sakaterang, agama hindu teh ti luar, dingaranan hindu kusabab asalna ti daerah Hindustan India. janten, pami kasimpulanna yen budaya oge agama di bali teu aya pengaruh luar, kuring mah asa kirang yakin. komo ayeuna, dalah baheula ge apanan nu namina jalmi mah saling mempengaruhi-dipengaruhi. punten pami lepat
nuhun --> JeBe <-- ________________________________ From: Roza R. Mintaredja <[email protected]> To: [email protected] Sent: Mon, May 9, 2011 5:43:58 PM Subject: Re: [kisunda] Tatali Paranti Karuhun...Kesimpulan jadi kaharti pisan, lamun ningali komunitas bali bisa ngageunjleungkeun dunya. budayanasapaket utuh, hanteu di asupan budaya luar. ti mimiti religi jeung upacara ritualna, tatanan kamasyarakatana,, elmu pangaweruhna, teknologina, kasenianana jeung basa panganteurna gumulung dipake tanpa reserve! ceuk saha bali hanteu mupusti ka Eyang Prabu siliwangi? tuh tingali pura hyang jagatkarta dikaki gunung salak, diwangun keur mupusti EPS, hiji bukti ngajadi hanteu loba wacana jeung carita, beak biayana salapan milyar! aya us anu bisa mupusti ka karuhunna nepi ka sakitu dariana? bali teh sunda anu pangbungsuna, teu mopohokeun karuhunna. urg bali mah, tara ribut2 mun jarah ka tatar parahyang teh hn*R3M ang mengontrol dan memberikan petunjuk kepada mereka; mitologi adalah ceritera-ceritera yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Pajajaran tempat asal nenek moyang mereka di samping kisah tentang Dewi Sri yang sangat mereka hormati sebagai dewi padi atau dewi yang memberikan mereka kesejahteraan; tradisi adalah berbagai praktik sosial yang mereka jalankan apa adanya secara turun temurun berkaitan dengan kepercayaan dan mitologi tersebut. >(2) Bertumpu pada kepercayaan, mitologi dan tradisi itu pimpinan adat Gunung >Halimun melakukan invensi tradisi dalam berbagai praktik sosial untuk mencapai >tujuan-tujuan tertentu termasuk menanggapi berbagai perubahan yang terjadi di >luar masyarakatnya. >(3) Invensi tradisi berupa sosial yang berlangsung berulang sebagai even >rutin >setiap bulan atau setiap tahun, diterima secara wajar oleh masyarakat Gunung >Halimun. Hal itu disebabkan karena praktik-praktik sosial tersebut meskipun >merupakan sesuatu yang baru yang memang diciptakan oleh kepemimpinan lokal, >namun dikemas dalam bingkai tradisi atau menggunakan simbol-simbol tradisi >yang >telah ada. Oleh karena telah diterima secara wajar dan terus berlangsung >secara >berulang-ulang, maka dengan sendirinya praktik-praktik sosial itu telah >menjadi >adat-istiadat atau tatali paranti karuhun yang telah disesuaikan dengan >perkembangan jaman. >(4) Tatali paranti karuhunyang eksis sebagai efek dari invensi tradisi itu >memberikan landasan kepada kelompok elit Kasepuhan Gunung Halimun yang >dipimpin >Abah anom dalam memperoleh legitimasi adat adat secara berkesinambungan untuk >memimpin masyarakatnya dan mengakses sumber daya alam yang diklaim sebagai >milik >adat dan mengakses sumber daya sosial yang berkaitan dengankasepuhan. >(5) Kesempatan mengakses berbagai sumber daya yang ada itu menjadikan >lembaga >kasepuhan mempunyai kemampuan secara sosial maupun ekonomi untuk melakukan >invensi tradisi secara berulang-ulang membentuk tradisi baru dan akhirnya >diakui >sebagai sesuatu yang dipatuhi atau diikuti oleh warga masyarakatnya. Tradisi >yang terus diikuti dan dipatuhi itu adalah adat istiadat yang masih hidup >dalam >masyarakat Gunung Halimun yang juga disebut tatali paranti karuhun. >(6) Selama invensi tradisi berjalan terus, selama itu pula kebudayaan >masyarakat setempat dalam arti luas akan tetap eksis dan selama itu pula >kepemimpinan adat dengan segala macam hak atau kewenangan akan terus langgeng >atau bertahan. >Mengacu pada konsep invention of tradition dari Hobsbawm (1992: 1), maka >invensi >tradisi di Kasepuhan Gunung Halimun berdasarkan uraian di atas merupakan >praktik-praktik yang berlangsung wajar, sesuai dengan aturan-aturan atau >norma-norma yang berlaku umum, melalui pembentukan dan penanaman nilai-nilai, >norma-norma dalam perilaku tertentu yang berlangsung melalui >pengulangan-pengulangan yang berhubungan dengan sejarah masa lalu, yaitu >sejarah >asal usul karuhun mereka. Proses invensi tradisi yang terjadi di kawasan itu >merupakan proses formalisasi dan ritualisasi yang karakteristiknya merujuk >pada >masa lalu yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkembang luas, >karakteristik invensi tradisi tersebut telah dikemukakan Hobsbawm(1992: 1). >Invensi tradisi yang masih berlangsung di kawasan itu juga merespon situasi >yang >baru meskipun dibawa dari referensi situasi lama melalui proses >pengulangan-pengulangan tersebut. Invensi tradisi itu dibentuk atau >dikonstruksi >oleh inisiator baik perorangan maupun kelompok sesuai dengan tujuan-tujuan >tertentu, seperti yang dilakukan atau dipelopori oleh kelompok elit-elit >tertentu di Eropa (Hobbawm, 1992: 4). >Tujuan-tujuan invensi tradisi seperti yang dikemukakan para ahli itu >sepenuhnya >tercapai pada proses invensi tradisi yang dipelopori Abah Anom dan elit-elit >lokal di sekelilingnya yang menjadi inisiator, akan tetapi apa yang terjadi di >Gunung Halimun itu berefek melebihi dari tujuan invensi tradisi yang >dikemukakan >para ahli tersebut. Invensi tradisi di Gunung Halimun selain bertujuan atau >berefek seperti tersebut di atas, juga menghasilkan adat istiadat atau tatali >paranti karuhun yang berbeda dengan yang sebelumnya namun tetap diacu, ditiru >dan dilaksanakan oleh warga masyarakatnya sebagai sutau tradisi yang dianggap >sesuai dengan keadaan masa kini. Berdasarkan tatali paranti karuhun yang telah >mengalami proses invensi tradisi itulah Abah Anom dan elit-elit lokal >sekelilingnya tetap memiliki legitimasi untuk berkuasa dan memiliki kewenangan >untuk mengakses sumber daya yang ada (Ribot, 2003: 156). Kewenangan dan >kemampuan mengakses sumber daya itulah yang menyebabkan mereka secara >berkesinambungan dapat melakukan invensi tradisi dan mempertahankan legitimasi >adat secara terus menerus. >Dengan demikian maka tujuan lain dari invensi tradisi yang digerakkan >elit-elit >lokal di Gunung Halimun adalah (1)terbentuknya tradisi leluhur atau tatali >paranti karuhun yang dapat disesuaikan dengan perkembangan jaman; (2) >terpeliharanya legitimasi adat kepada elit-elit lokal itu untuk mengakses >sumber >daya yang ada; (3) tetap eksisnya ‘kekuasaan’ elit-elit lokal pada komunitas >tersebut secara terus menerus. Berdasarkan hal-hal tersebut, invensi tradisi >di >Gunung Halimun sengaja digerakkan oleh elit-elit setempat untuk mempertahankan >kelanggerangan kekuasaan seca sah berdasarkan adat hingga dapat terus >mengakses >berbagai sumber daya yang ada untuk kepentingan tertentu. Tujuan invensi >tradisi >seperti ini tidak nampak dalam pada kajian-kajian mengenai invensi tradisi >seperti yang dikemukakan para ahli tersebut di atas. >
