At 19:39 02/06/99 EDT, [EMAIL PROTECTED]
 wrote:

>Daniel:
>Nuniek Haryani ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan dewa Anda, 
>Megawati yang diam seribu bahasa. Jujur saja lah. Nuniek berani tampil,
walau 
>grogi, dengan apa adanya. Bukankah itu lebih baik dibandingkan  diam,
lamban, 
>menggemukkan badan?  
>salam,
>RAP
>

Lebih baik diam daripada bicara tetapi bicaranya asbun seperti dewa Anda
Nuniek. Seperti yang saya katakan yang ditanya A jawabnya B. Sampai
berkali-kali moderator terpaksa memotong untuk membantunya mengarah ke
jawaban yang sesuai dengan pertanyaan penanya. Ini 'kan namanya
mempermalukan partai sendiri?

Seperti yang dikatakan Kwik untung Mega tidak menghadiri debat presiden
tempo hari di UI itu, yang ternyata isinya hanya debat soal rokok,
kemacetan jalan, kemampuan bahasa Inggris, dll. Saya tambahkan lagi dengan
juga mempersoalkan siapa yang emosional lebih dulu. Amien bilang Yusril
yang emosional, Yusril sebaliknya. Pokoknya pada intinya isi debat itu
lebih sebagai saling berdebat antar pribadi masing-masing dengan emosional.
Makanya saya dulu pernah tulis di milis ini: Ini berdebat atau bertengkar
sih? 

Kelihatannya kebencian Anda terhadap Mega sudah sampai ke ubun-ubun kepala
Anda. Dalam posting saya di milis ini yang saya bicarakan tentang
kepiawaian Kwik Kwan Gie, kok nama Mega dibawa-bawa? Kok Mega yang kena?
Payah nih namanya. Orang kalau sudah terlalu benci seperti ini biasanya
semua pandangannya tidak bisa obyektif lagi. Heran juga, kalau semua orang
yang respek pada PDI Perjuangan terus dicap mendewakan Mega. Mengkultus
Mega dan sebagainya.

Amien Rais juga tak luput dari massa yang mengelu-elukannya. Seorang
perempuan nekad menghadang bus yang ditumpangi oleh Amien, dengan nekad dia
menerobos sambil berteriak histeris untuk sekedar bisa bertemu dengan
Amien, sampai membuat satgas PAN kewalahan menahannya. Akhirnya dia dapat
juga menyentuh tangan Amien walaupun hanya dengan menempel tangannya dengan
tangan Amien di kaca mobil. Setelah berhasil. Dia berjingkrak-jingkrak
kegirangan. Nah, kalau reaksi orang seperti ini namanya apa?

Kita tidak bisa begitu gampang mengvonis setiap orang yang mempunyai sikap
respek pada seorang tokoh politik otomatis dengan mendewa-dewakan tokoh
tersebut. Anda tentu keberatan kalau saya mengatakan Anda memper-setan-kan
Mega, dan mengdewa-dewakankan Amien, bukan?

Untuk apa pula banyak omong tapi isinya nanti kosong? Seperti juga Kwik
bilang, berbicara tentang permasalahan negara ini, tidak cukup hanya bisa
lima atau tiga puluh menit. Pejabat2 Orba pun terkenal jago bicara, jago
memakai kalimat2 manis-manis, banyak kalimat2 heroiknya, tapi kenyataannya
kita sudah tahu sendiri.

Sekarang banyak tokoh politik yang amat sangat rajin menghujat tak
habis-habisnya Soeharto. kebejatan Soeharto dipakai sebagai komoditi
politik. Megawati yang tidak ikut-ikutan menghujat, kena kritik. Padahal
Megawati sudah bilang, sebagai Keluarga Bung Karno dia sudah merasakan
bagaimana kalau keluarganya juga dahulu pernah dihujat habis-habisan
sewaktu ayahnya itu jatuh dari kursi presiden. Sakit bukan main. Dan dia
tidak menghendaki untuk membalas dendam. Yang penting nanti diproses secara
hukum. Daripada seperti Habibie cs sekarang banyak bicaranya tapi isinya
kosong.

Padahal Megawati dan PDI-nya tempo tak habis-habisannya dijegal Soeharto.
Setelah didepak sebagai Ketua Umum dan diganti dengan boneka Soerjadi,
penyerbuan kantor PDI tanggal 27 Juli 1996, setiap kegiatan poltiknya
selalu dijegal. Beberapa kali hendak membuka kantor selalu disegel dengan
berbagai macam alasan.

O ya, saya lupa, subyek posting saya terdahulu, kan saya beri judul: Kok
"Menurut Saya"? Soal ini lupa saya singgung di posting lalu. Yang saya
maksudkan adalah ketika Nuniek ditanya apakah ada keterkaitannya antara PDR
dengan koperasi, dia menjawab: "Menurut saya ..." 
Lha, bagaimana bisa jawabannya "menurut saya," yang ditanya 'kan fakta
(apakah benar ada hubungan koperasi dng PDR) bukan pendapat Nuniek, atau
siapapun . Kalau memang tidak ada hubungan, jawabnya: "tidak" dengan
argumen yang masuk akal.

Ketika itu Nuniek mencoba mengelak, tetapi ketika dikatakan ada beberapa
bukti bahwa di beberapa daerah koperasi memperoleh kredit, tetapi mesti
dengan perantara PDR. Dia mengatakan itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.
Ini kan jawaban yang lucu. Mungkin saja sekarang tidak, karena ketahuan.
Coba kalau nggak ketahuan? 

Banyak orang yang (mungkin karena iri) mengatakan bahwa sedemikian
banyaknya massa yang tumpah-ruah di setiap kampanye PDI-P, itu hanya karena
massa ingin hura-hura. Lho, kalau sekedar ingin hura-hura, mengapa hanya
PDI-P yang mereka pilih? Padahal masih ada 47 parpol lainnya. PKB, PAN,
misalnya biasanya dibanjiri juga massa dalam konvoi di hari kampanye.
tetapi hanya PDI-P yang disambut antusias oleh banyak masyrakat yang
menonton di troatoar2 jalan, dan mulut-mulut gang. Soal jumlahnya pun
parpol yang lain kalah banyak dengan PDI-P. Seperti di putaran terakhir
kampanye hari ini. Konvoi seolah tak putus-putus dari pagi sampai sore.
Lebih jelas, tanyakan kepada rekan2 Anda yang ada di Surabaya dan Jakarta.
Ini fakta. Bukan soal mengdewa-dewakan PDI-P atau siapapun juga.

Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke