Maaf 3 hari belakangan saya keluar kota jadi tidak dapat segera membalas.
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 30, 1999 11:16 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/ Blantik
> Mas Marto,
> Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi perwakilan. Demokrasi
> beradab yang punya aturan. Keindahan adalah jelmaan aturan bersama
> yang dipatuhi. Gol indah yang tercipta dari posisi offside, tidak bisa
> dihitung. Butuh pengertian pada aturan, dan butuh kedewasaan dalam
> menerima putusan hakim .
>
> Saya dan puluhan juta warganegara negeri ini yang was-was Mega jadi
> Presiden tidak sedih melihat hasil SU MPR. Kami bahkan menganggap
> wakil kami di SU MPR berhasil mendengar dan memperjuangkan hati nurani
> kami. Puluhan juta yang lain sedih, bahkan menangis tersedu-sedu,
> melihat Mega gagal diangkat. Mereka tentunya kecewa hatinuraninya
> tidak menjelma jadi kenyataan. Jutaan lain di Sulawesi Selatan,
> bagian dari puluhan juta warga yang pilih Golkar, masih marah dan
> kecewa karena pujuan Nurani-nya Habibie dihujat habis2an dan
> ditumbangkan pada sidang demokrasi.
>
> Jadi "rakyat" mana yang terlupakan ? Suara nurani mana yang "persetan"?
> Hasil pemilu yang mana yang di"masa-bodoh"kan ? Amat relatif. Ada
> bagian mosaik bangsa yang gembira, ada yang sedih dan ngamuk ada
> yang biasa saja. Itulah buah demokrasi yang baru kita cicipi. Sisi yang
> satu manis rasanya. Sisi lain buah yang sama bisa getir, pahit atau
> masam. Please, sadarilah hal ini.
Saya bisa mengerti dengan argumen anda, bahwa begitulah aturan main di
Indonesia, tetapi aturan main yang bertentangan dengan dengan suara real
pemilu, yang notabene suara asli dari rakyat, apakah itu yang akan kita
kembangkan ? Aturan main yang sama itu pula yang melindungi Sukarno jaman
Orla dan Suharto jaman Orba. Sebelum aturan main yang aneh ini
diamandemenkan, ya kita balik dulu pada aturan tak tertulis yang menurut
saya bisa dijadikan pegangan yakni etika dan moral. Bukan suatu kebetulan
bila Cak Nur juga teriak-teriak tentang etika dan moral, bingungnya kita
melihat suatu hal yang baik dan buruk, seperti sudah saya postingkan lalu
(Cak Nur, kok tega-teganya). Saya pikir pernyataan itu ditujukan pada para
elite politik kita, bukan pada rakyat kebanyakan karena rakyat bawah kita
selalu mikirnya yang lurus-lurus saja. Kalau enggak ada etika dan moral,
kita selalu akan bilang, politik itu kotor, itu permainan cantik, dan tiap
lima tahun kita akan ribut lagi, darah lagi. Itu yang sebenarnya saya
tanyakan kepada anda Bung Hasan. Apa yang kita wariskan itu demokrasi yang
tiap lima tahun ribut dan berdarah-darah, permainan uang, permainan cantik,
apalagi masyarakat kita ini sangat feodal, yang kejam sekali pada rakyat
kecil, tetapi permisif dan mudah memaafkan meski elitenya menyimpang secara
moral? Permainan cantik kemarin sungguh berbahaya, dan bisa
memporak-porandakan Indonesia, apakah 5 tahun kita akan mengulangi hal yang
sama ?
Tabik
MB
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!