On 1/13/2006 at 7:29 AM A_Dharmawan wrote: >Sedikitnya 345 Jemaah Tewas Akibat Desak-desakan Haji di Saudi > >"Dengan segera setelah siang hari, ada kepadatan yang sangat berlebihan di >antara para jemaah yang menyebabkan banyak jemaah jatuh dan meninggal," >kata Manei. Banyak jemaah bersikeras untuk mengikuti contoh Nabi Muhammad SAW >yang melempar batu setelah shalat siang hari dari pada melakukan ritual >tersebut sepanjang hari itu sebagaimana sejumlah ulama rekomendasikan.
Inilah salah satu akibatnya jika kita tidak berusaha untuk berpikir kritis dalam beribadah kepada Allah swt. Sudah jelas rekomendasi bukan berarti wajib, tapi kenapa harus tetap ngotot jika kita justru jadi akan menganiaya saudara kita sendiri, atau malah membinasakan diri kita sendiri ? Pengalaman saya berhaji di tahun 1995 cukup banyak memberikan kenangan menyedihkan bagi saya. Terasa benar bagaimana umat Islam telah menjadi "buih di lautan", banyak jumlahnya, namun tidak berarti. Atau, justru menjadi sumber masalah. Seperti ketika melempar jumrah. Saya berusaha untuk melempar di saat yang lebih sepi. Itupun masih cukup ramai dan sulit untuk berjalan menembus sampai ke jumrah. Yang mengerikan adalah jika tiba-tiba kita mendengar teriakan, dan terlambat menepi. Maka, kita bisa tergilas oleh rombongan orang-orang besar, yang saling berpegangan ke bahu orang di depannya, membentuk deretan panjang seperti kereta api; berjalan cepat menerobos kerumunan orang menuju ke jumrah. Tanpa peduli apakah ada saudaranya yang tertabrak atau terinjak. Yang penting, bisa memuaskan nafsunya untuk melempar "setan" dari dekat. Tanpa peduli, bahwa dalam proses tersebut, mereka sendiri juga sudah menjelma menjadi setan berbentuk manusia. Ketika thawaf, saya memilih berthawaf di pinggir, agar tidak menyakiti saudara-saudara saya yang lain. Kadang saya berthawaf di atas, dan melihat bagaimana kelakuan umat Islam di depan Ka'bah - saling sikut, pukul, dorong mendorong, penuh amarah dan egoisme, agar bisa berthawaf sedekat mungkin dengan Ka'bah. Apalagi di Hajar Aswad, pantas saja batu itu jadi sedemikian hitam legamnya - begitu banyak dosa yang dilakukan oleh sebagian besar orang agar bisa menciumnya. Saya berdoa, mudah-mudahan Allah swt berkenan memberikan saya kesempatan berhaji kembali, ketika umat Islam telah kembali bersaudara, dan saling berkasih sayang di antara mereka. Salam, Harry _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
