Bapak dan Ibu Yth.

Kalau saya boleh berkomentar atas thread milis ini, saya ingin
berkomentar sbb :

> Nggak, bangsa ini beda karena punya banyak budaya dan aturan sendiri
> berdasarkan komunitasnya masing2. Bukan karena terbiasa tidak teratur.

Saya setuju dengan pendapat pak Pataka. Memang bangsa kita punya banyak
"aturan" di tiap daerah (bahkan tiap suku). Sehingga jika kita hendak
datang ke satu daerah minimal kita harus punya pengetahuan bahasa
daerahnya, sedikit budayanya agar supaya tidak menyinggung perasaan orang
yg tinggal disana. 

Sepertinya hal itu jadi tidak efektif krn harus belajar itu dulu jika
hendak melakukan satu program ke satu daerah. Tetapi menurut saya amat
efektif, terutama jika program tersebut bukan program "hit and
run" melainkan program yang terus menerus dan berkesinambungan.

Saya kira untuk domain juga perlu demikian. IDNIC tidak perlu membimbing
instansi yang belum mengerti IT dengan cara seperti "menyuapi anak
kecil" dg cara menyediakan segalanya, padahal untuk urusan sub domain
sebaiknya instansi tsb yang menyelenggarakannya. Tapi itu tidak bisa
disalahkan karena pola pemerataan ekonomi dulu adalah instansi
pemerintah memberikan pekerjaan kepada kontraktor. Dimana
kontraktor harus membangun segalanya, instansi tinggal
pakai. Padahal soal IT tidak cukup demikian. Perlu pengurusan yang 
lebih intens pada periode selanjutnya, tidak seperti membangun gedung,
ketika selesai maka bisa ditinggalkan.

Sehingga manakala instansi tsb harus mandiri (seperti soal sub domainnya),
akan mengalami kesulitan sendiri dan terus menekan lembaga penyelengara IT
(baik itu ISP, IDNIC dan regulator IT lainnya) agar supaya mereka "disuapi
terus" supaya IT nya jalan terus. Meski ini peluaqng bisnis tetapi
impelemntasinya malahan akan melemahkan bangsa kita sendiri secara tak
langsung.

Sehubungan dengan kondisi instansi demikian saya kira dalam
mensosialisasikan IT atau domain di satu instansi seperti itu perlu lebih
bijaksana agar tidak terkesan "mengurusi rumah tangga orang" dan "tidak
menggurui" orang yang ada di instansi tsb. namun tetap memberikan
kemampuan kepada instansi tersebut untuk berdiri tegak mengurusi ITnya
sendiri. 

Ini memang soal semua orang IT yang ada di lembaga non profit seperti yang
saya alami di AIII-ITB.

Terimakasih.

Salam
-Marno-


--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke