Heheheheehh.... ya begitulah dari contoh Utsman dan Contoh penerimaan hadiah 
tadi mensyiratkan kalau orang-orang yang betul2 tahu bagaimana cara mendapatkan 
harta (pinter lahir batinnya) ya akan gak berarti apa2 itu hadiah dan harta. 
Karena saya yakin Utsman meniti karir dari bawah hingga punya harta sebanyak 
itu. Jadi ketika tahu cara mendapatkan harta itu, ya tahu juga cara 
meningkatkan added valuenya lagi. Lah ngapain hartanya ditumpuk sementara gak 
ada added value yang ditambahkan. 

kedua, kalau  pun toh si harta abis di jalan Allah, ya gpp wong sing Utsman 
tahu bagaimana cara mendapatkannya lagi. Jadi ya kalau aku pikir ya apa 
susahnya. Kalau koruptor kan kurang begitu paham bagaimana cara mendapatkan 
uang 500juta yang tiba-tiba nyelib ke dalam saku, dalam laci. Anehnya si korup 
ini juga mengannggap 500 juta yang nyelib ini kemudian didoain pakai dzikir 
1000 kali dan menganggp itu rejeki. 

masalah ekonomi ada katanya hadist rosulullah :

..... Sesuai
dengan hadits Rasulullah: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara
: padang rumput, air dan api” artinya bahwa padang rumput termasuk
hutan adalah milik umat tidak boleh dimiliki oleh swasta, begitu pun
air dan juga api yang mencakup barang tambang migas dan listrik tidak
boleh dijual kepada swasta apalagi asing. 
.................

versinya HT mas


--- On Sat, 3/21/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas
To: [email protected]
Date: Saturday, March 21, 2009, 11:23 PM

Mas Bango, mudah-mudahan sampeyan bener-bener Haqul yaqin terhadap
kisah Rasulullah dan para sahabat itu. Dan kalo dipikir-pikir lagi
diri kita ini sesekali butuh self-chalenge utk membuktikan diri ini
apakah tergolong kategori: yaqin taklid buta, ilmul yaqin, ainul yaqin
ataukah haqul yaqin terhadap ajaran-ajaran beliau. Ya betul... mungkin
memang kudu seperti ini utk membongkar hijab-hijab diri ini. Coba aja
test andai suatu saat sampeyan ada uang cukup banyak didompet (uang
pribadi ya dan saat itu sampeyan juga sangat membutuhkan uang itu
pula) dan kemudian tiba-tiba dijalan ketemu seorang fakir tak dikenal
yg menurut sampeyan sangat memerlukan bantuan; bisa tidak tanpa
ba-bi-bu, tanpa berhitung apapun, langsung memberikan seluruh isi
dompet gak pake hitung-hitungan lagi. Coba deh, kira-kira apa nanti yg
muncul dikepala dan apa yg muncul dihati... perseteruan ataukah
penyatuan? trus kira-kira rasa apa yg muncul di dada ? Dan ketika
ternyata dibelakang hari sampeyan baru tahu bahwa si fakir tsb
ternyata hanya berpura-pura saja sebagai si fakir, pikiran dan
perasaan apa lagi yg secara spontan muncul?

Anggaplah ini mungkin baru contoh kerikil kecil perjalanan si salik...
Ayo coba aja sampeyan bikin sendiri model tantangan yang cocok dan
memang menantang... :) :)

Kebetulan dulu pernah melakukan beberapa kali self-chalenge, dan bisa
dikatakan rasanya seperti blank, gak ada rasa apa-apa, plong - lolos
gitu aja, tak ada bekas yg berarti. Dalam kondisi top performance,
company sehat, tiba-tiba dari "dalem" ada sinyal utk melepaskan
semuanya.... ya sudah apa boleh buat. Ternyata session-session
berikutnya ya normal-normal aja tuh jalannya dagelan hidup ini.

Dari pengalaman2 itu baru saya ngeh, oh rupanya yang namanya dalil itu
baru bisa disebut sebagai dalil hanya jika diri ini sudah mengalaminya
langsung. Jika masih belum mengalaminya itu ya sebatas pituturan Gusti
Allah saja. Dan ketika pituturan itu sudah tertransformasikan lewat
pengalaman langsung itulah baru bisa disebut sebagai men-dalil. Diri
kita inilah yg dijadikan kitab yg hidup, tempat oret-oretan pena-NYA.
Rupanya Qur'an itu tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan tulisannya
saja, tapi diri harus merasakan langsung (bukan pura-pura merasakan)
agar tulisan2 itu bisa keluar bunyinya. Jika sudah demikian ternyata
yang namanya rasa syukur, sabar, dan ikhlas itu adalah bagaikan kado
hadiah. Blas gak ada rasanya, hambar, blank.... :)

:)
salam hangat.

2009/3/21 Bango Samparan <[email protected]>:
>
> Rasulullah tak pernah menyimpan harta lebih tiga hari, lha kita, suka sekali 
> menyimpan puluhan tahun, kalau perlu sampai tujuh turunan:-) Oleh karena itu, 
> kita selalu mencari-mencari benda yang stabil untuk menjagai nilai simpanan 
> kita. Padahal, Allah tidak hanya menjagai kestabilan nilai simpanan kita, 
> bahkan melipatkan nilainya menjadi 700 kali.
>
> Ketika Madinah langka barang, kafilah dagang Ustman datang. Para pedagang 
> sudah siap membeli dengan harga berlipat. Tetapi Ustman menyatakan, harga 
> kalian masih terlalu rendah dari satu pedagang, yakni Allah yang akan memberi 
> harga padaku 700 kali lipat, jadi aku jual barangku kepada Allah. Maka, 
> Ustman membagikan barang dagangannya secara gratis kepada penduduk Madinah. 
> Sebuah perdagangan yang sangat menguntungkan Ustman, dalam pandangan 
> transendental Islam.
>
> Begitu yang saya ingat.
>
> Salam hangat
> B. Samparan
>
>
>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke