Hebat, argumentasi anda sangat hebat, cuma aku mau tanya demokrasi yang
mempertontonkan keindahan itukah yang akan kita kembangkan ? Demokrasi yang
jelas-jelas ingin mengabaikan suara rakyat melalui pemilu dengan berlindung
dibalik aturan main, dan semua itu memang sah dan konstitusional. Suharto
pun bisa seperti itu karena sesuai aturan main, sah, dan konstitusional.
Argumentasi anda esensinya mirip dengan omongan Sarwono, saat mengomentari
kekalahan beruntun PDIP. Saat baca Tempo minggu ini yang diceritakan
bagaimana 'proses demokrasi' di MPR, aku jadi sadar bahwa rakyat sudah
terlupakan sama sekali. Yang dipentingkan bagaimana memperoleh kekuasaan
dengan cara yang indah, persetan dengan suara nurani, masa bodoh dengan
hasil pemilu.
PDIP dalam pesta lulusan Orba kemarin sungguh seperti orang kampung, lugu,
serba canggung dan kikuk, karena memang tidak pernah atau belum
berpengalaman meliuk-liuk dengan cara yang indah. Dan itu terungkap dengan
lugunya pada omongan Kwik 'kita dibohongi terus'. PDIP konsisten dengan
pilihannya. Konsistensi ini (kebodohan orang lain bilang) memang harus
dibayar mahal dengan kekalahan.Pendukungnya yang bingung dan merasa ada yang
tidak beres dengan aturan main yang konstitusional, ngamuk, dan lagi-lagi
mereka jadi barang cercaan karena berbuat haram menonjolkan otot dan
memamerkan kebolehan mengocor darah seperti anda bilang. Kekerasan ini
memang suatu kebodohan dan senjata makan tuan, harusnya kalau mereka
pinter, bikin sesuatu yang lebih mengena, boikot misalnya. Jangan heran bila
di kalangan rakyat bawah, mereka bilang orang-orang pinter itu cuma pinter
'minteri' (menipu). Dan model-model permainan seperti yang anda
argumentasikan itulah yang terjadi di negara-negara miskin dunia ketiga,
dengan pemain-pemainnya para kapitalis global.
Marto Blantik
solider sama PDIP tapi bukan pendukung PDIP
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Millis Kuli-Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 28, 1999 6:23 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap
>
> From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> >....menganggap bahwa kekuasaan itu adalah jatuhan dari langit..... "
> > Ya gagal.
> Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata
> tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
> setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
> Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
>
> ===============================================
> Saudaraku Yap yang saya hormati,
> Anda mungkin kurang konsentrasi. Ron Moreau di Newsweek yang saya
> kutip, bicara soal nihilnya "pola pikir" alias main ilmu batin. Saya kok
> menduga itu betul. Jadi yang namanya "yang dogmatis dan pakem standard"
> cuma ilmu mistis nunggu durian runtuh dari kahyangan. Di tahun 2000 ini,
> "pola pikir" seperti itu ya diketawai banyak orang. Hasilnya pasti Gatot.
> Gagal Total, seperti kenyataan yang membuat nangis banyak orang itu.
>
> Yang harus dikerjakan bukan menghalalkan segala cara. Apalagi berbuat
> haram menonjolkan otot dan memamerkan kebolehan mengocor darah.
> Anak SMA saya kira sudah mulai tahu . Simply, to negotiate. Berunding
> bersama. Aktif , bukan cuma menunggu diujung ruang kaya Siti Nurbaya
> menunggu digoda jejaka. Saya tidak percaya orang PDIP tidak tahu hal itu.
> Tapi PDIP tidak melakukan itu. Saya curiga kejadian yang dilihat banyak
> orang tersebut adalah "perintah" Mbak Mega. ( maaf banyak lho. sekarang
> sudah bukan waktunya untuk nyek2an ( ledek2an). Saya cuma berusaha
> berpikir rasionil saja, untuk keperluan diskusi).
>
> Kalah dan Jadi bulan-bulanan. Lebih sehat kalau anda berhenti pada kata
> 'kalah". Nanti dikira ngambeg lho ! Kalah total kan tidak, PDIP berhasil
> mendapat Wapres ( nilainya tujuh menteri) walaupun sedikit tidak indah
> ( baca laporan WAM soal kebangkrutan : with smile).
>
> Yap kemudian menulis :
> "..Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi PAN, PBB
> atau PK yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas jelas
> menjanjikan memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza .... Tidak satupun
> dari Partai-partai itu mencalonkan Gus Dur.... hanya PBB yang masih
> konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri ...menerima
> sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
> pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas keseriusan
> Gus Dur..daripada memenuhi janji kampanye. Apakah ini yang dimaksud
> modern, urut dan indah?......."
>
> Arti kata modern berhubungan dengan yang diatas. Mereka tidak meng-
> gunakan "ilmu batin" dan mistik. Mereka memakai beberapa perangkat
> seperti kemampuan negosiasi, mereka menggunakan setiap potensi organi-
> sasi, tidak terborgol kaku diam oleh pucuk pimpinan saja.
> Yang lain yang amat penting ,tidak menganggap figur presiden setingkat
> nabi , sehingga layak ngocor darah atawa revolusi. Ngotot, saya kira
> bukanlah hal modern.Bila ditingkat negosiasi tidak ada harapan, cari
> yang lain. Negeri ini menyimpan ratusan orang layak presiden bila kita
> sepakat pakai otak. Partai Keadilan yang banyak S2 & S3-nya , dengan
> humble mencalonkan seorang ustat kampung sederhana. Bukan seorang
> Bintang gemerlap. Mereka tahu betul pasti kalah. Tujuannya cuma
> pesan gampang , tapi tidak sederhana : Banyak orang layak Presiden di
> negeri ini.
>
> Ada lagi yang saya anggap modern. Yang penting bukan alat , tapi tujuan
> dan cara mencapai tujuan. Konsisten dengan calon memang tindakan heroik
> Tapi amat kekanak-kanakan. Itu adalah konsisten kepada alat. Dengan
> modern , partai2 yang anda sebut seperti PAN, PBB, dan PK mengganti
> calon, tapi tetap berusaha mendapat kepastian negeri ini dikelola sedekat
> mungkin dengan ideal mereka. Mereka dengan gigih berunding , kalau perlu
> meminta janji, meminta sumpah, dan mengukur visi calon lain yang bakal
> disetujuinya. Bukan dagang sapi seperti yang dipahami sebagian orang
> tradisionil. Itu namanya Negosiasi. Itulah demokrasi : tidak mesti
> mendapatkan semua yang dimaui.
>
> Kiprah PBB, Yusril dan Mardjono menurut saya adalah salah satu yang
> terindah dalam SU MPR. Langkah mereka setajam pisau silet. Sama sekali
> tidak memberikan ruang nakal pada lawan. Mereka mau Gus Dur tidak mau
> Mega. Mereka bukan lagi anak bangsa jaman dulu yang gampang dibodohi
> oleh Londo Eropa. Mereka berbuat hal yang halal dan cerdas. Bagi saya
> sekali lagi, amat mengagumkan. Seperti Kasparov!
>
> Keindahan dalam politik adalah kecerdasan kombinasi langkah halal untuk
> mencapai tujuan. Urut yang saya maksud adalah kefasihan dalam pengung-
> kapan. Transparan. Bukan cuma diam yang membingungkan dan mengun-
> dang teka-teki. Bisa dikatain bloon!. Urut bisa pula berarti sadar
tahapan.
> Umpamanya : setelah pemilu, ada sidang MPR. Setelah menang pemilu,
> mesti menang pula ditahap berikut. Kemudian selain presiden apa...
> Kalau ada partai yang cuma terobsesi meng-Gol-kan Presiden saja apakah
> bisa dikatakan modern ? Alasannya amanat Kongres. Hayoh Toh !
> Apakah itu yang dinamakan Pakem Standard ? Nanti keliru dengan Parem
> ( kocok) Standard? Ya ketinggalan, mas......
> Persis benar seperti yang anda ( Yap) katakan:
> "Seingat saya sejak PDIP konggres di Bali sampai berakhirnya Sidang Umum
MPR
> omongan PDIP ya cuma itu, berusaha memenangi Pemilu dan memperjuangkan
Mega
> menjadi Presiden. Dan ketika Capresnya ternyata kalah... Jadi bukan cuma
> simbol dong, tetapi memang sudah main transparan, sekalipun gagal."
>
> Anda nulis lagi :
> "Tentang ngamuknya pendukung Mega, saya dengar mereka merasa ada akrobat
> politik yang tidak wajar dalam proses persidangan SUMPR....lewat tengah
> malam pukul 02.10 setelah PPJ Presiden Habibie resmi ditolak
MPR,..........
> Apakah gerangan kompetensi kelima tokoh yang bukan Golkar ini sowan ke
Patra
> Kuningan bukan pada layaknya jam bertamu? Apakah dalam rangka modern, urut
> dan indah itu?..."
>
> Persis bung Yap. Kita jangan mengira sidang MPR adalah mainan anak
> bawah 17. Perundingan bisa alot , kejam, dan melelahkan. Jangan cuma
> terpaku pikiran ngeres dan porno saja. Perundingan seperti itulah yang
diha-
> dapi para businessman ketika berhadapan dengan orang Korea, Jepang,
> atau Amerika !. Ini urusan super penting !
>
> Yap :
> "Dari posting seorang netter disini ada info bahwa Amien Rais menerima
> limpahan dana Bank Bali konon dari Habibie. Apa berita itu hanya sekedar
> fitnah atau masih ada hubungannya dengan modern, urut dan indah itu?"
>
> Ini termasuk sisi kejamnya. Fitnah, pembunuhan karakter, jegal-jegalan.
> Tapi kita semakin tahu dan biasa. Kitapun tahu cara memperlakukannya:
> anggap Kentut saja !.
>
>
> Yap menulis ;
> "Tentang perngamukan itu, dalam skala yang berbeda kita juga melihat
> represifnya pendukung Gus Dur, sehingga seorang Mi'ing...
> Padahal apa kata Gus Dur? "Mi'ing itu teman kita".
> Perngamukan juga terjadi dikelompok Iramasuka dan di Makassar..
> Boleh dong dibilang kekecewaan, apalagi ketersinggungan dapat menghasilkan
> perngamukan grass root pada kelompok manapun, bukan hanya PDIP."
>
> Ya nggak boleh, dong! Kita semua mesti menolak pengamukan2 yang
> terjadi meskipun kita bisa mengerti. Tradisi bola Eropa menghukum Club
> yang pendukungnya main Holliganisme. Pemilik Club tidak bisa pura-
> pura bloon : Itu bukan dari warga saya ! Kuno. mas ! Apalagi kalau
> kerusakan yang ditimbulkan milyar2an. Pemilik Club wajib ngajari
> pendukungnya berkelakuan beradab meski tersinggung. Disitu akan diukur
> kemampuan sang manager. Yang ini terang masuk kepada modern, urut,
> dan indah itu.....
>
> Anda menulis :
> "........ Amien Rais sampai menggebrak meja, sehingga beberapa kali
> susunan Kabinet diubah. Dan bahkan kabarnya Gus Dur dengan piawai
> menempatkan SB Yudhoyono....................
> Apakah sikap Amien Rais ini sifat konsekuen memperjuangkan bawahan atau
> karena merasa telah memperjuangkan terpilihnya Gus Dur ..................
> Apakah sikap Megawati ini termasuk sikap mengalah demi kepentingan yang
> lebih besar atau sikap lemah?......................
> Tentang Gus Dur sendiri, saya bisa membayangkan, beliau menghadapi
> 'kekerasan' begitu dengan santai saja.......Survey membuktikan bahwa
> karena kebesaran Gus Dur-lah maka beliau di Capreskan........".
>
> Bung Yap, kita banyak mendapatkan berita burung. Sulit benar kita kalau
> diajak berspekulasi menilai orang. Manusia adalah makhluk Tuhan yang amat
> kompleks. Kitapun dari masing2 sumber telah mendapatkan keyakinan
> sendiri2. Saya umpamanya masih menilai Amin 8, Mega cuma 5. Bung
> Hihiik Yek mungkin menilai Amin cuma 2. Bung Gigih barangkali menilai
> Mega 10. Itulah guna pemilu. Memilih sesuai dengan keyakinan kita.
> Yang penting saya kira SU MPR yang lalu telah menyebabkan kita semua
> puas sebagian. Tidak total. Dari sini marilah kita beri kesempatan mereka2
> itu buat bekerja. Kita akan menilai mereka dari apa hasil riil mereka.
>
> Marilah kita berhenti meminyaki mata dan hati kita dalam melihat orang
lain.
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!