Air yang pokok itu ya yang utk kebutuhan MCK itu. Sementara air
mineral sepertinya lebih bersifat skunder cadangan/pengganti).
Manakala disuatu daerah tertentu kebutuhan air utk MCK saja tidak
tercukupi maka adalah kewajiban negara (yg diwakili oleh pemerintah)
utk memenuhinya. Sebagaimana kewajiban seorang ayah kepada anaknya.
Sebelum si anak nuntut hak atas kebutuhan makan maka si ayah lah yg
terlebih dahulu harus punya rasa kewajiban menyediakan. Jadi UUD itu
konteks membacanya ya dari sisi penyelenggara negara sebagai pelindung
dan pengabdi pada rakyatnya.

Ketika kondisi terbalik dimana rakyat telah berubah menjadi abdi nya
pemerintah, dan pemerintah menjadi majikan rakyatnya, maka akan
terjadi tungging balik posisi. Sehingga tidak heran jika terjadi
gejala "majikan melahirkan anak dari abdi/budaknya", yang maknanya
adalah telah terjadi pembalikan antara hak dan kewajiban yg sedemikian
kronis hingga beranak-pinak dihampir segala sisi kehidupan dan nyaris
sulit dikembalikan ke posisi seperti defaultnya.

:)
salam hangat

2009/3/23 Mawan Sugiyanto <[email protected]>:
>
> assalamu 'alaikum warahmatullah
>
> kembali ke masalah harta negara lagi.. pertama bumi, air dan kekayaan alam 
> dipergunakan untuk sebesar-besar kemammuran rakyat.
> Pertanyaan pertama :
> AIR :
>
> 1. sumber air di Indonesia sekarang bagaimana ?
> 2. apakah usaha-usaha air minum mineral yang mengambil dari sumber mata air 
> itu termasuk privatisasi?
> 3. bagaimana biasanya mereka bisa menguasai "DANYANGAN*)" itu?
> 4. apakah ayat dalam UUD tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk merebut 
> kembali ? jika tidak bisa, air manakah yang dimaksud dalam UUD itu?
> 5. apakah penggunaan air sumur dalam dibenarkan? jika tidak dari mana 
> mestinya mereka memperoleh layanan air?
>
> Terima kasih .. silahkan dilanjutkan diskusinya ...
> wa'alaikum salam warahmatullah
>
>
> *) DANYANGAN = sumber air yang biasanya ada pohon beringin dan dipercaya 
> dihuni oleh jin-jin dan syaitan2.
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Sunday, March 22, 2009 10:16:16 PM
> Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas
>
> he..he.. kan ada tuh joke dari Nabi, ceritanya nenek-nenek sedih gak
> bisa masuk surga lantaran di situ isinya bidadari doang... dan saya
> duga tentu bukan tipe nenek sihir atau si siti sirik yg kemana-mana
> pake sapu lidi... :)
>
> Bikin ngiler yo pasti, cuman kalo dah sampe taraf eneg, mblenger,
> lama-lama yo ketemu boring juga lah... hi..hi.. Apalagi kalo lihat
> foto mobil limo nya bill gates... wuihhh puanjang benerrr. Biar saya
> dikasih gratis gak bakal mau trima lah. Selain doski memang gak mau
> ngasih, saya juga gak kuat bayar pajaknya.... :):)
>
> :)
> salam hangat
>
> 2009/3/22 Fahru <[email protected]>:
>> Kalo para nenek baca ini tersungging gak ya? Pdhal mereka juga yg bikin 
>> setiap org yg ada ini ada .. ;-)
>>
>> org2 pintar sblmnya tdk pernah mengkiaskan (kehidupan) dunia ini lbh dari 
>> suatu hal yg membuat anjing selalu menjulurkan lidahnya.
>>
>>
>> Salam,
>> fahru
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
>> Sent: 22 March 2009 11:40
>> To: [email protected]
>> Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas
>>
>> He.. he.. he... sampeyan dah ngerasain kan ternyata dunia ini bagaikan
>> nenek-nenek peot, dan bukan bidadari cantik yg turun dari sorga. Tapi
>> yo tetep aja kudu mau dipeluk sama tuh nenek-nenek meskipun bau
>> apeksss.... jadi tutup mata, tutup hidung aja... :) :)
>>
>> :)
>> salam hangat
>>
>> 2009/3/22 Bango Samparan <[email protected]>:
>>>
>>> Untuk mas Gede, trims atas peringatannya. Yah, dalam konteks yang tak 
>>> sehebat para Nabi dan Shohabah, saya selalu mencoba menciptakan tantangan 
>>> seperti itu.
>>>
>>> Untuk mas Mawan, hadist tersebut dalam konteks modern menyebut apa yang 
>>> dinamakan barang publik. Untuk barang publik memang memiliki kaidah-kaidah 
>>> khusus dalam mendayagunakan.
>>>
>>> Yang saya bingungkan sebetulnya bukan pada level normatif dan akademiknya 
>>> mas. Tapi gimana barang publik saat ini bisa dikembalikan menjadi milik 
>>> publik lagi.
>>>
>>> Tentang HT mas, kadang saya punya catatan untuk kadernya (tentu saja yang 
>>> saya kenal). Karena kader HT, si fulan temanku kalau mengkritik negara ini 
>>> abis-abisan deh. Eee ... tetapi giliran butuh dana penelitian, si kader 
>>> mintanya ke dikti juga:-)
>>>
>>> Saya pernah peringatan si fulan ini, mas ciri pokok khilafah dan khalifah 
>>> adalah "mengambil secara haq, dan meletakkan secara haq pula". Jadi, kalau 
>>> negera ini keadaannya seperti yang panjenengan kritikkan, pastilah negara 
>>> ini telah "mengambil secara tidak haq dan meletakkan secara tidak haq 
>>> pula." Nah, kalau begitu bagaimana panjenengan tega minta dana penelitian 
>>> ke pemerintah? Jangan-jangan itu sesuatu yang tidak haq.
>>>
>>> Salam hangat
>>> B. Samparan
>>>
>>>
>>> --- On Sun, 3/22/09, Mawan Sugiyanto <[email protected]> wrote:
>>>
>>>> From: Mawan Sugiyanto <[email protected]>
>>>> Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas
>>>> To: [email protected]
>>>> Date: Sunday, March 22, 2009, 6:39 AM
>>>>
>>>>
>>>> Heheheheehh.... ya begitulah dari contoh Utsman dan Contoh
>>>> penerimaan hadiah tadi mensyiratkan kalau orang-orang yang
>>>> betul2 tahu bagaimana cara mendapatkan harta (pi
>>
>>
>> [The entire original message is not included]
>> _______________________________________________
>> Is-lam mailing list
>> [email protected]
>> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
>
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke