensuply minyak utk Korut ditengah  
perairan Laut Tiongkok  Timur, dan masih terus mengalir  masuknya segala macam 
barang ke Korut melalui KA dan  truk-container, ... diperbatasan.  Dan begitu 
PENTING nya  peran RRT bagi Korut bisa juga dilihat  kenyataan, Kim tahun lalu 
3X  berkunjung ke Beijing menemui Xi!  Bagaimana nenek yg satu ini bisa bilang 
Korut gagah perkasa  melawan AS tanpa RRT dibelakangnya??? 
 
 
Berpikirlah seperti Ketua Mao, ditahun  1959 sudah ada rencana pembangunan 
waduk raksasa di Wuhan, 3  Gorges Sungai Yang Tse, ... begitu  kerasnya desakan 
utk  membangun. Ketua Mao tetap  membatalkan rencana pembangunan  setelah tanya 
pada  marshekal/jendal disekitarnya, "Seandainya  meletus PERANG, sudah  
mampukah TPRT melindungi bendungan dari  serangan bom?" dan TIDAK ada  yang 
bisa menjamin! Itulah salah  satu sebab pokok Ketua Mao  membatalkan/menunda 
rencana  pembangunan waduk raksasa, karena yang  diutamakan KESELAMATAN  
RAKYATnya sendiri! Karena kalau  waduk jebol dibom, jutaan rakyat bisa mati 
terendam air! 
 
 
Sedang Kim TIDAK berpikir  mendahulukan KESELAMATAN RAKYAT nya  sendiri! Tanpa 
perhitungkan  kemampuan menghadapi serangan  nuklir AS dan apa yang terjadi 
kalau gudang bom nuklirnya  tiba-tiba meledak akibat serangan AS  itu??? TIDAK 
perhitungkan  kemampuan menghadang setiap saat  peluru2 kendali berterbangan 
diangkasa dan jatuh TEPAT  diatas kepalanya sendiri itu? 
 
 

 
 Tatiana Lukman 於 21/4/2019 2:35 寫道:
    
      Jelas negara dan orang yang  menentang percobaan senjata nuklir  Korut 
ada dikubu  imperialis. Orang-orang progresif dan  cinta damai sedunia 
mendukung percobaan nuklir Korut  yang jelas jemelas terus  diancam perang oleh 
AS. Trump  sendiri mengakui provokasi  militer AS melalui  latihan perangnya 
dengan Korsel  didepan pintu gerbang masuk Korut. Hanya orang revisionis dan  
reaksioner pro imperialis yang tidak mau  mengakui kenyataan yang  terang 
benderang ini. Dan juga hanya  orang remo dan reaksioner  yang menganggap 
ancaman perang  dunia ada di Korut, seolah-olah ancaman perang datang dari  
Korut. Betul-betul sinting orang  yang berpikir begitu!!  Bayangkan negeri 
kecil yang terus  menerus dikenakan sanksi dan blokade ekonomi kok  malah 
dituduh memprovokasi perang..Itu  kan betul-betul orang reaksioner gila!! 
Justru  kapasitas Korut dalam  senjata nuklirnyalah yang memaksa  AS mau 
bertemu dengan  Korut!!!. Korut dipaksa oleh ancaman  perang AS untuk 
menggunakan  anggaran belanjanya  guna membiayai percobaan senjata  nuklirnja!! 
Apakah dengan  senang hati mereka melakukannja??  sudah tentu tidak!! Mereka 
akan lebih senang menggunakannja  untuk meningkatkan kemakmuran  rakyatnya. 
Makanya Kim  bersedia memberi konsesi sangat  besar sekali kepada AS demi 
perdamaian sejati di semenanjung  dan sebagai gantinya minta sanksi ekonomi  
diangkat.  Tapi apa jawaban  AS???Sama sekali tidak mau  membicarakannya dalam 
perundingan di Hanoi.  Kemudian apa argumentasi si  Chan remo dalam menentang  
senjata nuklir Korut: kasarnya bilang negeri kecil tidak  punya hak untuk 
memiliki senjata  nuklir!!! Bayangkan!!  dia membelejeti dirinja  sebagai 
Sovinis negara besar!!
 Soal siapa membutuhkan  siapa, si Chan juga buta matanya dan  lagi sovinisme 
negara  besarnya keluar...Tiongkok kapitalis  menganggap Korut harus berterima 
kasih karena ada Tkk yang  membackingnya!! Ha,.,ha,, inipun sudah menjadi 
perdebatan  antar rhodongshimun dengan  Renminrebao dan pernah saya  postingkan 
jawaban  korut...  Korut mengingatkan  Tkk, ketika tkk meletuskan bom 
nuklirnya,  Korut mendukungnya.  Tkk serta antek remo lupa  kalau Korut tidak 
ada dan  ditelan Korsel, Tkk langsung  berbatasan dengan negara  antek AS 
dengan basis militernja!!!  kepicikan revisionis tidak mampu melihat kenjataan 
ini.  Mengapa Tkk mengirim pasukan  sukarela untuk melawan agresi  AS dalam 
perang Korea?? Tidak lain dan  tidak bukan juga untuk  melindungi dirinja 
sendiri dari  kepungan AS!!! 
  Tapi semua argumentasi  ini tak ada gunanya bagi otak seorang  remo yang 
jelas-jelas  memihak Imperialisme AS!! 
        On Saturday, April 20,  2019, 5:19:45 AM GMT+2, ChanCT wrote:  
  
       
Yang harus dihindari dan  sekuat tenaga dicegah adalah meletup  PERANG, apalagi 
 gunakan senjata nuklir didunia ini!
 
Yang saya tentang usaha Korut  dengan percobaan nuklir! Kalau  diteruskan, itu 
namanya  bunuh diri, ... sekaligus bencana bagi  seluruh rakyat disemenanjung  
Korea dan perbatasan Tiongkok! 








#yiv7901602283 -- #yiv7901602283ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-mkp #yiv7901602283hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp #yiv7901602283ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad 
{padding:0 0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad p 
{margin:0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mkp .yiv7901602283ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-sponsor 
#yiv7901602283ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ygrp-lc #yiv7901602283hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ygrp-lc .yiv7901602283ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7901602283
 #yiv7901602283activity span {font-weight:700;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7901602283  #yiv7901602283activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7901602283 #yiv7901602283activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7901602283 #yiv7901602283activity span 
.yiv7901602283underline {text-decoration:underline;}#yiv7901602283 
.yiv7901602283attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7901602283 .yiv7901602283bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7901602283 
.yiv7901602283bold a {text-decoration:none;}#yiv7901602283 dd.yiv7901602283last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7901602283 dd.yiv7901602283last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7901602283 
dd.yiv7901602283last p span.yiv7901602283yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283attach-table 
{width:400px;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283file-title a, #yiv7901602283 
div.yiv7901602283file-title a:active, #yiv7901602283 
div.yiv7901602283file-title a:hover, #yiv7901602283 div.yiv7901602283file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7901602283 div.yiv7901602283photo-title a, 
#yiv7901602283 div.yiv7901602283photo-title a:active, #yiv7901602283 
div.yiv7901602283photo-title a:hover, #yiv7901602283 
div.yiv7901602283photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7901602283 
div#yiv7901602283ygrp-mlmsg #yiv7901602283ygrp-msg p a 
span.yiv7901602283yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7901602283 
.yiv7901602283green {color:#628c2a;}#yiv7901602283 .yiv7901602283MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7901602283 o {font-size:0;}#yiv7901602283  
#yiv7901602283photos div {float:left;width:72px;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7901602283
 #yiv7901602283reco-category {font-size:77%;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283reco-desc {font-size:77%;}#yiv7901602283 .yiv7901602283replbq 
{margin:4px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-mlmsg select, #yiv7901602283 input, #yiv7901602283  textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-mlmsg pre, #yiv7901602283 code {font:115% 
monospace;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-mlmsg #yiv7901602283logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-msg 
p#yiv7901602283attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-reco #yiv7901602283reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-sponsor 
#yiv7901602283ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-sponsor #yiv7901602283ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7901602283 #yiv7901602283ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7901602283 
#yiv7901602283ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7901602283   

Kirim email ke