Alhamdulillah,
Pak Raden,
Silakan saja mengkritik, saya juga akan membela kalau dibilang metodologi yang
dikembangkan para ulama ahlus sunnah baik salafy maupun asy'ari dianggap atas
kepentingan pribadi semata. Mudah-mudahan bukan apologetik, tapi bagian dari
eksplorasi menindak lanjuti umpan balik.
Saya bilang lebih utuh tentang tauhid karena dalam pemahaman saya di ujungnya
tidak ada Tauhid metode anu atau anu. Yang ada hanya metodologi-metodologi
pendekatan tertentu bisa bermacam-macam akan tetapi ujung-ujungnya harus Tauhid.
BTW, metodologi ahlul bait itu apakah yang dipakai juga oleh orang-orang tarekat
dengan metodologi riwayat dengan rantai sanad yang didalamnya terdapat ahlul
bait ? Seperti Naqsyabandiyah yang mengambil ilmu dari Imam Ja'far Ash Shodiq -
semoga Allah mensucikan ruh beliau yang senantiasa menapaki jalan Ahlus Sunnah.
= Wizh =
Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
To: Milis is-lam <[email protected]>
cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)
Subject: Re: [is-lam] Tauhid dan Aqidah
On Fri, 13 Jan 2006 08:49:12 +0700
"IPD Wiska Susetio" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Alhamdulillah.
>
> Terima kasih Pak Raden Budiman. Silakan menjalani
>metodologi yang dilakoni.
>
> Menurut saya ini masalah metodologi saja. Dan metodologi
>ini tidak bisa
> dipaksakan. Setiap orang berbuat atas dasar syakilahnya.
= Maaf bila saya terkesan memaksakan. Tidak demikian.
Saya hanya mencoba mengembalikan semua urusan kepada
Fundamentalnya
(dalam hal ini Wahyu).
Adalah hak & kewajiban kita untuk selalu meruju dan
mengembalikan urusan
kepada Fundamentalnya. Cara ini sangat efektif untuk
menghindari perpecahan
dan perselisihan.
> Kalau pengalaman pribadi, yang dirasakan justru
>pendekatannya terbalik. Yakni
> kelemahan memahami Tauhid justru karena kurang mendalami
>dan menyelami
> penjelasan-penjelasan ulama secara utuh. Misalnya ketika
>di SMA dulu diajarkan
> pendekatan teologis metode Asy'ariyah Maturidiyah Sifat
>20.
= Contoh dalam pendekatan metode Asy'ariyah : terbuka
sebuah pertanyaan,
"darimana mengambil angka 20 ?". Dari AlQuran ? Dari
hadits ? Dari mana ?
Alloh mempunyai 99 asma-ul-husna. Bagaimana hubungan angka
20 dan 99 ini ?
Apakah 20 ini bagian dari 99 ? Atau 20 ini diluar perkara
99 ?
>Akan tetapi ketika
> mendapat kesempatan mengaji pendekatan teologis metode
>tersebut dari kitab-kitab
> yang lebih asli (bukan sekadar dari diktat pelajaran
>sekolah) dilengkapi dengan
> kitab-kitab lain barulah didapatkan gambaran yang lebih
>utuh tentang Tauhid
= Saya tidak setuju dengan pernyataan "utuh tentang
Tauhid".
Lebih baik pernyataannya sbb "utuh tentang Tauhid METODE
ASY'ARIYAH".
Agar terbuka peluang bagi yang lainnya untuk melakukan
pendekatan.
Supaya di jagat ini ramai dengan berbagai konsep dan
metodologi.
Salah satu metodologi yang layak dipertimbangkan adalah
metodologi Ahlul Bait
(bukan metodologi Syiah). Sebab, sangat jelas Ahlul Bait
dibesarkan sejalan dengan
turunnya Wahyu kepada Nabi Saaw.
> sampai menjadi kerangka amal. Ooo ternyata begini tho
>Tauhid itu, wah ternyata
> luas sekali ya sampai ternyata jelas sekali hubungannya
>dengan metodologi
> penegakan Islam dalam tataran praktis.
>
> Jadi jangan langsung menyalahkan metodologi dan warisan
>khazanah hasil kerja
> keras para ulama dalam menjelaskan Tauhid.
=Saya tidak punya hak untuk menyalahkan, tapi saya punya
hak & kewajiban
untuk mengkritisi.
>Yang
>mempelajarinya saja barangkali
> yang belum utuh. Kalaupun ada metodologi lain, belum
>tentu juga bisa efektif
> sebagai washilah taqorrub bila penyerapannya tetap tidak
>utuh.
>
> Barokallaahu lakum,
>
> = Wizh =
Wassalamu'alaikum
R.Budiman
> Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
>
> To: Milis is-lam <[email protected]>
> cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)
>
> Subject: Re: [is-lam] Tauhid dan Aqidah
>
>
>
>
> Saya cenderung untuk tidak dulu melibatkan makna aqidah
> dan/atau mitsaq dalam
> pembahasan Tauhid. Sebab Tauhid yang berasal dari kata
> ahad, wahid, wahdah
> belum terkupas tuntas sampai ke akar-akarnya. Kita
>terlalu
> terjebak pada asmaul-
> husna dan "sifat" 20 Alloh serta Uluhiyah/Rububiyah
>tanpa
> mengembalikan
> persoalannya kepada kata pembentuk Tauhid dan suasana
>ayat
> yang mengandung
> kata-kata Tauhid itu sendiri.
>
> Saya yakin urusan Tauhid adalah termasuk ayat-ayat
> Muhkamat (yang jelas
> makna dan artinya) bukan ayat-ayat Mutasyabihat (yang
> perlu penafsiran secara
> rosikh/mendalam-meluas). Sebagaimana disebutkan sebagai
> ayat-ayat muhkamat,
> maka urusan Tauhid juga bermakna hukum (bagian dari
> muhkamat).
>
> Kita mendisiplinkan diri terhadap istilah-istilah yang
> berbeda didalam AlQuran berarti
> kita menghormati dan memuliakan Sang Pembuat Istilah.
> Mustahil Dia Yang
> Membuat istilah tak mempunyai maksud dan tujuan.
>
> Contoh istilah yang sering kita baca dalam AlQuran :
> - alladzina amanu => orang-orang yang beriman
> - mu'min => orang-orang yang beriman
>Frame berpikir indonesia : kedua kata AlQuran itu
>dianggap
> sama yaitu
> orang-orang yang beriman. Padahal menurut rasa bahasa
> AlQuran kedua kata itu
> berbeda cukup signifikan.
>
> Ilustrasinya begini :
> Taufik Hidayat adalah pebulutangkis. Kemanapun ia pergi
> maka cap pebulutangkis
> selalu melekat padanya. Dan orang-orang juga akan
> meng-image-kan
> Taufik Hidayat adalah pebulutangkis. Padahal bisa saja
> pada suatu saat
> ada orang yang melihat Taufik Hidayat sedang bermain
>bola,
> tapi tetap saja orang
> itu akan menyebutnya sebagai pebulutangkis. Suatu saat
> terlihatlah Taufik Hidayat
> sedang bertanding melawan Ananda Mikola. Bagaimana
> pendapat orang melihat
> kejadian ini ? Orang akan mengatakan bahwa Taufik
>Hidayat
> adalah seorang
> pebulutangkis dan Ananda Mikola adalah orang yang sedang
> bermain bulutangkis
> (melawan Taufik Hidayat).
>
> Jadi, mu'min adalah selalu beriman dan alladzina amanu
> adalah yang sedang
> beriman.
>
> Anda akan lebih merasakan nuansa yang berbeda jika anda
> mencermati suasana
> ayat-ayat yang menyebutkan alladzina amanu dengan
> ayat-ayat yang menyebutkan
> mu'min.
>
> Demikian pula Tauhid, aqidah, mitsaq. Akan terasa nuansa
> yang sangat
> berbeda pada ayat-ayat yang mengandung ketiga kata itu.
>
> Contoh lain rasa bahasa yang berbeda :
> - shidiq => benar
> - haq/ al-haq => benar
> Bila frame berpikir kita menyatukan makna itu dengan
> 'benar' untuk kedua kata
> AlQuran yang berbeda maka akan rusak tatanan bahasa
> AlQuran.
>
> Disiplin terhadap istilah AlQuran adalah bagian dari
> sebuah Revolusi.
>
> Orang-orang Islam liberal adalah orang-orang yang
>berjalan
> atas dasar
> keinginannya sendiri. Tak ada keinginan mereka mengikuti
> Pola Wahyu.
>
> Wassalamu'alaikum
> R.Budiman
>
>
>
>
> On Wed, 11 Jan 2006 15:29:45 +0700
> "IPD Wiska Susetio" <[EMAIL PROTECTED]>
>wrote:
>>
>>
>>
>> Setuju Pak Raden.
>>
>> Bahasa itu memang bukanlah hakikat itu sendiri. Bahasa
>>hanyalah penunjuk
>> hakikat. Maka untuk menggapai hakikat, makna perlu
>>diselami menembus batas-batas
>> harfiahnya, diserap keseluruhan suasananya.
>>
>> Kemudian kata-kata itu sendiri tidak pernah cukup
>>melukiskan keseluruhan suasana
>> yang dialami. Para ulama pun mendudukkan kata-kata
>>sebagai isyarat. Setiap
>> kata-kata perlu penjelasan untuk bisa mentransfer
>>keseluruhan suasananya.
>> Makanya para ulama rajin menulis syarah (penjelasan,
>>penjabaran) dari
>> kitab-kitab. Apalagi Qur'an.
>>
>> Ketika hendak memahami maksud para ulama, maka apa yang
>>mau dijelaskannya itu
>> perlu diselami, ditafakkuri. Terkadang suka salah
>>memahami maksud yang hendak
>> dijelaskan para ulama, ketika yang dipegang dan dilihat
>>hanya kata-katanya saja.
>> Jadinya terjebak dalam kata-kata, permainan bahasa dan
>>istilah, terjebak di
>> tataran *kulit*. Nah yang lebih bahaya lagi ketika
>>ditambah su'udzhon dan buruk
>> sangka. Muncullah ketakabburan meremehkan penjelasan,
>>padahal suasananya sendiri
>> belum diserap secara utuh. Mirip penyakit rekan-rekan
>>*liberal*.
>>
>> Allah lah sebaik-baik pelindung dan pemberi petunjuk.
>>
>> = Wizh =
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam