Untuk mas Gede, trims atas peringatannya. Yah, dalam konteks yang tak sehebat para Nabi dan Shohabah, saya selalu mencoba menciptakan tantangan seperti itu.
Untuk mas Mawan, hadist tersebut dalam konteks modern menyebut apa yang dinamakan barang publik. Untuk barang publik memang memiliki kaidah-kaidah khusus dalam mendayagunakan. Yang saya bingungkan sebetulnya bukan pada level normatif dan akademiknya mas. Tapi gimana barang publik saat ini bisa dikembalikan menjadi milik publik lagi. Tentang HT mas, kadang saya punya catatan untuk kadernya (tentu saja yang saya kenal). Karena kader HT, si fulan temanku kalau mengkritik negara ini abis-abisan deh. Eee ... tetapi giliran butuh dana penelitian, si kader mintanya ke dikti juga:-) Saya pernah peringatan si fulan ini, mas ciri pokok khilafah dan khalifah adalah "mengambil secara haq, dan meletakkan secara haq pula". Jadi, kalau negera ini keadaannya seperti yang panjenengan kritikkan, pastilah negara ini telah "mengambil secara tidak haq dan meletakkan secara tidak haq pula." Nah, kalau begitu bagaimana panjenengan tega minta dana penelitian ke pemerintah? Jangan-jangan itu sesuatu yang tidak haq. Salam hangat B. Samparan --- On Sun, 3/22/09, Mawan Sugiyanto <[email protected]> wrote: > From: Mawan Sugiyanto <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak Jelas > To: [email protected] > Date: Sunday, March 22, 2009, 6:39 AM > > > Heheheheehh.... ya begitulah dari contoh Utsman dan Contoh > penerimaan hadiah tadi mensyiratkan kalau orang-orang yang > betul2 tahu bagaimana cara mendapatkan harta (pinter lahir > batinnya) ya akan gak berarti apa2 itu hadiah dan harta. > Karena saya yakin Utsman meniti karir dari bawah hingga > punya harta sebanyak itu. Jadi ketika tahu cara mendapatkan > harta itu, ya tahu juga cara meningkatkan added valuenya > lagi. Lah ngapain hartanya ditumpuk sementara gak ada added > value yang ditambahkan. > > kedua, kalau pun toh si harta abis di jalan Allah, ya > gpp wong sing Utsman tahu bagaimana cara mendapatkannya > lagi. Jadi ya kalau aku pikir ya apa susahnya. Kalau > koruptor kan kurang begitu paham bagaimana cara mendapatkan > uang 500juta yang tiba-tiba nyelib ke dalam saku, dalam > laci. Anehnya si korup ini juga mengannggap 500 juta yang > nyelib ini kemudian didoain pakai dzikir 1000 kali dan > menganggp itu rejeki. > > masalah ekonomi ada katanya hadist > rosulullah : > > ..... Sesuai > dengan hadits Rasulullah: “Kaum muslimin berserikat dalam > tiga perkara > : padang rumput, air dan api” artinya bahwa padang rumput > termasuk > hutan adalah milik umat tidak boleh dimiliki oleh swasta, > begitu pun > air dan juga api yang mencakup barang tambang migas dan > listrik tidak > boleh dijual kepada swasta apalagi asing. > ................. > > versinya HT mas > > > --- On Sat, 3/21/09, Dewa Gede Permana > <[email protected]> wrote: > > From: Dewa Gede Permana <[email protected]> > Subject: Re: [is-lam] Visi Ekonomi Parpol Islam Tidak > Jelas > To: [email protected] > Date: Saturday, March 21, 2009, 11:23 PM > > Mas Bango, mudah-mudahan sampeyan > bener-bener Haqul yaqin terhadap > kisah Rasulullah dan para sahabat itu. Dan kalo > dipikir-pikir lagi > diri kita ini sesekali butuh self-chalenge utk membuktikan > diri ini > apakah tergolong kategori: yaqin taklid buta, ilmul yaqin, > ainul yaqin > ataukah haqul yaqin terhadap ajaran-ajaran beliau. Ya > betul... mungkin > memang kudu seperti ini utk membongkar hijab-hijab diri > ini. Coba > aja > test andai suatu saat sampeyan ada uang cukup banyak > didompet (uang > pribadi ya dan saat itu sampeyan juga sangat membutuhkan > uang itu > pula) dan kemudian tiba-tiba dijalan ketemu seorang fakir > tak dikenal > yg menurut sampeyan sangat memerlukan bantuan; bisa tidak > tanpa > ba-bi-bu, tanpa berhitung apapun, langsung memberikan > seluruh isi > dompet gak pake hitung-hitungan lagi. Coba deh, kira-kira > apa nanti yg > muncul dikepala dan apa yg muncul dihati... perseteruan > ataukah > penyatuan? trus kira-kira rasa apa yg muncul di dada ? Dan > ketika > ternyata dibelakang hari sampeyan baru tahu bahwa si fakir > tsb > ternyata hanya berpura-pura saja sebagai si fakir, pikiran > dan > perasaan apa lagi yg secara spontan muncul? > > Anggaplah ini mungkin baru contoh kerikil kecil perjalanan > si salik... > Ayo coba aja sampeyan bikin sendiri model tantangan yang > cocok dan > memang menantang... :) :) > > Kebetulan dulu pernah melakukan beberapa > kali self-chalenge, dan bisa > dikatakan rasanya seperti blank, gak ada rasa apa-apa, > plong - lolos > gitu aja, tak ada bekas yg berarti. Dalam kondisi top > performance, > company sehat, tiba-tiba dari "dalem" ada sinyal > utk melepaskan > semuanya.... ya sudah apa boleh buat. Ternyata > session-session > berikutnya ya normal-normal aja tuh jalannya dagelan hidup > ini. > > Dari pengalaman2 itu baru saya ngeh, oh rupanya yang > namanya dalil itu > baru bisa disebut sebagai dalil hanya jika diri ini sudah > mengalaminya > langsung. Jika masih belum mengalaminya itu ya sebatas > pituturan Gusti > Allah saja. Dan ketika pituturan itu sudah > tertransformasikan lewat > pengalaman langsung itulah baru bisa disebut sebagai > men-dalil. Diri > kita inilah yg dijadikan kitab yg hidup, tempat oret-oretan > pena-NYA. > Rupanya Qur'an itu tidak cukup hanya dibaca dan > dihafalkan tulisannya > saja, tapi diri harus merasakan langsung (bukan pura-pura > merasakan) > agar > tulisan2 itu bisa keluar bunyinya. Jika sudah demikian > ternyata > yang namanya rasa syukur, sabar, dan ikhlas itu adalah > bagaikan kado > hadiah. Blas gak ada rasanya, hambar, blank.... :) > > :) > salam hangat. > > 2009/3/21 Bango Samparan <[email protected]>: > > > > Rasulullah tak pernah menyimpan harta lebih tiga hari, > lha kita, suka sekali menyimpan puluhan tahun, kalau perlu > sampai tujuh turunan:-) Oleh karena itu, kita selalu > mencari-mencari benda yang stabil untuk menjagai nilai > simpanan kita. Padahal, Allah tidak hanya menjagai > kestabilan nilai simpanan kita, bahkan melipatkan nilainya > menjadi 700 kali. > > > > Ketika Madinah langka barang, kafilah dagang Ustman > datang. Para pedagang sudah siap membeli dengan harga > berlipat. Tetapi Ustman menyatakan, harga kalian masih > terlalu rendah dari satu pedagang, yakni Allah yang akan > memberi harga padaku 700 kali lipat, jadi aku jual > barangku kepada Allah. Maka, Ustman membagikan barang > dagangannya secara gratis kepada penduduk Madinah. Sebuah > perdagangan yang sangat menguntungkan Ustman, dalam > pandangan transendental Islam. > > > > Begitu yang saya ingat. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > > > _______________________________________________ > > Is-lam mailing list > > [email protected] > > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > > > > -----Inline Attachment Follows----- > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
