Bung Raja, pernahkah Anda pertimbangkan bahwa kemungkinan tidak hadirnya Mega dalam 
debat "Capres" itu karena tidak ada keharusan untuk itu?
Debat "Capres" boleh dipandang sebagai kesempatan atau fasilitas untuk mengaktualisasi 
diri, sehingga mungkin saja Mega memilih metoda lain untuk aktualisasi dirinya tanpa 
melalui debat "Capres".
Kalau itu diselenggarakan MPR dan merupakan persyaratan bagi para kandidat resmi 
Presiden, mungkin akan lain kejadiannya.

Memang ada risiko untuk mengambil keputusan tidak populer bagi seorang yang 
job-list-nya padat.Nama risiko itu adalah : trade off. Atau :opportunity cost.

Bisa saja kegiatan itu bagi Mega masuk kategori urgent but not important atau 
sebaliknya, sehingga dia memilih mengalokasikan energinya hanya untuk top priority 
:urgent and important.
Dengan risiko dianggap takut. Atau minimal kurang menghormati penyelenggara.
 
--

On Sat, 5 Jun 1999 15:48:45    Raja Komkom S. wrote:
>> Melihat cara Anda mengkritik capres Mega, yah begitulah gambaran kapasitas
>> politikus kita yang membuat PDIP bersyukur bahwa Mega nggak ikut debat
>> capres yang lalu karena isinya nggak bermutu seperti yang dikatakan Kwik,
>> koq debat capres isinya kritik merokok, kemampuan bahasa, dll.
>> 
>> salam,
>> tedy the kion
>> 
>Nah apakah Mega itu seorang yang super hebat kemampuannya sehingga bapak
>kita Kwik sampe menyatakan bahwa debat capres ini tidak bermutu, saya
>sebagai orang kampus hanya tahu bahwa mega itu telah menghianati
>perjuangan para mahasiswa, karena beliau menganggap bahwa debat itu tidak
>sesuai dengan budaya timur. Lagi pula kalau ibu Mega itu memang pintar
>kenapa beliau tak tunjukkan saya cara yang benar untuk berdebat, beliau
>contohkan cara berdebat yang berkualitas. 
>
>Apa parameter yang menunjukkan kualitas seorang ibu mega itu ?? Apakah
>massanya yang membludak waktu kampanye, apakah jeritas histeris massanya
>mendengar statement-2 nya waktu kampanye ???
>
>Any way, Bagaimanapun bodohnya para politikus kita,
>apakah kita akan selamanya menghindar dari mereka ??? Bukankah mereka
>harus diajar berdebat yang berkualitas. Apakah ibu mega, pak kwik, pak
>Dimyati H, dan sebagainya sudah merasa bahwa meraka sudah paling hebat,
>paling berkualitas, paling berbudaya ???? Sehingga mereka merasa bahwa
>mereka tidak perlu berdebat dengan orang-orang "BODOH" dan "TAK
>BERBUDAYA" macam Amin Rais, Yusril IM, Sri B.P, dll ????
>
>Hehehe...Ironis Sekali Cara berfikir bangsa kita. Kita telah menjajah
>diri kita sendiri.
>
>
>-=Raja Komkom Siregar =-
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke