Mas Bango, mudah-mudahan sampeyan bener-bener Haqul yaqin terhadap kisah Rasulullah dan para sahabat itu. Dan kalo dipikir-pikir lagi diri kita ini sesekali butuh self-chalenge utk membuktikan diri ini apakah tergolong kategori: yaqin taklid buta, ilmul yaqin, ainul yaqin ataukah haqul yaqin terhadap ajaran-ajaran beliau. Ya betul... mungkin memang kudu seperti ini utk membongkar hijab-hijab diri ini. Coba aja test andai suatu saat sampeyan ada uang cukup banyak didompet (uang pribadi ya dan saat itu sampeyan juga sangat membutuhkan uang itu pula) dan kemudian tiba-tiba dijalan ketemu seorang fakir tak dikenal yg menurut sampeyan sangat memerlukan bantuan; bisa tidak tanpa ba-bi-bu, tanpa berhitung apapun, langsung memberikan seluruh isi dompet gak pake hitung-hitungan lagi. Coba deh, kira-kira apa nanti yg muncul dikepala dan apa yg muncul dihati... perseteruan ataukah penyatuan? trus kira-kira rasa apa yg muncul di dada ? Dan ketika ternyata dibelakang hari sampeyan baru tahu bahwa si fakir tsb ternyata hanya berpura-pura saja sebagai si fakir, pikiran dan perasaan apa lagi yg secara spontan muncul?
Anggaplah ini mungkin baru contoh kerikil kecil perjalanan si salik... Ayo coba aja sampeyan bikin sendiri model tantangan yang cocok dan memang menantang... :) :) Kebetulan dulu pernah melakukan beberapa kali self-chalenge, dan bisa dikatakan rasanya seperti blank, gak ada rasa apa-apa, plong - lolos gitu aja, tak ada bekas yg berarti. Dalam kondisi top performance, company sehat, tiba-tiba dari "dalem" ada sinyal utk melepaskan semuanya.... ya sudah apa boleh buat. Ternyata session-session berikutnya ya normal-normal aja tuh jalannya dagelan hidup ini. Dari pengalaman2 itu baru saya ngeh, oh rupanya yang namanya dalil itu baru bisa disebut sebagai dalil hanya jika diri ini sudah mengalaminya langsung. Jika masih belum mengalaminya itu ya sebatas pituturan Gusti Allah saja. Dan ketika pituturan itu sudah tertransformasikan lewat pengalaman langsung itulah baru bisa disebut sebagai men-dalil. Diri kita inilah yg dijadikan kitab yg hidup, tempat oret-oretan pena-NYA. Rupanya Qur'an itu tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan tulisannya saja, tapi diri harus merasakan langsung (bukan pura-pura merasakan) agar tulisan2 itu bisa keluar bunyinya. Jika sudah demikian ternyata yang namanya rasa syukur, sabar, dan ikhlas itu adalah bagaikan kado hadiah. Blas gak ada rasanya, hambar, blank.... :) :) salam hangat. 2009/3/21 Bango Samparan <[email protected]>: > > Rasulullah tak pernah menyimpan harta lebih tiga hari, lha kita, suka sekali > menyimpan puluhan tahun, kalau perlu sampai tujuh turunan:-) Oleh karena itu, > kita selalu mencari-mencari benda yang stabil untuk menjagai nilai simpanan > kita. Padahal, Allah tidak hanya menjagai kestabilan nilai simpanan kita, > bahkan melipatkan nilainya menjadi 700 kali. > > Ketika Madinah langka barang, kafilah dagang Ustman datang. Para pedagang > sudah siap membeli dengan harga berlipat. Tetapi Ustman menyatakan, harga > kalian masih terlalu rendah dari satu pedagang, yakni Allah yang akan memberi > harga padaku 700 kali lipat, jadi aku jual barangku kepada Allah. Maka, > Ustman membagikan barang dagangannya secara gratis kepada penduduk Madinah. > Sebuah perdagangan yang sangat menguntungkan Ustman, dalam pandangan > transendental Islam. > > Begitu yang saya ingat. > > Salam hangat > B. Samparan > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
