From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
"Hebat, argumentasi anda sangat hebat.....
demokrasi mempertontonkan keindahan itukah yang akan kita kembangkan?
Demokrasi yang mengabaikan suara rakyat melalui pemilu dengan berlindung
dibalik aturan main ..memang sah dan konstitusional...........
aku jadi sadar bahwa rakyat sudah terlupakan sama sekali. Yang
dipentingkan bagaimana memperoleh kekuasaan dengan cara yang indah,
persetan dengan suara nurani, masa bodoh dengan hasil pemilu."
Mas Marto,
Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi perwakilan. Demokrasi
beradab yang punya aturan. Keindahan adalah jelmaan aturan bersama
yang dipatuhi. Gol indah yang tercipta dari posisi offside, tidak bisa
dihitung. Butuh pengertian pada aturan, dan butuh kedewasaan dalam
menerima putusan hakim .
Saya dan puluhan juta warganegara negeri ini yang was-was Mega jadi
Presiden tidak sedih melihat hasil SU MPR. Kami bahkan menganggap
wakil kami di SU MPR berhasil mendengar dan memperjuangkan hati nurani
kami. Puluhan juta yang lain sedih, bahkan menangis tersedu-sedu,
melihat Mega gagal diangkat. Mereka tentunya kecewa hatinuraninya
tidak menjelma jadi kenyataan. Jutaan lain di Sulawesi Selatan,
bagian dari puluhan juta warga yang pilih Golkar, masih marah dan
kecewa karena pujuan Nurani-nya Habibie dihujat habis2an dan
ditumbangkan pada sidang demokrasi.
Jadi "rakyat" mana yang terlupakan ? Suara nurani mana yang "persetan"?
Hasil pemilu yang mana yang di"masa-bodoh"kan ? Amat relatif. Ada
bagian mosaik bangsa yang gembira, ada yang sedih dan ngamuk ada
yang biasa saja. Itulah buah demokrasi yang baru kita cicipi. Sisi yang
satu manis rasanya. Sisi lain buah yang sama bisa getir, pahit atau
masam. Please, sadarilah hal ini.
Anda menulis lagi:
"PDIP ..seperti orang kampung, lugu, serba canggung dan kikuk,
karena memang tidak pernah atau belum berpengalaman meliuk-liuk dengan
cara yang indah."
Maaf banyak mas. Orang PDIP yang anggota MPR tidak sama dengan
yang ada di Klaten atau Sidoharjo. Mereka ngerti betul akan aturan. Mereka
fasih membuat aturan pula. Kecanggihan mereka sanggup mencemaskan
banyak orang tidak sekelompok seperti saya. Yang nonton liputan TV pada
SU MPR tahu betul. Siapa yang tidak tahu Sabam Sirait ? Siapa yang tidak
tahu Jacob Tobing? Lugu?Kampungan ? Banyak orang mesem, mas !
Anda sedang kemana ketika Jacob Tobing me-liuk-liuk indah di KPU ?
Kemudian anda bilang :
"Pendukungnya yang bingung dan merasa ada yang tidak beres dengan aturan
main yang konstitusional, ngamuk, dan jadi barang cercaan karena berbuat
haram memamerkan kebolehan mengocor darah seperti anda bilang."
.. mereka bilang orang-orang pinter itu cuma pinter 'minteri' (menipu).
Saya sependapat bahwa jutaan pendukung PDIP seperti pula dengan jutaan
pendukung partai lain adalah warga sederhana. Mereka tidak fasih pada
situasi dan pada aturan. Mereka memilih barang (PDIP) karena mereknya
Mega. Wajar sekali mereka bingung. Adalah kewajiban petinggi PDIP. Atau
kita-kita semua ( yang saya kira cukup terdidik) memberitakan yang benar
pada mereka. Bukannya malahan jadi bodoh dan membodohi mereka karena
membutuhkan nyawa dan darahnya demi menutupi malu kalah. Kalau ada
barang haram di SU MPR barang yang mana itu ? Kemukakan dengan
cara yang urut, jelas dan fair supaya bisa dibahas bersama. Kalau cuma
dugaan model paranormal atau keyakinan mati model "Pokoke", secara
dewasa, sudah layaknya kita jauhi.
Kemudian anda berpendapat:
"Dan model-model permainan seperti yang anda argumentasikan itulah yang
terjadi di negara-negara miskin dunia ketiga, dengan pemain-pemainnya para
kapitalis global."
Kekuatiran anda Insyaallah tidak akan terjadi. Sedih sekali kalau anda belum
bisa merasakan bangunnya fajar baru dinegeri ini ( cuma karena Mega kalah).
Anda yang amat fasih berekspresi dan peduli negeri adalah bagian jutaan
lain yang siap mengawal fajar demokrasi ini. Masih banyak yang harus kita
bangun dan perbaiki. Masih banyak yang harus kita mengerti. Masih banyak
yang harus kita kasi.
Wassalam.
Abdullah Hasan.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!