Kang "Guru" yang budiman, piye kalau kemiskinan itu ditinjau dari sudut
pandang Islam yang dikaitkan dengan kewajiban zakat.

Ukuran miskin disana nampaknya akan lebih pas bila disbanding dengan UMR
yang dijadikan tolok ukur.

Karena bukankah dalam Islam orang miskin belum wajib berzakat.? 

Nah sedangkan untuk berzakat ada nisob/takaran kepemilikan harta, bila belum
cukup nisobnya bukankah dia belum wajib zakat alias masih miskin.? 

Cuma sayangnya, manakala ada yang berbau-bau syariat pejabat kita sering
alergi untuk menggunakannya.

Nah disini diperlukan kontribusi para petinggi/politisi yang konsen dengan
Islam dan umatnya secara umum.

Kalau saja nisob yang dijadikan parameter kemiskinan, lha...masih berapa
banyak lagi rakyat ini yang terkategori miskin, dan data BPS gak ada
artinya.

 

Wassalam

Hmm 

 

 

  _____  

From: Bango Samparan [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, July 16, 2009 8:21 PM
To: [email protected]
Subject: [***SPAM*** Score/Req: 08.70/05.00] Re: [Is-lam] Fw: Orang Miskin
Dilarang Sakit

 


Sorry mas menggurui dikit nih. Maklum guru.

 

Kemiskinan tuh ada dua, kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.

 

Kemiskinan absolut diukur pakai garis kemiskinan, yang buat biasanya BPS.
Nah mereka yang sudah di atas garis kemiskinan, dibilang sudah tidak miskin.
Dua pertanyaan biasanya muncul.

 

- kriteria garis kemiskinannya logis tidak menggambarkan kebutuhan pokok
minimum zaman sekarang (sebagai gambaran coba lihat berapa sih UMR di
berbagai wilayah Indonesia, bisa mbayangi enggak kalau kita harus hidup
dengan UMR saja?)

- kalau dianggap sudah tidak miskin, seberapa jauh sebenarnya mereka telah
berada di atas garis kemiskinan. Konon mah, masih banyak sekali lho yang
naiknya baru ke level "hampir miskin", alias sudah di atas tapi masih
dekat-dekat amat dengan garis kemiskinan.

 

Hi ... hi, jadi ingat judul buku 'How to lie with statistics".

 

Lalu ada kemiskinan relatif, ini yang menjadi perhatian adalah soal
distribusi pendapatan antar penduduk. Kalau soal ini, di Indonesia mah
amburadul banget-lah, mas Nizami pasti punya data yang secara langsung atau
tidak langsung menggambarkan tingkat amburadulitasnya:-)

 

Hi ... hi, tapi soal pendapatan juga bukan soal mudah ditelusur, oleh karena
itu pendapatan sering diproxy pakai konsumsi, lalu konsumsinya agak
diturun-turunkan menjadi konsumsi barang-barang pokok dan agak pokok, yang
tentunya selisih konsumsi antar golongan menjadi lebih kecil. Akhirnya
indeks distribusi pendapatan - indeks gini, indeks oshima, dll - juga jadi
baik-baik saja, tapi lalu cenderung stagnan.

 

Hi ... hi, saya sebagai guru selalu menyempatkan menyampaikan hal-hal
seperti itu ke mahasiswa saya. Tapi banyak rekan lain yang sudah tidak
sempat lagi lho.

 

Kalau ilmu saya itu malah dipakai mahasiswa saya untuk membodohi masyarakat
(korupsi), saya mau disalahkan, ya saya terima juga sih. Saya juga sering
merenung-renung kok, pas saya nanti dimintai pertanggungjawaban di akhirat,
kilah saya diterima enggak ya? Doakan diterima ya para bro, biar saya tidak
dibakar di api Neraka. "Ya Allah tak cukup amalku untuk membeli sorga, tapi
tak kuat juga aku dibakar api nerakamu. Jadi, ampunilah aku, ridhoilah aku
untuk masuk ke jannahMu."

 

Tapi antara guru dan pemilih yo jelas lain tho. Kalau guru memang belum tahu
muridnya nanti jadi koruptor apa enggak. Pemilih, seringkali sudah tahu,
tapi enggak mau tahu. Eee...tapi ada juga yang memang nggak tahu lho, ya itu
tadi, mungkin karena terilusi.

 

Eee ... ini buka psy war lho, mungkin hanya semacam cerita XIII The
Conspiracy, seru dan lumayan ceritanya.

 

Salam hangat

B. Samparan

 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke