Ikutan diskusi ya, karena sudah terlanjur masuk.
> Bung Amin,
> Memang tidak ada persyaratan secara konstitusional, tapi kan yang
> diharapakan dari figur seorang Mega itu adalah : konsekuensinya terhadap
> reformasi, mana tanggung jawabnya terhadap pendidikan politik bangsa ini.
Tidak ada persyaratan konstitusional, begitu juga tidak ada persyaratan
berdasarkan 'pengharapan'. Bahwa pada hari itu mega tidak ikut debat, itu
bukan juga menandakan bahwa dia tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan
politik bangsa ini.
> Tarok -lah dia sibuk dengan urusan intern, bagaimana dengan tokoh-2x yang
> lain seperti Amin R, Yusril, Sri BP, Didin H, dsb. Apakah mereka itu
> bukanlah figur-2x yang sibuk. Sekali lagi kita harus menyadari apa yang
> dibutuhkan bangsa ini adalah kejujuran, kejujuran dan kejujuran. Kita
> harus menghilangkan citra selama ini bahwa politik itu adalah kotor.
> politik itu bukan lah dosa.
Nah, bisa jadi pikiran mega tentang pendidikan politik adalah dengan tidak
mengumbar-umbar sesuatu yang tidak jelas, yang ujung-ujungnya adalah 'asal
dan salah omong' seperti pejabat-pejabat badutan orba (dan ternyata kita
bisa lihat what's really going on waktu itu). Satu perkataan Soekarno yang
saya suka: Menilai diri saya jangan lewat apa yang saya omongkan saja,
tetapi juga dari ke-diam-an saya.
> Nah,
> Kalau saya nggak salah di negara sekelas Amerika/Inggris itupun bukan lah
> keharusan dari MPR -ny mereka. Tapi toh mereka secara sadar mau melakukan
> debat seperti itu.
Ya, saya setuju bahwa debat capres harus dibudayakan pada masa-masa
mendatang dan sebelumnya, para calon pemimpin negara ini harus belajar
menyampaikan sesuatu yang bermanfaat dan mendidik (apalagi dalam forum debat
capres) bangsa ini seperti yang dicontohkan calon pemimpin di
Amerika/Inggris itu.
> Di sini saya jadi curiga jangan-jangan Ibu Mega(maaf :PDIP) ini sebenarnya
> menganggap bahwa kemenangan adalah tujuan( dan bukannya wahana) untuk
> membentuk Indonesia Baru yang kita cita-citakan bersama.
Dalam hal tersebut saya justru makin yakin bahwa mega bukan tipe yang asal
ambil kesempatan menampilkan diri dan tidak asal ngomong yang
buntut-buntutnya makin membingungkan saja.
> Semoga tidak.
Nah, Anda bolehlah lega seperti saya karena ternyata mega belum menunjukkan
tanda-tanda 'asal partaiku menang'.
salam,
tedy the kion
> On Sat, 5 Jun 1999, Amin Riza wrote:
>
> > Bung Raja, pernahkah Anda pertimbangkan bahwa kemungkinan tidak
> hadirnya Mega dalam debat "Capres" itu karena tidak ada keharusan
> untuk itu?
> > Debat "Capres" boleh dipandang sebagai kesempatan atau
> fasilitas untuk mengaktualisasi diri, sehingga mungkin saja Mega
> memilih metoda lain untuk aktualisasi dirinya tanpa melalui debat
> "Capres".
> > Kalau itu diselenggarakan MPR dan merupakan persyaratan bagi
> para kandidat resmi Presiden, mungkin akan lain kejadiannya.
> >
> > Memang ada risiko untuk mengambil keputusan tidak populer bagi
> seorang yang job-list-nya padat.Nama risiko itu adalah : trade
> off. Atau :opportunity cost.
> >
> > Bisa saja kegiatan itu bagi Mega masuk kategori urgent but not
> important atau sebaliknya, sehingga dia memilih mengalokasikan
> energinya hanya untuk top priority :urgent and important.
> > Dengan risiko dianggap takut. Atau minimal kurang menghormati
> penyelenggara.
> >
> > --
> >
> > On Sat, 5 Jun 1999 15:48:45 Raja Komkom S. wrote:
> > >> Melihat cara Anda mengkritik capres Mega, yah begitulah
> gambaran kapasitas
> > >> politikus kita yang membuat PDIP bersyukur bahwa Mega nggak
> ikut debat
> > >> capres yang lalu karena isinya nggak bermutu seperti yang
> dikatakan Kwik,
> > >> koq debat capres isinya kritik merokok, kemampuan bahasa, dll.
> > >>
> > >> salam,
> > >> tedy the kion
> > >>
> >
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!