Dijaman nabi dan para sahabat bisa seperti itu krn mereka sudah
mencapai makrifat Dzat.
Dijaman sekarang di kita ini yang ada sebatas makrifat asma/nama....
islam sebatas asma thok he-he-he..

:)
salam hangat

2009/3/21 Bango Samparan <[email protected]>:
>
> Ekonomi Islam tuh sering berpotongan dengan ekonomi sosialis mas. Ya mungkin 
> saja mereka tidak mengerti.
>
> Revrisond tuh sosialis, bahkan dulu dalam beberapa kesempatan terbatas, dia 
> sering menyebut Islam tuh tidak punya apa-apa. Tapi, entah kalau sekarang.
>
> Almarhum Sritua Arief awalnya juga sosialis (neo strukturalis), di 
> akhir-akhir dia condong ke Islam karena membaca Hasan Nanafi, Islam kiri - al 
> yasar al islam.
>
> Soal strategi pembangunan memang nggak mudah kok, selalu saja ada elit 
> strategis yang siap menjual negera ini untuk kepentingan mereka, atau 
> kepentingan jangka pendek.
>
> Dari sejak saya jadi mahasiswa ekonomi, tahun 1985, hingga saat ini, masih 
> menjadi teka-teki bagi saya, bagaimana cara melawan status quo ini. Konon, 
> kuncinya ada di kelas menengah (yang sering didefinisikan sebagai golongan 
> yang masih kritis dan netral), tapi dalam perjalanan waktu, eee... kelas 
> menengah akhirnya lebih berpihak ke elit juga. Mungkin memang karena materi 
> lebih manis rasanya, dari pada janji kemanisan di sorga nanti. Yah, mulut 
> kita sering komat-kamit membaca mantra-mantra Islam, eee... tapi kalau udah 
> praktek, kapitalisme juga yang dipakai.
>
> Rasulullah tak pernah menyimpan harta lebih tiga hari, lha kita, suka sekali 
> menyimpan puluhan tahun, kalau perlu sampai tujuh turunan:-) Oleh karena itu, 
> kita selalu mencari-mencari benda yang stabil untuk menjagai nilai simpanan 
> kita. Padahal, Allah tidak hanya menjagai kestabilan nilai simpanan kita, 
> bahkan melipatkan nilainya menjadi 700 kali.
>
> Ketika Madinah langka barang, kafilah dagang Ustman datang. Para pedagang 
> sudah siap membeli dengan harga berlipat. Tetapi Ustman menyatakan, harga 
> kalian masih terlalu rendah dari satu pedagang, yakni Allah yang akan memberi 
> harga padaku 700 kali lipat, jadi aku jual barangku kepada Allah. Maka, 
> Ustman membagikan barang dagangannya secara gratis kepada penduduk Madinah. 
> Sebuah perdagangan yang sangat menguntungkan Ustman, dalam pandangan 
> transendental Islam.
>
> Begitu yang saya ingat.
>
> Salam hangat
> B. Samparan
>
>
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke