Pak guru, anakku nanya kenapa itungan UMR kog didasarkan pola kebutuhan konsumsi pangan.. kenapa bukan berdasarkan kemampuan saving per taon gitu lho.... aku kan sukanya beli mainan....! :))
:) salam hangat 2009/7/16 Bango Samparan <[email protected]>: > Sorry mas menggurui dikit nih. Maklum guru. > Kemiskinan tuh ada dua, kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. > Kemiskinan absolut diukur pakai garis kemiskinan, yang buat biasanya BPS. > Nah mereka yang sudah di atas garis kemiskinan, dibilang sudah tidak miskin. > Dua pertanyaan biasanya muncul. > - kriteria garis kemiskinannya logis tidak menggambarkan kebutuhan pokok > minimum zaman sekarang (sebagai gambaran coba lihat berapa sih UMR di > berbagai wilayah Indonesia, bisa mbayangi enggak kalau kita harus hidup > dengan UMR saja?) > - kalau dianggap sudah tidak miskin, seberapa jauh sebenarnya mereka telah > berada di atas garis kemiskinan. Konon mah, masih banyak sekali lho yang > naiknya baru ke level "hampir miskin", alias sudah di atas tapi masih > dekat-dekat amat dengan garis kemiskinan. > Hi ... hi, jadi ingat judul buku 'How to lie with statistics". > Lalu ada kemiskinan relatif, ini yang menjadi perhatian adalah soal > distribusi pendapatan antar penduduk. Kalau soal ini, di Indonesia mah > amburadul banget-lah, mas Nizami pasti punya data yang secara langsung atau > tidak langsung menggambarkan tingkat amburadulitasnya:-) > Hi ... hi, tapi soal pendapatan juga bukan soal mudah ditelusur, oleh karena > itu pendapatan sering diproxy pakai konsumsi, lalu konsumsinya agak > diturun-turunkan menjadi konsumsi barang-barang pokok dan agak pokok, yang > tentunya selisih konsumsi antar golongan menjadi lebih kecil. Akhirnya > indeks distribusi pendapatan - indeks gini, indeks oshima, dll - juga jadi > baik-baik saja, tapi lalu cenderung stagnan. > Hi ... hi, saya sebagai guru selalu menyempatkan menyampaikan hal-hal > seperti itu ke mahasiswa saya. Tapi banyak rekan lain yang sudah tidak > sempat lagi lho. > Kalau ilmu saya itu malah dipakai mahasiswa saya untuk membodohi masyarakat > (korupsi), saya mau disalahkan, ya saya terima juga sih. Saya juga sering > merenung-renung kok, pas saya nanti dimintai pertanggungjawaban di akhirat, > kilah saya diterima enggak ya? Doakan diterima ya para bro, biar saya tidak > dibakar di api Neraka. "Ya Allah tak cukup amalku untuk membeli sorga, tapi > tak kuat juga aku dibakar api nerakamu. Jadi, ampunilah aku, ridhoilah aku > untuk masuk ke jannahMu." > Tapi antara guru dan pemilih yo jelas lain tho. Kalau guru memang belum tahu > muridnya nanti jadi koruptor apa enggak. Pemilih, seringkali sudah tahu, > tapi enggak mau tahu. Eee...tapi ada juga yang memang nggak tahu lho, ya itu > tadi, mungkin karena terilusi. > Eee ... ini buka psy war lho, mungkin hanya semacam cerita XIII The > Conspiracy, seru dan lumayan ceritanya. > Salam hangat > B. Samparan > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
