Sorry mas menggurui dikit nih. Maklum guru.
Kemiskinan tuh ada dua, kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.
Kemiskinan absolut diukur pakai garis kemiskinan, yang buat biasanya BPS. Nah 
mereka yang sudah di atas garis kemiskinan, dibilang sudah tidak miskin. Dua 
pertanyaan biasanya muncul.
- kriteria garis kemiskinannya logis tidak menggambarkan kebutuhan pokok 
minimum zaman sekarang (sebagai gambaran coba lihat berapa sih UMR di berbagai 
wilayah Indonesia, bisa mbayangi enggak kalau kita harus hidup dengan UMR 
saja?)- kalau dianggap sudah tidak miskin, seberapa jauh sebenarnya mereka 
telah berada di atas garis kemiskinan. Konon mah, masih banyak sekali lho yang 
naiknya baru ke level "hampir miskin", alias sudah di atas tapi masih 
dekat-dekat amat dengan garis kemiskinan.
Hi ... hi, jadi ingat judul buku 'How to lie with statistics".
Lalu ada kemiskinan relatif, ini yang menjadi perhatian adalah soal distribusi 
pendapatan antar penduduk. Kalau soal ini, di Indonesia mah amburadul 
banget-lah, mas Nizami pasti punya data yang secara langsung atau tidak 
langsung menggambarkan tingkat amburadulitasnya:-)
Hi ... hi, tapi soal pendapatan juga bukan soal mudah ditelusur, oleh karena 
itu pendapatan sering diproxy pakai konsumsi, lalu konsumsinya agak 
diturun-turunkan menjadi konsumsi barang-barang pokok dan agak pokok, yang 
tentunya selisih konsumsi antar golongan menjadi lebih kecil. Akhirnya indeks 
distribusi pendapatan - indeks gini, indeks oshima, dll - juga jadi baik-baik 
saja, tapi lalu cenderung stagnan.
Hi ... hi, saya sebagai guru selalu menyempatkan menyampaikan hal-hal seperti 
itu ke mahasiswa saya. Tapi banyak rekan lain yang sudah tidak sempat lagi lho.
Kalau ilmu saya itu malah dipakai mahasiswa saya untuk membodohi masyarakat 
(korupsi), saya mau disalahkan, ya saya terima juga sih. Saya juga sering 
merenung-renung kok, pas saya nanti dimintai pertanggungjawaban di akhirat, 
kilah saya diterima enggak ya? Doakan diterima ya para bro, biar saya tidak 
dibakar di api Neraka. "Ya Allah tak cukup amalku untuk membeli sorga, tapi tak 
kuat juga aku dibakar api nerakamu. Jadi, ampunilah aku, ridhoilah aku untuk 
masuk ke jannahMu."
Tapi antara guru dan pemilih yo jelas lain tho. Kalau guru memang belum tahu 
muridnya nanti jadi koruptor apa enggak. Pemilih, seringkali sudah tahu, tapi 
enggak mau tahu. Eee...tapi ada juga yang memang nggak tahu lho, ya itu tadi, 
mungkin karena terilusi.
Eee ... ini buka psy war lho, mungkin hanya semacam cerita XIII The Conspiracy, 
seru dan lumayan ceritanya.
Salam hangat
B. Samparan




      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke