> Hello Novizal,
Halo juga Bung Pataka (eh bener khan ini bung bukan mbak.... heheh takut
salah nanti tersinggung lagi)

> Beda dengan bangsa ini, terbiasa segala macem hal diatur sehingga ada
> aja ide untuk melanggar dan mengkadali. Lalu dibikin aturan lagi, gitu
> terus, akibatnya implementasi aturan jadi ndak karuan. Saling tabrak
> dan malah jadi birokrasi kompleks. Nambah kesulitan.

Wah pak, untuk urusan "beda" saya setuju. Tapi bangsa ini berbeda karena
sudah biasa TIDAK teratur. Sehingga kalaupun dibuat aturan selalu dibuat
versi yang "tidak pakai aturan" alias potong kompas atau apalah namanya.
Jadi bukan karena ada peraturan terus jadi berantakan, tapi karena
pelaksanaan peraturannya tidak mengikuti aturan.

>
> Maka bikinlah aturan yang menjadi koridor, bukan detail. Selebihnya
> para pelaku hendaknya bertindaklah bijaksana. Kalau tidak silahkan
> nanggung resiko 'hukuman komunitas' atau dipidana dan diperdata kan.

Wah itu namanya "hukum rimba" pak. Hukum rimba itu tidak bisa dipakai
kecuali oleh binatang, sedangkan yang namanya manusia itu harus ada aturan.
Dengan adanya aturan saja, masih banyak yang melanggar kok apalagi tidak
ada?? Berharap para pelakunya untuk bertindak bijaksana adalah suatu
angan-angan, hanya segelintir orang yang bijaksana lagipula kalo mau dikaji
lebih jauh yang dinamakan "bijaksan" itu tindakannya seperti apa? sampai
batas mana? nah ujung-ujungnya ya kembali ada aturan tentang yang namanya
bertindak "bijaksana".

> Mengapa pemikirannya selalu bertolak pada paradigma pengaturan ?
> Apakah tidak bisa menggunakan paradigma supportif, koridor saja ?
> Jangan banyak diatur, karena makin banyak aturan, justru makin banyak
> saja kebutuhan untuk diatur. Sedikit peraturan justru menghasilkan
> banyak masalah 'tunduk' tanpa diatur.

Maaf, saya sama sekali tidak mengerti. Adalah hal yang mustahil bahwa dengan
sedikit aturan akan banyak masalah "tunduk" tanpa diatur. Apakah anda
mengerti bahwa membawa mobil dijalan itu harus disebelah kiri tanpa
diberitahu oleh orang lain? Kalau jawaban anda.... saya bisa mengerti kok
tanpa dikasih tau orang lain, maka cobalah berpikir lebih lanjut, bahwa anda
melakukan itu karena melihat orang lain (ini mungkin yang anda sebut
"natural"), dan orang lain mengerti karena tau aturan atau sama seperti
anda, melihat orang lain yang mengerti aturan juga. :-)

Pengaturan hanya ditahap koridor saja justur akan menimbulkan banyak
kekacauan. Saya tidak akan menjelaskan bagaimana itu terjadi, tapi lihat
pada setiap aturan di dunia, baik aturan pemerintahan, aturan agama dsb, dsb
semuanya diatur dengan detail. Kalau anda berpikir dunia maya itu adalah
dunia yang berbeda dan tanpa aturan, anda akan lihat bahwa perkembangannya
akan jauh berbeda dengan yang anda bayangkan. Itu karena setiap orang ingin
melindungi hak-nya (di dunia manapun) akan tetapi hak-nya tidak boleh
menghalangi atau membatasi orang lain untuk melindungi haknya. Lalu siapa
yang akan membatasinya???.........ATURAN...!!!

>
> Detailnya biar hukum rimba lah, kalau dispute dan konflik silahkan ke
> pengadilan. Begitu saja sebenarnya lebih ringan. Less bureaucracy.
> Cara begini pada titik tertentu justru akan membudayakan tanggung
> jawab individu terhadap komunitasnya, tidak bisa semau gue karena
> kesadarannya sendiri, bukan karena diatur.

Wah sampai kapanpun nggak mungkin terjadi pak. Walaupun disuatu daerah,
semua orang sudah diajarkan berbudaya untuk bertanggung jawab, memiliki
"kebijaksanaan" yang tinggi,  mempunyai IQ, EQ dan RQ yang tinggi akan
tetapi tidaklah mungkin tanpa adanya pengaturan dan mengandalkan "nilai"
individu semata. Tapi kalau anda mau tetap bersikeras ya tidak apa-apa......
just keep dream on...... heheheheh

> --
> Best regards,
>  PatakaID                            mailto:[EMAIL PROTECTED]
>

Hormat....
Novizal


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke