sik.. sik.... tha.... padang rumput, api, air... naarun, maun, hawaun, turobun, lha itu pintu-pintu nafsu. waduh.... ini kan simbol-simbol yg dalem betul maknanya. Kalo dilihat disisi syariat ya ketemunya benda-benda tampak mata luar aja. Tapi dari sisi hakekat, simbol barang-barang itu kan dipake utk menyusur jalan-jalan nyawa kita pulang. "Innalillahi wa inailaihi rojiun". Itu memang tidak boleh digadaikan ke swasta atuh (iblis, ifrit, makhluk2 lainnya). ntar malah gak sampe ke rojiun, justru balik ke dunia lagi terkena siksa sakratul maut, siksa kubur, menjadikan alam barzakh (tetap didunia cuma salin alamnya, dan ntar kiamat kubro langgeng dalam siksa wis... :)
Kalo penguasa bandel gak bisa diingatkan ya sudah, toh mereka juga yg nanti kena bala nya. Yang penting kita kudu sayang diri jangan sampe tergerus ikut-ikutan ngejual diri. Setiap tambah hari, tambah jam, tambah menit, tambah detik yang namanya akhirat itu semakin dekat, dan kita kudu harus sudah siap hadapi maut yg bisa datang kapanpun. Janganlah sampai diri ini dibiarkan terfokus dgn urusan duniawi yg ibarat hanya setetes air laut diujung jari, sementara melupakan kenikmatan akhirat yang diibaratkan seluas samudra. Kalo nyicip-nyicip pisang rebus sih gak pa-pa krn kita masih ketempelan badan. Tapi ya jangan kebangetan sampe mo ngemplok pohon pisang ambon, ntar malah gak berbuah lagi... hi..hi..hi... :) salam hangat 2009/3/22 Mawan Sugiyanto <[email protected]>: > > Heheheheehh.... ya begitulah dari contoh Utsman dan Contoh penerimaan hadiah > tadi mensyiratkan kalau orang-orang yang betul2 tahu bagaimana cara > mendapatkan harta (pinter lahir batinnya) ya akan gak berarti apa2 itu > hadiah dan harta. Karena saya yakin Utsman meniti karir dari bawah hingga > punya harta sebanyak itu. Jadi ketika tahu cara mendapatkan harta itu, ya > tahu juga cara meningkatkan added valuenya lagi. Lah ngapain hartanya > ditumpuk sementara gak ada added value yang ditambahkan. > > kedua, kalau pun toh si harta abis di jalan Allah, ya gpp wong sing Utsman > tahu bagaimana cara mendapatkannya lagi. Jadi ya kalau aku pikir ya apa > susahnya. Kalau koruptor kan kurang begitu paham bagaimana cara mendapatkan > uang 500juta yang tiba-tiba nyelib ke dalam saku, dalam laci. Anehnya si > korup ini juga mengannggap 500 juta yang nyelib ini kemudian didoain pakai > dzikir 1000 kali dan menganggp itu rejeki. > > masalah ekonomi ada katanya hadist rosulullah : > > ..... Sesuai dengan hadits Rasulullah: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga > perkara : padang rumput, air dan api” artinya bahwa padang rumput termasuk > hutan adalah milik umat tidak boleh dimiliki oleh swasta, begitu pun air dan > juga api yang mencakup barang tambang migas dan listrik tidak boleh dijual > kepada swasta apalagi asing. > ................. > > versinya HT mas > > > --- On Sat, 3/21/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas > To: [email protected] > Date: Saturday, March 21, 2009, 11:23 PM > > Mas Bango, mudah-mudahan sampeyan bener-bener Haqul yaqin terhadap > kisah Rasulullah dan para sahabat itu. Dan kalo dipikir-pikir lagi > diri kita ini sesekali butuh self-chalenge utk membuktikan diri ini > apakah tergolong kategori: yaqin taklid buta, ilmul yaqin, ainul yaqin > ataukah haqul yaqin terhadap ajaran-ajaran beliau. Ya betul... mungkin > memang kudu seperti ini utk membongkar hijab-hijab diri ini. Coba aja > test andai suatu saat sampeyan ada uang cukup banyak didompet (uang > pribadi ya dan saat itu sampeyan juga sangat membutuhkan uang itu > pula) dan kemudian tiba-tiba dijalan ketemu seorang fakir tak dikenal > yg menurut sampeyan sangat memerlukan bantuan; bisa tidak tanpa > ba-bi-bu, tanpa berhitung apapun, langsung memberikan seluruh isi > dompet gak pake hitung-hitungan lagi. Coba deh, kira-kira apa nanti yg > muncul dikepala dan apa yg muncul dihati... perseteruan ataukah > penyatuan? trus kira-kira rasa apa yg muncul di dada ? Dan ketika > ternyata dibelakang hari sampeyan baru tahu bahwa si fakir tsb > ternyata hanya berpura-pura saja sebagai si fakir, pikiran dan > perasaan apa lagi yg secara spontan muncul? > > Anggaplah ini mungkin baru contoh kerikil kecil perjalanan si salik... > Ayo coba aja sampeyan bikin sendiri model tantangan yang cocok dan > memang menantang... :) :) > > Kebetulan dulu pernah melakukan beberapa kali self-chalenge, dan bisa > dikatakan rasanya seperti blank, gak ada rasa apa-apa, plong - lolos > gitu aja, tak ada bekas yg berarti. Dalam kondisi top performance, > company sehat, tiba-tiba dari "dalem" ada sinyal utk melepaskan > semuanya.... ya sudah apa boleh buat. Ternyata session-session > berikutnya ya normal-normal aja tuh jalannya dagelan hidup ini. > > Dari pengalaman2 itu baru saya ngeh, oh rupanya yang namanya dalil itu > baru bisa disebut sebagai dalil hanya jika diri ini sudah mengalaminya > langsung. Jika masih belum mengalaminya itu ya sebatas pituturan Gusti > Allah saja. Dan ketika pituturan itu sudah tertransformasikan lewat > pengalaman langsung itulah baru bisa disebut sebagai men-dalil. Diri > kita inilah yg dijadikan kitab yg hidup, tempat oret-oretan pena-NYA. > Rupanya Qur'an itu tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan tulisannya > saja, tapi diri harus merasakan langsung (bukan pura-pura merasakan) > agar tulisan2 itu bisa keluar bunyinya. Jika sudah demikian ternyata > yang namanya rasa syukur, sabar, dan ikhlas itu adalah bagaikan kado > hadiah. Blas gak ada rasanya, hambar, blank.... :) > > :) > salam hangat. > > 2009/3/21 Bango Samparan <[email protected]>: >> >> Rasulullah tak pernah menyimpan harta lebih tiga hari, lha kita, suka >> sekali menyimpan puluhan tahun, kalau perlu sampai tujuh turunan:-) Oleh >> karena itu, kita selalu mencari-mencari benda yang stabil untuk menjagai >> nilai simpanan kita. Padahal, Allah tidak hanya menjagai kestabilan nilai >> simpanan kita, bahkan melipatkan nilainya menjadi 700 kali. >> >> Ketika Madinah langka barang, kafilah dagang Ustman datang. Para pedagang >> sudah siap membeli dengan harga berlipat. Tetapi Ustman menyatakan, harga >> kalian masih terlalu rendah dari satu pedagang, yakni Allah yang akan >> memberi harga padaku 700 kali lipat, jadi aku jual barangku kepada Allah. >> Maka, Ustman membagikan barang dagangannya secara gratis kepada penduduk >> Madinah. Sebuah perdagangan yang sangat menguntungkan Ustman, dalam >> pandangan transendental Islam. >> >> Begitu yang saya ingat. >> >> Salam hangat >> B. Samparan >> >> >> >> _______________________________________________ >> Is-lam mailing list >> [email protected] >> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam >> > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
