Alhamdulillah.
Terima kasih Pak Raden Budiman. Silakan menjalani metodologi yang dilakoni.
Menurut saya ini masalah metodologi saja. Dan metodologi ini tidak bisa
dipaksakan. Setiap orang berbuat atas dasar syakilahnya.
Kalau pengalaman pribadi, yang dirasakan justru pendekatannya terbalik. Yakni
kelemahan memahami Tauhid justru karena kurang mendalami dan menyelami
penjelasan-penjelasan ulama secara utuh. Misalnya ketika di SMA dulu diajarkan
pendekatan teologis metode Asy'ariyah Maturidiyah Sifat 20. Akan tetapi ketika
mendapat kesempatan mengaji pendekatan teologis metode tersebut dari kitab-kitab
yang lebih asli (bukan sekadar dari diktat pelajaran sekolah) dilengkapi dengan
kitab-kitab lain barulah didapatkan gambaran yang lebih utuh tentang Tauhid
sampai menjadi kerangka amal. Ooo ternyata begini tho Tauhid itu, wah ternyata
luas sekali ya sampai ternyata jelas sekali hubungannya dengan metodologi
penegakan Islam dalam tataran praktis.
Jadi jangan langsung menyalahkan metodologi dan warisan khazanah hasil kerja
keras para ulama dalam menjelaskan Tauhid. Yang mempelajarinya saja barangkali
yang belum utuh. Kalaupun ada metodologi lain, belum tentu juga bisa efektif
sebagai washilah taqorrub bila penyerapannya tetap tidak utuh.
Barokallaahu lakum,
= Wizh =
Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
To: Milis is-lam <[email protected]>
cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)
Subject: Re: [is-lam] Tauhid dan Aqidah
Saya cenderung untuk tidak dulu melibatkan makna aqidah
dan/atau mitsaq dalam
pembahasan Tauhid. Sebab Tauhid yang berasal dari kata
ahad, wahid, wahdah
belum terkupas tuntas sampai ke akar-akarnya. Kita terlalu
terjebak pada asmaul-
husna dan "sifat" 20 Alloh serta Uluhiyah/Rububiyah tanpa
mengembalikan
persoalannya kepada kata pembentuk Tauhid dan suasana ayat
yang mengandung
kata-kata Tauhid itu sendiri.
Saya yakin urusan Tauhid adalah termasuk ayat-ayat
Muhkamat (yang jelas
makna dan artinya) bukan ayat-ayat Mutasyabihat (yang
perlu penafsiran secara
rosikh/mendalam-meluas). Sebagaimana disebutkan sebagai
ayat-ayat muhkamat,
maka urusan Tauhid juga bermakna hukum (bagian dari
muhkamat).
Kita mendisiplinkan diri terhadap istilah-istilah yang
berbeda didalam AlQuran berarti
kita menghormati dan memuliakan Sang Pembuat Istilah.
Mustahil Dia Yang
Membuat istilah tak mempunyai maksud dan tujuan.
Contoh istilah yang sering kita baca dalam AlQuran :
- alladzina amanu => orang-orang yang beriman
- mu'min => orang-orang yang beriman
Frame berpikir indonesia : kedua kata AlQuran itu dianggap
sama yaitu
orang-orang yang beriman. Padahal menurut rasa bahasa
AlQuran kedua kata itu
berbeda cukup signifikan.
Ilustrasinya begini :
Taufik Hidayat adalah pebulutangkis. Kemanapun ia pergi
maka cap pebulutangkis
selalu melekat padanya. Dan orang-orang juga akan
meng-image-kan
Taufik Hidayat adalah pebulutangkis. Padahal bisa saja
pada suatu saat
ada orang yang melihat Taufik Hidayat sedang bermain bola,
tapi tetap saja orang
itu akan menyebutnya sebagai pebulutangkis. Suatu saat
terlihatlah Taufik Hidayat
sedang bertanding melawan Ananda Mikola. Bagaimana
pendapat orang melihat
kejadian ini ? Orang akan mengatakan bahwa Taufik Hidayat
adalah seorang
pebulutangkis dan Ananda Mikola adalah orang yang sedang
bermain bulutangkis
(melawan Taufik Hidayat).
Jadi, mu'min adalah selalu beriman dan alladzina amanu
adalah yang sedang
beriman.
Anda akan lebih merasakan nuansa yang berbeda jika anda
mencermati suasana
ayat-ayat yang menyebutkan alladzina amanu dengan
ayat-ayat yang menyebutkan
mu'min.
Demikian pula Tauhid, aqidah, mitsaq. Akan terasa nuansa
yang sangat
berbeda pada ayat-ayat yang mengandung ketiga kata itu.
Contoh lain rasa bahasa yang berbeda :
- shidiq => benar
- haq/ al-haq => benar
Bila frame berpikir kita menyatukan makna itu dengan
'benar' untuk kedua kata
AlQuran yang berbeda maka akan rusak tatanan bahasa
AlQuran.
Disiplin terhadap istilah AlQuran adalah bagian dari
sebuah Revolusi.
Orang-orang Islam liberal adalah orang-orang yang berjalan
atas dasar
keinginannya sendiri. Tak ada keinginan mereka mengikuti
Pola Wahyu.
Wassalamu'alaikum
R.Budiman
On Wed, 11 Jan 2006 15:29:45 +0700
"IPD Wiska Susetio" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Setuju Pak Raden.
>
> Bahasa itu memang bukanlah hakikat itu sendiri. Bahasa
>hanyalah penunjuk
> hakikat. Maka untuk menggapai hakikat, makna perlu
>diselami menembus batas-batas
> harfiahnya, diserap keseluruhan suasananya.
>
> Kemudian kata-kata itu sendiri tidak pernah cukup
>melukiskan keseluruhan suasana
> yang dialami. Para ulama pun mendudukkan kata-kata
>sebagai isyarat. Setiap
> kata-kata perlu penjelasan untuk bisa mentransfer
>keseluruhan suasananya.
> Makanya para ulama rajin menulis syarah (penjelasan,
>penjabaran) dari
> kitab-kitab. Apalagi Qur'an.
>
> Ketika hendak memahami maksud para ulama, maka apa yang
>mau dijelaskannya itu
> perlu diselami, ditafakkuri. Terkadang suka salah
>memahami maksud yang hendak
> dijelaskan para ulama, ketika yang dipegang dan dilihat
>hanya kata-katanya saja.
> Jadinya terjebak dalam kata-kata, permainan bahasa dan
>istilah, terjebak di
> tataran *kulit*. Nah yang lebih bahaya lagi ketika
>ditambah su'udzhon dan buruk
> sangka. Muncullah ketakabburan meremehkan penjelasan,
>padahal suasananya sendiri
> belum diserap secara utuh. Mirip penyakit rekan-rekan
>*liberal*.
>
> Allah lah sebaik-baik pelindung dan pemberi petunjuk.
>
> = Wizh =
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam