From: "Marto Blantik" <[EMAIL PROTECTED]>

>Hebat, argumentasi anda sangat hebat, cuma aku mau tanya demokrasi yang
>mempertontonkan keindahan itukah yang akan kita kembangkan ? Demokrasi yang
>jelas-jelas ingin mengabaikan suara rakyat melalui pemilu dengan berlindung
>dibalik aturan main, dan semua itu memang sah dan konstitusional. Suharto
>pun bisa seperti itu karena sesuai aturan main, sah, dan konstitusional.
>Argumentasi anda esensinya mirip dengan omongan Sarwono, saat mengomentari
>kekalahan beruntun PDIP. Saat baca Tempo minggu ini yang diceritakan
>bagaimana 'proses demokrasi' di MPR, aku jadi sadar bahwa rakyat sudah
>terlupakan sama sekali. Yang dipentingkan bagaimana memperoleh kekuasaan
>dengan cara yang indah, persetan dengan suara nurani, masa bodoh dengan
>hasil pemilu.

Kalau menurut saya tidak ada istilah "demokrasi yang mempertontonkan
keindahan", yang ada cuman "demokrasi", dan "keindahan" itu adalah bagian
dari demokrasi. Demokrasi yang berlaku di negeri kita ini adalah demokrasi
tidak langsung yang artinya mempercayakan pelaksanaannya kepada wakil-wakil
yang berada di lembaga legislatif, bukan dilakukan sendiri. Seperti kata
simBah, ibarat anak panah yang telah dilepas, kita sudah membiarkan anak
panah itu mencari sasarannya, tidak untuk ditarik lagi. Dan masalahnya
bukan rakyat sudah terlupakan, melainkan rakyat yang tidak melakukan
kontrol yang efektif terhadap wakil-wakil rakyatnya. Lagipula sebetulnya
keinginan rakyat (baca : pendukung PDI-P) itu apa sih? Megawati jadi
Presiden, atau perbaikan menyeluruh alias reformasi melalui platform PDI-P?
Kalau jawabannya yang kedua, mengapa harus sampai protes begitu, toh pada
intinya mengarah kepada tujuan yang sama, Presiden atau bukan, ya nggak?

>PDIP dalam pesta lulusan Orba kemarin sungguh seperti orang kampung, lugu,
>serba canggung dan kikuk, karena memang tidak pernah atau belum
>berpengalaman meliuk-liuk dengan cara yang indah. Dan itu terungkap dengan

>lugunya pada omongan Kwik 'kita dibohongi terus'. PDIP konsisten dengan
>pilihannya. Konsistensi ini (kebodohan orang lain bilang) memang harus
>dibayar mahal dengan kekalahan.Pendukungnya yang bingung dan merasa ada yang
>tidak beres dengan aturan main yang konstitusional, ngamuk, dan lagi-lagi
>mereka jadi barang cercaan karena berbuat haram menonjolkan otot dan
>memamerkan kebolehan mengocor darah seperti anda bilang. Kekerasan ini
>memang suatu  kebodohan dan senjata makan tuan, harusnya kalau mereka
>pinter, bikin sesuatu yang lebih mengena, boikot misalnya. Jangan heran bila
>di kalangan rakyat bawah, mereka bilang orang-orang pinter itu cuma pinter
>'minteri' (menipu). Dan model-model permainan seperti yang anda
>argumentasikan itulah yang terjadi di negara-negara miskin dunia ketiga,
>dengan pemain-pemainnya para kapitalis global.

Apa nggak terasa aneh menurut anda? Semestinya orang-orang PDI-P sebagai
'veteran' dari PDI zaman Orba dulu lebih tahu dan lebih berpengalaman dalam
cara-cara meliuk-liuk yang indah. Dan mereka adalah orang-orang yang
semestinya paling tahu bahwa politik itu tidak selalu indah dan
berbunga-bunga. Siapa yang salah? Dan kalau mereka ternyata kalah dalam
permainan nggak boleh ngambek dan ngomel gitu dong, yang salah bukan
peraturannya, tapi pemainnya. Mana ada pemain sepakbola yang beralasan
tidak masuknya tendangannya karena gawangnya kurang lebar? Play by the
rules, kalo gak bisa ya nggak usah ikutan main. Lagipula konsistensinya itu
menurut saya bukan jadi masalah, yang menjadi masalah adalah kok setelah
itu nggak ngapa-ngapain? Sama saja seperti Persebaya yang sesumbar akan
memenangi final Ligina tetapi pas pertandingan diem-diem aja, main defense
thok, nggak nyerang blas. Dapat skor aja boro-boro, apalagi menang?!? Dan
bagi para pendukung, kalau ternyata tidak sesuai dengan apa yang
diinginkannya mestinya ngomelnya ke wakil-wakil yang telah dipilihnya, kok
jadi begini hai wakil rakyat? Kok calonku gak dadi presiden opo'o hoiiii,
gebleg kuabeh, laopo aku dhisik milih sampeyan toh yo....dan
ngomong-ngomong soal negara miskin dunia ketiga, selama anda masih
berpendapat seperti itu maka Indonesia bakal terus menjadi negara miskin
dunia ketiga...kalau nggak kepingin ditipu en dibodohin, belajar! Para
pendahulu kita bisa melepaskan diri dari belenggu penjajahan dengan
belajar, bukan dengan senjata dan adu fisik saja.

>Marto Blantik
>solider sama PDIP tapi bukan pendukung PDIP

Solider tapi bukan pendukung? Koncoan ae mas....:-)


Wassalam,

Paladin A.
ICQ 50753984

>----- Original Message -----
>From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: Millis Kuli-Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Thursday, October 28, 1999 6:23 PM
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap
>
>
>>
>> From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>> >....menganggap bahwa kekuasaan itu adalah jatuhan dari langit.....  "
>> >  Ya gagal.
>> Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata

>> tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
>> setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
>> Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
>>
>> ===============================================
>> Saudaraku Yap yang saya hormati,
>> Anda mungkin kurang konsentrasi. Ron Moreau di Newsweek yang saya
>> kutip, bicara soal nihilnya "pola pikir" alias main ilmu batin. Saya kok
>> menduga itu betul. Jadi yang namanya "yang dogmatis dan pakem standard"
>> cuma ilmu mistis nunggu durian runtuh dari kahyangan. Di tahun 2000 ini,
>> "pola pikir" seperti itu ya diketawai banyak orang. Hasilnya pasti Gatot.
>> Gagal Total, seperti kenyataan yang membuat nangis banyak orang itu.

---CUT---



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke